sarung dan baju koko
sarung dan baju koko

Sarung dan Baju Koko : Persilangan Budaya dalam Identitas Muslim Indonesia

Agama dan budaya serta tradisi memang tidak bisa dipisahkan. Orang yang bermaksud memurnikan agama dan melepas dari kebudayaan adalah cerita kosong yang tidak pernah membumi. Pada prakteknya, agama meletakkan ajaran dan nilai universalnya dalam budaya manusia.

Baju Koko, misalnya, telah identik dengan pakaian muslim Indonesia khususnya di hari lebaran. Bahkan sebutan untuk undangan agar memakai pakaian muslim diasosiasikan dengan baju koko ini. Para tamu undangan dari rakyat biasa hingga elite politik memakai baju koko sebagai identitas baju muslim Indonesia.

Baju koko terinspirasi dari pakaian tradisional orang Tionghoa yang bermukim di Indonesia. Pada mulanya nama pakaian ini disebut dengan Tui-Khim yang dikenakan sehari-hari dengan dipadukan dengan celana longgar atau kompreng.

Perbauran antara warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat Nusantara khususnya Betawi, pada akhirnya menjadikan pakaian ini menjadi pakaian bersama yang selanjutnya disebut dengan Tikim dengan baju dengan bukaan di tengah berkancing lima. Pada masyarakat Betawi baju itu dipadukan dengan celana Batik.

Penamaan baju ini disebutkan karena dianggap sebagai pakaian orang China yang dipanggil engkoh-engkoh. Ejaan itu pada akhirnya dipersingkat dengan sederhana dan lebih mudah dengan kata koko. Istilah baju koko pada perjalanan selanjutnya menjadi bagian dari identitas keislaman sebagai proses sejarah yang tidak bisa diurai kepastiannya.

Begitu pula dengan sarung. Kain sepotong yang dijahit pada kedua ujungnya berbentuk pipa atau tabung ini adalah identitas yang sangat lekat dengan muslim Indonesia khususnya kalangan pesantren. Sarung merupakan pakaian masyarakat yang dikenal dari Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Jawa.

Di masa Penjajahan Belanda, sarung identic dengan perjuangan melawan budaya Barat. Kaum santri konsisten memakai sarung sebagai bentuk perlawanan dari penjajahan budaya Barat. Hingga saat ini sarung telah menjadi identitas keagamaan yang dipakai pada ritual shalat dan silaturrahmi saat lebaran.

Sebagai bagian dari entitas budaya yang mewujud dalam identitas keagamaan, sarung dan baju koko hanyalah wadah yang tidak mengganggu subtansi ritual. Jika tidak memakai keduanya juga tidak menjadi persoalan. Perkawinan antara budaya dan agama adalah anugerah yang harus dimaknai sebagai pelanggengan nilai dan norma, bukan sebagai suatu yang saling bertabrakan.

Jika ditelisik lebih jauh, Menara masjid sejatinya bukan bagian dari peradaban Islam sejak Nabi Muhammad. Tetapi Menara tidak bisa dipisahkan dari arsitektur masjid saat ini dan menjadi salah satu simbol keagamaan.

Konon Menara masjid dibangun pertama kali pada dinasti Muawiyah di Kota Basrah untuk menyaingi Menara-menara lonceng gereja. Ada pula sejarah yang mencatat Menara sebagai adaptasi dari bangunan Yunani. Namun, apapun persis sejarahnya, Menara digunakan untuk menyuarakan adzan yang lantang sebagai panggilan shalat.

Saat ini Menara bukan ditempati muadzin, tetapi alat pengeras suara atau Toa. Apakah Menara sebagai identitas arsitektur masjid menjadi ilang? Tidak, Menara menjadi simbol baru keislaman yang didapatkan dari persilangan budaya dalam proses sejarah yang lama.

Di sinilah penting sekali melihat budaya dan agama tidak selalu dalam kerangka yang saling bertabrakan. Budaya adalah wadah kreasi manusia untuk menampung beragam nilai dan pandangan. Di situlah agama memasukkan unsur-unsur nilai religi yang bermanfaat untuk memuai nilai baru dan melanggengkan di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas.

Masih banyak identitas muslim Indonesia yang menjadi khas nusantara yang sejatinya tidak bertentangan dengan nilai ajaran Islam. Beduk di masjid bukan masalah bid’ah atau sesat, tetapi dilihat sebagai bagian dari identitas yang menjadi penanda keberagamaan. Meskipun sudah ada pengeras suara, beduk tetap bermanfaat dalam menyokong syiar sebagai penanda bangunan reliji membedakan dari bangunan lainnya.

Bijak dalam memahami persilangan budaya dan Islam di tengah identitas muslim Nusantara ini sangat terlihat dari sarung dan baju koko. Keduanya adalah persilangan budaya yang mewujudkan identitas keislaman khas nusantara yang berbeda dengan corak muslim lainnya.

Walaupun kini telah hadir identitas keislaman berbeda dengan munculnya baju gamis ala Pakistan dan Timur Tengah, bukan berarti sebagai bagian dari pertarungan. Bukan berarti yang tidak memakai baju gamis ala Timur Tengah bukan berarti tidak Islami. Atau yang memakai baju gamis berarti sangat Islami.

Identitas kebudayaan yang mewujud dalam agama hanyalah penanda cara berkomunikasi dalam ruang besar kebudayaan yang ada. Persilangan budaya pun akan terjadi. Berbaju gamis dengan sarung atau kopiah hitam bukan tidak mungkin muncul sebagai penanda identitas keagamaan. Namun, apapun nantinya, budaya dan agama harus dirawat dalam kerangka melanggengkan nilai universal agama di tengah masyarakat yang terus berubah.

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Check Also

KDRT

Jika Sering KDRT, Yakinlah itu Bukan Imammu yang Baik

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) beberapa kali mengemuka di ruang publik karena adanya aduan dari …

bom bunuh diri

Inilah Hadist yang Sering Disalahpahami untuk Nekat Aksi Bom Bunuh Diri

Beberapa anak muda yang baru mengenyam pengetahuan agama, tetapi memiliki militansi yang tinggi kerap dijadikan …

escortescort