Pada saat perayaan Natal, ada fenomena kerukunan hidup beragama yang barangkali hanya bisa dijumpai di Indonesia. Yaitu penjagaan terhadap gereja yang dilakukan oleh Banser, anak organisasi kemasyarakatan terbesar di Nusantara, Nahdlatul Ulama. Fenomena ini menjadi ciri khas tersendiri karena menampakkan begitu kentaranya hidup bersama yang rukun, damai dan harmoni. Sayangnya, hal ini tidak diikuti oleh Ormas lainnya.

Tindakan ini mendapat banyak apresiasi dari kalangan tokoh agama-agama yang ada di Nusantara. Namun demikian, tetap saja ada yang tidak setuju dan bahkan menghujat gaya Banser yang sejatinya ingin memberi contoh bagaimana hidup bersama yang baik ditengah keberagaman agama, naifnya lagi kritik dan hujatan tersebut justeru datang dari kalangan umat Islam sendiri. Aneh memang, kalaupun toh ada ragam pendapat hukum Islam soal ‘menjaga gereja’, semestinya pengkajian dilakukan secara detail dan komprehensif. Sehingga nalar beragama cenderung tidak stagnan dan kasar.

Salah satu faktor penting untuk menentukan keabsahannya adalah kajian sejarah. Disamping itu pula pemahaman terhadap perbedaan penduduk Bumi yang terjadi secara alamiah, sebagai sunnatullah dan tak terhindarkan. Maka mengetahui spirit ajaran Islam yang tertuang dalam al Qur’an dan hadis dan dirangkum secara ringkas melalui tujuan syariat Islam atau “Maqasid al Syariah” menjadi sangat penting.

Konstruksi Syariat Islam Menyikapi Perbedaan Agama

Pesan pokok agama Islam berangkat dan bertumpu pada nilai luhur ‘kasih sayang kepada semua makhluk’, atau ‘Islam sebagai rahmat untuk semesta’. Nilai luhur ini menjadi pijakan semua syariat Islam selanjutnya. Rahmat atau kasih sayang yang merupakan nilai paling luhur dalam Islam, mesti selalu hadir dalam wacana agama dan praktiknya, baik pada wilayah aqidah, syariat atau fiqih dan akhlak. Hadirnya nilai luhur tersebut sejatinya telah diperkenalkan oleh Allah, Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat seluruh semesta. QS. Surat al Anbiya’, 107 menyatakan “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Berdasar pada nilai luhur tersebut menjadikan syariat Islam selalu relevan dengan segala kondisi,  masa, tempat, dan semua manusia. Selain itu, nilai tersebut juga membingkai sebuah narasi bagi umat Islam untuk mengakomodasi semua tradisi, kebudayaan dan berinteraksi dengan pemeluk agama lain dengan tetap menjaga serta memelihara identitas agama Islam dan menghormati kekhususan budaya dan peradaban Islam itu sendiri. Toleransi terhadap agama lain namun tidak melupakan identitasnya sebagai muslim.

Di samping itu, dalam konteks tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di Bumi, al Qur’an berbicara kepada semua manusia, bahwa apa yang disampaikan oleh Allah ditujukan untuk semua manusia. Karena secara alamiah, semua manusia memiliki unsur  kesamaan dalam bentuk jasmani, rasa, nafsu, dan lainnya. Seluruh manusia sama dalam asal penciptaannya. Persamaan unsur ini memberikan peluang saling mengenal dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan dalam beribadah menyembah pencipta.

Allah mengingatkan bahwa semua manusia, ditengah perbedaan agama, ras, bangsa dan golongan, berasal dari asal yang sama. Peringatan ini supaya tumbuh kesadaran dalam diri semua manusia, bahwa apapun perbedaannya, manusia memiliki satu akar tunggal, tugas yang sama sebagai khalifah di Bumi dan kedamaian adalah cita-cita bersama.

Perbedaan adalah sunnatullah yang tak terbantahkan dan kasih sayang terhadap sesame dan bahkan kepada semua makhluk adalah anjuran kepada semua manusia tanpa membedakan perbedaan. Pada al Qur’an, surat al Nisa’,1 Allah memperingatkan, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

Pada ayat lain Allah berbicara kepada semua manusia, secara jelas dan tegas mengajak seluruh manusia untuk saling bergaul, saling kenal, dan untuk hidup bersama secara damai tanpa memandang latar perbedaannya, ras, budaya, asal usul.  Dalam surat al Hujurat, ayat 13, Allah menegaskan, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Syariat Islam sangat menjaga hak dan kehormatan manusia, bahkan tujuan syariat Islam atau ‘maqosid al Syariah’ berkisar pada soal menjaga manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang, yaitu memelihara darah, harta, akal, kehormatan dan nama baik. Supaya harmoni kehidupan manusia berjalan sesuai fitrahnya.  Syariat Islam menyeru kepada umat Islam dan seluruh manusia untuk selalu menjaga dan menghormati hak-hak dan kehormatan manusia yang lain. Di antara hak yang dimaksud adalah memilih agama dan beribadah, memilih madhab dan memilih agama.

Dalam konteks ini, sepenuhnya manusia bertanggung jawab hanya kepada Allah sebagai konsekuensi pilihannya. Allah telah memberikan garis batas yang tegas antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Oleh karena itu, keimanan sepenuhnya tanggung jawab manusia kepada penciptanya. Manusia tidak boleh melakukan pemaksaan dalam wilayah ini. ‘Tidak ada paksaan dalam agama’, titik.

Tradisi Menjaga Gereja Dalam Islam

Berdasar pada takaran syariat Islam yang telah dijelaskan di atas, maka menjaga, memelihara dan menghormati pemeluk agama lain dan rumah ibadahnya menjadi sesuatu yang niscaya, mesti, bahkan wajib karena merupakan konstruksi tujuan agama Islam yang menghormati hak seluruh manusia tanpa memandang latar belakang. Penegasannya, pada surat al Haj, 40, Allah berfirman, “ (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. Dengan demikian, maka manusia dengan segala macam perbedaan ras, suku, bangsa dan agama sesungguhnya merupakan peluang besar menciptakan peradaban di dunia secara sempurna.

Sejak semula, dalam rentang sejarah yang panjang, konteks keberagaman dan budaya yang berbeda selalu mewarnai kehidupan umat Islam. Hal ini terjadi sejak era awal Islam. Sejarah kenabian, memberikan fakta-fakta sejarah model hidup bersama dalam sistem yang berbeda. Diantaranya, umat Islam pernah mengalami kesulitan dalam memperoleh haknya, kebebasannya untuk beribadah menyembah Allah terkekang.

Saat itu mereka berjuang untuk mendapatkan hak tersebut dengan cara melakukan migrasi atau hijrah ke negeri yang menghormati hak manusia untuk menjalankan ibadah dan hak lainnya. Sebuah tempat dimana hidup bersama berjalan normal ditengah keberagaman dan perbedaan. Saat itu, umat Islam hijrah ke Habasyah, Etiopia. Di negeri ini, umat Islam melakukan partisipasi aktif dalam pembinaan hidup bersama yang damai dan penuh toleransi dalam keragaman yang ada. Masing-masing umat beragama bebas menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

Begitu pula ketika hijrah ke Madinah, umat Islam menegakkan pembelaan terhadap hak manusia dalam beribadah sesuai dengan keimanan dan keyakinan masing-masing pemeluk agama. Bukti paling nyata ketika Rasulullah menerima rombongan kaum krinten Najran di Masjid dan memberi ijin mereka untuk berdoa di tempat ibadah umat Islam tersebut. Hal ini terekam dalam kitab al Tabaqat yang ditulis oleh Ibnu Sa’ad yang menjelaskan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, beliau menyambutnya di Masjid Nabawi.

Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukannya di Masjid Nabawi. Sementara para sahabat berusaha melarangnya. Akan tetapi Rasulullah berkata, ‘biarkanlah mereka’. Sejarah ini memberikan argumentasi, di Masjid saja Rasulullah menghormati agama lain untuk beribadah, apalagi di tempat ibadah agama mereka. Kalau begitu, menjaga tempat ibadah merekapun lebih diperhatikan.

Hal ini kemudian dipraktikkan oleh Umar bin Khattab saat menjabat sebagai khalifah. Pada waktu pembebasan Yerussalem pada tahun 637 M. Saat pasukan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota tersebut, Uskup Sophronius sebagai perwakilan Bizantium dan kepala gereja Kristen menolak untuk menyerahkan Yerussalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

Utusan tentara Islam memberi kabar tersebut kepada Khalifah, setelah kabar diterima Umar bin Khattab dengan hanya menunggangi keledai dan satu orang pengawal langsung bertolak dari Madinah menuju Yerussalem. Dengan kesederhanaannya, Umar disambut Sophronius yang heran karena mendapati  seorang yang paling berkuasa dalam jajaran umat Islam hanya menyandang pakaian yang sangat sederhana. Tidak berbeda dengan pengawalnya.

Khalifah Umar diajak mengelilingi kota Yerussalem, salah satu tempat yang dikunjungi adalah Gereja Makam Suci. Menurut keyakinan Kristen Nabi Isa dimakamkan di Gereja ini. Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja, namun Umar menolaknya karena khawatir kalau beliau shalat disitu nanti umat Islam akan merubah gereja menjadi Masjid. Tindakan yang demikian menurut Umar adalah mendzalimi dan menghilangkan hak kaum Nasrani. Akhirnya beliau shalat di luar di Gereja yang kemudian hari ditempat tersebut dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Umar bin Khattab.

Selanjutnya, Umar bin Khattab sebagaimana kebiasaan umat Islam ketika menaklukkan sebuah kota, membuat perjanjian tertulis dengan penduduk Yerussalem untuk mengatur hak dan kewajiban antara umat Islam dan penduduk non Islam yang kemudian dikenal dengan “Perjanjian Umar bin Khattab”. Salah satu poin perjanjian tersebut memberikan jaminan terhadap jiwa, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa untuk meninggalkan agama asal mereka.

Inilah praktek umat Islam sepanjang sejarah dan peradabannya yang cemerlang, sejak masa awal telah menampilkan akhlak mulia yang penuh toleransi. Tak heran kalau dua ulama kesohor Mesir, Imam Laits bin Sa’ad yang ahli hadis juga faqih dan Imam Abdullah bin Luhai’ah seorang Qadli di Mesir, keduanya yang keilmuannya tak diragukan pada masa itu menjelaskan bahwa gereja-gereja di Mesir tidak dibangun kecuali pada masa Islam. Dan pada masa Kekhalifahan Harun al Rasyid dari Dinasti Abbasiyah, gubernur Mesir kala itu, Musa bin Isa memerintahkan untuk membangun kembali gereja-gereja yang dirusak oleh penguasa sebelumnya. Proyek tersebut menjadi program pemerintah termasuk anggaran biayanya. Sumber yang menjelaskan secara tuntas sejarah ini salah satunya adalah kitab ‘al Wulat wal Qadla al Kindy.

Dari sini menjadi jelas bahwa “Tradisi Menjaga Gereja” merupakan sesuatu yang penting karena telah ditorehkan dalam sejarah umat Islam yang penuh dengan semangat toleransi. Umat non Islam menjalankan ritual keagamaannya secara tenteram dan damai di rumah ibadah masing-masing. Rumah-rumah ibadah mendapat perlindungan dari kaum muslimin. Kehidupan beragama dengan berbagai perbedaannya hidup damai dan harmoni.

Untuk memperkuat sejarah di atas, dalam soal menjaga gereja dan rumah ibadah yang lain, paling tidak ada tiga fakta yang bisa disodorkan. Pertama, agama apapun tidak mengajarkan suatu bentuk eksploitasi terhadap agama lain. Kalau terjadi eksploitasi satu agama terhadap agama lain tak lebih karena rekayasa politik yang berambisi mencapai kekuasaan sehingga dengan kejam menggerus ajaran agama. akibatnya terjadi konprontasi antar agama yang merusak harmoni kehidupan beragama.

Kedua, pondasi pokok ajaran Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan memeluk agama sesuai dengan pilihannya. Karena pada prinsipnya, soal agama apa yang dipilih oleh manusia, menjadi tanggung jawabnya kepada Allah. Agama adalah soal pilihan.

Ketiga, al Qur’an telah menetapkan satu kaidah tentang hubungan umat Islam dengan pemeluk agama lain, terutama ahlul kitab. Allah berfirman, “ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. (al Mumtahanah, 8-9).

Ayat di atas mempertegas kepada siapa umat Islam harus berbuat baik dan berlaku adil seperti dicontohkan generasi awal Islam. Jika non Islam tidak memerangi umat Islam dan tidak mengusir mereka dari negerinya, maka tentu sangat dianjurkan untuk hidup bersama di bawah payung hukum yang mengedepankan sikap adil dan penuh kebaikan serta akhlak yang terpuji. Sebaliknya, jika karena perbedaan agama dan keyakinan kemudian non muslim memerangi umat Islam, mereka mengusir umat Islam dari negerinya, atau membantu orang lain untuk mengusir pemeluk Islam, tentu saja merupakan tindakan yang dzalim dan harus dilawan.

Disarikan dari risalah ‘Himayatul Kanais fil Islam’.