jihad
jihad

Selalu Teriak Jihad tapi Penuh Amarah, Tundukkan Hawa Nafsu adalah Jihad Akbar

Sepulang dari perang Badar Nabi berkata, “Kalian telah pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Para sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah”? Rasul menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu”.

Padahal kita tahu dari sejarah bagaiman dahsyatnya perang badar. Perang yang secara akal sulit dimenangkan oleh kaum muslimin dengan jumlah musuh tiga kali lipat dengan persenjataan lengkap. Namun dengan kesungguhan dan kegigihan umat Islam, musuh bisa dikalahkan.

Perang Badar tercatat sebagai perang paling dahsyat dan paling berat. Tetapi, pasca perang, Nabi memberitahu para sahabatnya bahwa perang yang dahsyatnya seribu kali perang Badar menanti di depan mata, yakni perang melawan hawa nafsu.

Bila dicerna, yang disampaikan Nabi benar-benar suatu kenyataan. Semua umat Islam harus bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk perang melawan hawa nafsu ini. Jika sampai kalah, urung dirinya memperoleh predikat mukmin sejati.

Contoh umat Islam yang kalah di medan jihad akbar ini adalah mereka yang mengorbankan kepentingan agama dibarter dengan kepentingan duniawi. Korupsi, mencuri, menyakiti, memfitnah, membunuh, dan segala kedzaliman dengan ragam bentuknya.

Saat ini, kekalahan sebagian umat Islam dalam memerangi hawa nafsu ditampilkan dengan cara menganggap diri paling baik dan benar. Ego diri paling benar ini senyatanya merupakan dorongan nafsu yang nyata. Tampak jelas sikap yang dikebiri hawa nafsu tersebut ditampilkan dalam bentuk radikalisme, dan sampai pada terorisme.

Nyata-nyata membunuh orang lain tanpa sebab yang diperbolehkan oleh agama adalah diharamkan, tapi karena telah dikuasai oleh nafsu maka bom bunuh diri dianggapnya jihad, padahal merupakan kejahatan yang diciptakan oleh hawa nafsu dan disamarkan seakan-akan perintah agama. Tak heran, seseorang yang dikangkangi oleh hawa nafsunya akan mampu berbuat kejam, bengis dan diluar batas kemanusiaan.

Baca Juga:  Omnibus Law Cipta Kerja Telah Disahkan, Bagaimana Sebenarnya Islam Melindungi Buruh?

Perang melawan hawa nafsu inilah yang sebetulnya dikhawatirkan oleh Nabi tidak akan mampu dimenangkan. Beruntung bagi umat Islam yang masih diberi kesempatan menghirup udara di bulan Ramadan. Puasa Ramadan dihadirkan untuk melatih umat Islam, sebagai persiapan turun ke medan jihad akbar, perang melawan hawa nafsu.

Momentum Ramadan seharusnya dijiwai untuk melaksanakan perkataan Nabi, “Kalian telah pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar”. Yakni, jihad melawan hawa nafsu. Untuk itu, puasa Ramadan bukan hanya menahan makan dan minum, tapi menjadi titik balik kebangkitan jiwa yang bersih. Titik balik menjadi manusia sesuai tugasnya sebagai khalifah di bumi dengan tujuan utama menyembah Tuhan yang mencipta semesta.

Sebagaimana disebutkan oleh para ulama pendahulu kita, diantara hikmah puasa adalah membersihkan jiwa dari kotoran yang dilekatkan oleh hawa nafsu dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Penderitaan kaum lemah, orang miskin, anak yatim, dan para janda yang tak mampu sejatinya penderitaan kita juga.

Puasa mengajarkan kepada kita, tidak ada sekat agama untuk menolong dan merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Bukankah agama tetap memberi pahala meskipun yang ditolong adalah non muslim?

Kalau begitu, pantaskah kita menyakiti atau bahkan membunuh padahal kita taat berpuasa? Apa arti puasa Ramadan kalau kita masih dibelenggu nafsu menganggap yang beda agama harus dimusnahkan, padahal mereka bersahabat dengan kita?. Untuk itu, mari jadikan momentum puasa Ramadan sebagai ajang untuk menjagal hawa nafsu bukan menjagal manusia dengan bommu.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

money politic

Fikih Politik (6): Hukum Money Politic

Suksesi politik kadang kelewat batas. Yang penting menang. Sekalipun menggunakan cara-cara tidak bermartabat. Demi mendapat …

merayakan kemerdekaan

Memaknai dan Merayakan Hari Kemerdekaan Sesuai Tuntunan Islam

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada 17 Agustus 2022 mendatang telah berumur 77 tahun setelah …