operasi caesar
operasi caesar

Selesai Operasi Kata Dokter Tidak Boleh Mandi Haid, Bagaimana Shalatnya?

Misalnya, seorang perempuan dioperasi karena kanker, tumor, kista dan penyakit lain yang cara pengobatannya harus dengan operasi. Selesai operasi ternyata darah haidnya telah tuntas. Tentu wajib shalat.

Tetapi, dokter menyarankan supaya jangan mandi untuk percepatan penyembuhan luka sebab operasi, atau khawatir luka tersebut tambah parah.

Dalam kondisi seperti ini apa yang harus dilakukan supaya dirinya bisa shalat? Apakah cukup tayamum atau boleh tidak shalat dan diganti (qadha’) setelah sembuh?

Bagaimanapun dan dalam kondisi apapun shalat tidak boleh ditinggalkan selama tidak ada sebab yang membolehkan seseorang boleh tidak shalat, haid misalnya. Kalaupun dokter melarang mandi sementara haid telah tuntas, tentu ada solusi hukum yang lain. Sebagaimana diketahui, hukum Islam diundangkan tidak dalam rangka untuk memberangkatkan kepada umatnya.

Syaikh Abdurrahman al Juzairi dalam kitabnya Al Fiqh ala Madzahib al Arba’ah menjelaskan fenomena wanita haid pasca operasi yang dilarang mandi oleh dokter.

Tulisnya, meskipun ada air tapi seseorang tidak boleh mandi karena sebab-sebab syar’i, hukumnya sama seperti seseorang tidak menemukan air. Solusinya adalah tayamum untuk setiap sesuatu yang mengharuskan seseorang untuk suci. Diantara sebab-sebab yang dimaksud adalah ada dugaan kuat seseorang bisa sakit apabila anggota badannya tersentuh air, atau penyakitnya akan bertambah parah, atau sakit yang diderita lama akan sembuh. Dan, semua itu harus berdasar pada petunjuk dokter muslim.

Madhab Maliki menambahkan, apabila tidak ada dokter muslim maka boleh berpegang pada petunjuk dokter non muslim. Dibolehkan juga tayamum kalau lumrah terjadi penyakit tersebut bertambah parah kalau terkena air, berdasar pengalaman pribadi atau orang lain. Sementara madhab Syafi’i berpendapat, menurut pendapat yang unggul pengalaman tidak membolehkan seseorang untuk tayamum kecuali atas dasar petunjuk dokter ahli sekalipun non muslim. Meskipun begitu, kalau seseorang tahu ilmu kedokteran atau ia seorang dokter, boleh bertindak atas dasar petunjuk dirinya sendiri. Boleh tayamum, namun shalatnya harus diulangi lagi (qadha’) setelah sembuh.

Baca Juga:  Tidak Masuk Kategori Penerima Subsidi Pemerintah, Haram Menerimanya!

Syaikh Dr. Wahbah al Zuhaili dalam kitabnya Al Fiqhi al Islami wa Adillatuhu menjelaskan, boleh bertayamum (ganti mandi janabah) meskipun ada air kalau seseorang khawatir pada kesehatan tubuhnya apabila penyakitnya tersentuh air, atau khawatir rusaknya fungsi salah satu anggota badannya, atau khawatir penyakitnya kambuh lagi, atau penyakitnya bertambah parah dan lama sembuhnya. Semua itu harus berdasar pada kebiasaan atau atas petunjuk dokter, sekalipun dokter non muslim menurut madhab Maliki dan Syafi’i. Sedangkan menurut madhab Hanafiyah dan Hanabilah harus dokter muslim.

Telah jelas jawaban tentang tema selesai haid tapi baru operasi dan dokter melarangnya mandi, maka harus tayamum dan shalat sesuai kemampuan; berdiri, kalau tidak bisa berdiri maka duduk, dan seterusnya.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

hilangnya Hajar Aswad

Kisah Hilangnya Hajar Aswad di Musim Haji

Pada tahun 317 H Abu Thahir Sulaiman, pemimpin gerakan Qaramithah, memberontak terhadap kepemimpinan Khilafah Dinasti …

bersetebuh dengan hewan

Kisah Ahli Ibadah Bersetubuh dengan Hewan

Beberapa hari yang lalu viral berita seorang laki-laki yang menikah dengan kambing. Prosesi pernikahan berlangsung …