Shalawat itu Bukan Tradisi, Tapi Zikir Ilahi

0
213

Di Indonesia shalawat menjadi kebiasaan dan tradisi masyarakat di berbagai pelosok daerah. Pada siang hari dan malam hari terdengar merdu dari masjid dan mushalla lantunan shalawat yang indah. Di berbagai momentum acara pernikahan, akikahan, dan majlis pengajian senandung shalawat disuarakan dengan nada yang sangat menyejukkan hati.

Apakah shalawat adalah murni tradisi masyarakat? Atau justru membaca shalawat adalah persoalan bid’ah? Apakah memang tidak ada perintah dan anjuran dalam Islam untuk bershalawat kepada Nabi?

Secara sederhana kita bisa ilustrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mencintai kekasih dan tokoh yang dikagumi, sebutan indah dan sanjungan selalu diberikan. Bahkan terkadang kita harus selalu menyebut dan menceritakan kebaikan seseorang karena kecintaan dan kebanggaan.

Lalu, apakah tidak boleh umat Islam mencintai pembawa risalah agamanya? Apakah tidak boleh umat Islam selalu menyebut, menceritakan dan menyanjung pujaan hati pembawa risalah Islam? Jika mencintai seseorang dan mengagumi tokoh saja kita selalu menyanjung dan mengidolakannya, kenapa tidak selalu menyanjung dan mengidolakan sang Nabi?

Patut ditegaskan bahwa bershalawat kepada Nabi bukan sekedar tradisi masyarakat, tetapi merupakan dzikir ilahi. Shalawat adalah salah satu perintah Tuhan kepada umat yang beriman. Bahkan bukan hanya perintah tetapi Allah dan malaikat pun bershalawat. Karena sebagai perintah Allah, sebagaian ulama mengatakan wajib selama hidupnya umat Islam minimal satu kali mengucapkan shalawat. Sementara jumhur ulama wajib ketika umat Islam mendengar nama beliau untuk bershalawat. 

Inilah Keutamaan Memperbanyak Shalawat

  • Shalawat adalah cara Allah dan malaikat memberikan anugerah kepada manusia tentang kehadiran manusia pilihan di muka bumi. Dialah Rasulullah. Allah dan Malaikat pun bershalawat kepada Nabi dan Allah memerintahkan orang beriman untuk membaca shalawat dan memberikan penghormatan kepada Nabi. Jadi sangat jelas bahwa bershalawat dan memberikan salam penghormatan adalah ajaran dan perintah Allah kepada umat Islam.

Allah menjanjikan pahala berlipat bagi mereka yang membaca shalawat. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Nabi Bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)

  • Shalawat adalah cara umat Islam mencintai Nabi. Membaca shalawat adalah sebuah ekspresi umat Islam mencintai sang Rasul. Orang yang mengaku cinta kepada sang pujaan tentu saja tidak akan pernah lupa untuk ingat dan selalu mengungkapkan salam dan penghormatan.

Kecintaan terhadap Nabi merupakan bentuk keimanan seorang hamba.

Dari sahabat Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah beriman seorang hamba sampai aku menjadi orang yang paling dia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan manusia seluruhnya (HR Bukhori Muslim).

  • Shalawat adalah cara umatnya selalu mengingat perjuangannya dan meneladani akhlaknya. Dengan kita selalu membaca shalawat semakin kita selalu mengingat risalah dan perjuangan sang Nabi. Dengan selalu mengingatnya umat ini akan selalu berada di rel yang benar dan lurus dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dengan selalu menucapkan shawalat dan salam umat Islam yang jauh setelah masa beliau selalu ingin meneladani akhlak Nabi dan selalu merasa Nabi selalu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.  
  • Shalawat adalah cara umat Islam menginginkan doanya selalu terkabul. Dengan mengawali dan mengakhiri doa dengan shalawat, umat Islam berharap segala doa yang diinginkan agar terkabul sebagai bentuk wasilah kepada Rasul. Dari sahabat Ali ra Nabi bersabda : Segala doa terhalangi (tidak dikabulkan), sampai dibarengi dengan ucapan shalawat atas Nabi Muhammad. Senada dengan hadist tersebut,  Sayyidina Umar ra berkata :

اِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالاَرْضِ لاَيَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى يُصَلِّى عَاَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya : Sesungguhnya doa itu tertahan antara langit dan bumi, tidak dapat naik sedikitpun daripada itu sampai ia mengucapkan shalawat kepada Nabinya saw (HR Tarmidzi).

  • Shalawat adalah cara umat Islam menghapus dosa. Dari Ubay bin Ka’ab, dari ayahnya Radhiyallahu anhuma, beliau berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, aku hendak memperbanyak shalawat kepadamu, berapa banyakkah aku harus bershalawat kepadamu?’Rasulullah menjawab: ‘Berapa saja sekehendakmu.’ Aku katakan: ‘Seperempat?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah suatu kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Setengah?’ Rasulullah pun menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Dua pertiga?’ Rasulullah menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Aku akan menjadikan shalawat kepadamu seluruhnya.’ Rasulullah bersabda: ‘Jika demikian, maka semua keinginanmu terpenuhi, dan dosamu akan diampuni. (HR Tirmidzi).
  • Shalawat adalah cara umat Islam mengharap syafaat di hari kiamat. Mendapatkan syafaat dan pertolongan Nabi ketika hari pembalasan sungguh menjadi impian seluruh umat Islam. Shalawat merupakan salah satu jalan untuk meraih syafaat tersebut. 

Dari Abdullah bin Mas’ud ra Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku. (HR. Tirmidzi). Dalam hadist yang lain dari Abu Darda’ Nabi bersabda : “Barangsiapa mengucapkan shalawat atasku sepuluh kali di waktu pagi dan sepuluh kali di waktu petang, niscaya ia mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.

Sekali lagi patut ditegaskan dan menjadi perhatian seluruh umat Islam bahwa membaca shalawat bukan tradisi, tetapi dzikir ilahi yang mempunyai banyak keutamaan dan manfaat. Apakah membaca shawalat boleh berjamaah bahkan dengan menghadirkan ribuan orang? Sungguh sangat mulia apabila shalawat bisa dibaca bersama-sama dalam satu majlis. Nabi bersabda: “Tidaklah suatu kaum duduk di majlis, kemudian mereka tidak mengingat Allah & dan tidak pula mengucap shalawat atas RasuIullah, kecuali hal itu menjadi penyesalan mereka di Hari Kiamat”.

Tentu kita tidak mau digolongkan sebagai orang yang menyesal. Karena itulah, mari perbanyak membaca shalawat baik sendirian maupun berjamaah dan baik siang maupun petang.