shalawat ngelik
shalawat ngelik

Shalawat Ngelik di Mlangi: Hasil Akulturasi Islam dan Budaya Jawa

Mlangi adalah sebuah dusun di D.I Yogyakarta. Secara administratif, Mlangi masuk menjadi bagian dari Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Keberadaan Mlangi sebagai sebuah wilayah, hampir sama tuanya dengan Kasultanan Yogyakarta.

Mlangi meng-ada sekira tahun 1757. Hanya berjarak dua tahun dari berdirinya Kasultanan Yogyakarta pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755. Pada era Kasultanan Yogyakarta, Mlangi menjadi wilayah Pathok Negoro atau tapal batas kasultanan.

Sebagaimana Kerajaan Mataram Islam, Kasultanan Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi empat bagian. Armantuti Artha dalam bukunya yang berjudul Yogyakarta Tempo Doeloe, Sepanjang Catatan Peristiwa Yogyakarta menjelaskan keempat bagian tersebut, yakni Kutanegara, Negoro Agung, Monconegoro dan Pesisiran.

Wilayah Pathok Negoro, termasuk Mlangi adalah wilayah yang berada di tengah-tengah antara Kutanegara dan Negoro Agung. Pada setiap wilayah Pathok Negoro, terdapat seorang ulama yang memiliki tanggung jawab menyebarkan agama Islam dan melaksanakan ritual-ritual keagamaan

Adalah Kyai Nur Iman atau Raden Sandiyo, putra dari Amangkurat IV yang menjadi tokoh sekaligus pendiri Mlangi. Ia adalah kakak dari Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama dari Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.

Kyai Nur Iman yang memilih jalur dakwah ketimbang menjadi bangsawan, diberikan tanah perdikan oleh kakaknya. Berkat usulannya pula, Sultan HB I kemudian menetapkan empat wilayah di penjuru mata angin menjadi wilayah Pathok Negoro.

Pada tiap-tiap wilayah tersebut, dibangun sebuah masjid sebagai pusat keagamaan. Masjid-masjid tersebut, dikenal dengan nama Masjid Pathok Negoro yang hingga kini keberadaannya masih lestari.

Bertempat di Masjid Pathok Negoro Mlangi, Kyai Nur Iman mulangi atau mengajari masyarakat mengaji ilmu-ilmu keagamaan. Bukan itu saja, Kyai Nur Iman tidak hanya menjadikan Masjid Pathok Negoro Mlangi sebagai pusat penyebaran agama Islam. Tetapi juga sebagai media penguatan kebudayaan keraton, pengadilan perdata atau pengadilan surambi, juga penanaman jiwa patriotisme kepada kader-kader pejuang kemerdekaan.

Baca Juga:  Masjid Saksi Sejarah Perpindahan Kiblat Umat Islam

Sebagai seorang ulama keturunan bangsawan keraton, Kyai Nur Iman kental sekali dengan tradisi-tradisi jawa keraton. Oleh karena itu, Kyai Nur Iman kemudian mengembangkan tradisi-tradisi Jawa yang ada di keraton lalu mengkreasikannya dengan budaya-budaya Islam.

Salah satu kebudayaan hasil kreasi Kyai Nur Iman adalah tradisi shalawat ngelik yang digelar untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw. Tradisi ini digelar di Masjid Pathok Negoro Mlangi sebagai pusat peribadatan warga Mlangi.

Shalawat ngelik adalah tradisi pembacaan maulid nabi dengan menggunakan nada-nada khas seperti tembang-tembang jawa. Cara pembacaannya menggunakan teknik suara dalam yang memekik disertai dengan hentakan tepuk tangan yang menunjukkan ekpresi kegembiraan menyambut kelahiran Nabi Muhamamd Saw. Karena tingkat kesulitannya, tidak semua warga Mlangi bisa melantunkan shalawat ngelik. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa, itu pun harus melalui latihan berulang kali secara istiqomah.

Islam Berdamai dengan Budaya

Shalawat ngelik adalah salah satu bukti bahwa Islam bisa berdamai dan tumbuh berdampingan dengan kebudayaan local. Perayaan maulid nabi sejatinya adalah tradisi Islam. Tradisi perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw., ini diperkenalkan oleh Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir tahun 909-1171 M.

Saat itu, setiap bulan Rabi’ul Awal tiba, khalifah mewajibkan masyarakat menyenandungkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Tradisi tersebut bahkan dijadikan sebagai tradisi resmi negara sebagai legitimasi politis bahwa dinasti Fatimiyah adalah dinasti yang berdasarkan garis keturunan Nabi.

Ketika Dinasti Fatimiyah tumbang dan digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, tradisi perayaan maulid nabi tersebut tetap lestari. Bahkan pada masa pemerintahan Salahudin al-Ayyubi, peringatan maulid nabi berubah menjadi sebuah perayaan yang diselenggarakan hampir di setiap kawasan dunia Islam. Tradisi ini juga dijadikan sebagai penyemangat umat Islam yang saat itu sedang menghadapi ancaman tentara Salib.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (15) : Kitab Sullam al Mubtadi Karya Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani

Ketika Islam masuk ke Nusantara, tradisi maulid nabi ikut serta. Tradisi tersebut kemudian menyatu bakan berkolaborasi dengan tradisi-tradisi yang ada di Jawa.

Tradisi menyanyikan tembang-tembang jawa macapat adalah budaya jawa, yang juga berkembang di Mlangi berkat Kyai Nur Iman. Oleh Kyai Nur Iman, tradisi nembang tersebut kemudian diakulturasikan dengan tradisi perayaan maulid nabi. Lalu lahirlah tradisi baru bernama shalawat ngelik. Sebuah tradisi perayaan maulid nabi dengan melakukan pembacaan kitab maulid menggunakan nada atau langgam ala tembang-tembang macapat.

Hal itu sekali lagi membuktikan bahwa para ulama penyebar Islam di Nusantara, khususnya di Jawa tidak anti terhadap kebudayaan. Mereka malah mengawinkan budaya Islam dan Jawa. Lalu lahirlah kebudayan baru yang tentunya tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Semoga kita bisa mengambil sebuah pelajaran. Bahwa Islam tidak anti terhadap kebudayaan. Sebaliknya, Islam bisa selaras dan hidup berdampingan bersama budaya.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …