Abu Dzar al Ghifari

Abu Dzar al Ghifari: Pemimpin Oposisi yang Tegas, Tapi Santun

Sejak masa Rasulullah sampai kepemimpinan Umar bin Khattab, suasana di tubuh umat Islam tenang dan tenteram. Hal ini karena pemimpin waktu itu memiliki ketegasan dan kejujuran. Umat Islam tidak terjebak ke dalam pola hidup yang konsumerisme dan cinta dunia yang berlebihan. Sehingga hubungan antara pemimpin dan masyarakatnya berjalan elok. Sama-sama menghendaki kemaslahatan hidup yang mampu dinikmati oleh semua kalangan.

Akan tetapi, pasca kepemimpinan Umar bin Khattab, khalifah yang sangat adil dan mengagumkan, seorang tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, ada celah begitu lebar dalam tubuh kaum muslimin. Kondisi yang jauh berbeda dibanding keadaan sebelumnya. Baru saja, khalifah Umar wafat, timbul gejala yang tak terelakkan dan tidak terbendung oleh kekuatan tenaga manusia. Bak banjir bandang yang meluluh lantakkan. Khalifah ketiga, Utsman bin Affan dan begitu pula Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang keempat yang juga adil dan bijaksana merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Abu dzar.

Pada saat Islam telah mengepakkan sayapnya ke penjuru Bumi, bersama itu pula seolah berkah tercurah deras dari langit, tanah yang dipijak Islam menumbuhkan kemakmuran hidup yang luar biasa. Makmur, kekayaan melimpah dan kemewahan hidup. Faktor ini menyeret mereka yang tidak dapat menahan godaan dunia terjerumus ke dalam kemewahan yang melebihi batas.

Baca juga : Kisah Rasulullah Menghibur Sahabat Saat Hijrah ke Madinah   

Adalah Abu Dzar al Ghifari, salah seorang sahabat yang tegas dan pemberani melihat kenyataan ini sebagai suatu bahaya yang mengancam. Kepentingan pribadi yang melebihi batas ukurnya hampir saja menyeret orang-orang yang tugas utamanya untuk menegakkan kalimat tauhid, meneruskan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah sebagai cita-cita yang agung dan mulia. Selangkah lagi, mereka akan tertipu oleh dunia yang mempertontonkan daya tarik dan tipu muslihat yang sangat mempesona. Orang-orang yang di pundaknya memikul beban menyampaikan risalah untuk menyemai dan menanam kebajikan, hampir-hampir bertekuk lutut di bawah kemewahan dunia.

Hasil kekayaan bumi yang sengaja dilimpahkan oleh Allah supaya dinikmati oleh semua lapisan dan golongan masyarakat dengan hak yang sama, dimonopoli oleh sebagian pemimpin dan pejabat. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat, beralih fungsi sebagai alat untuk merebut kekuasaan, kekayaan dan kemewahan yang menghancurkan.

Abu Dzar melihat kesenjangan itu dengan hati yang miris, iba dan sekaligus geram. Dalam pikirannya, tidak ada alternatif untuk menyelesaikan fenomena yang menyesakkan dadanya, kecuali dengan ‘pedang’ yang terhunus, mengacungkannya ke udara dan mengayunkannya. Kemudian ia bangkit berdiri dan menantang semua pejabat korup dan orang-orang yang melakukan kesewenangan dan menyimpang dari ajaran Islam dengan pedangnya yang sangat tajam.

Akan tetapi, ia urung melakukannya saat teringat apa yang disampaikan oleh Rasulullah kepadanya. Suatu hari Rasulullah bertanya kepadanya, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk kepentingan pribadi?”. Abu Dzar menjawab, “Demi Dzat yang telah mengutusmu untuk kebenaran, aku akan menebas mereka dengan pedangku”. Lalu Rasul bersabda kepadanya, “Maukah kamu bila aku memberikan jalan yang lebih baik dari pada itu? Yakni bersabar sampai engkau menemuiku”.

Sejatinya Rasulullah telah mengetahui, bahwa Abu Dzar akan diperhadapkan dengan realitas seperti itu dalam hidupnya. Itulah sebabnya, beliau bermaksud memberikan nasehat dan bekal kepada Abu Dzar untuk menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Diapun memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya. Karena tidak sepantasnya ia mengacungkannya ke wajah seorang muslim. Abu Dzar juga ingat kepada firman Allah, “Dan tidak patut bagi orang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). (al Nisa’; 92).

Rasulullah pernah menyatakan di hadapan para sahabt-sahabatnya bahwa di bawah langit ini tidak akan ada seorangpun yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar. Orang yang memiliki kemampuan mengolah kata dengan tepat dan jitu. Satu kalimat yang diucapkannya akan lebih tajam dan hasilnya lebih maksimal dari pada pedang walau sepenuh bumi.

Baca juga : Belajar Cinta kepada Julaibib Sahabat Buruk Rupa dengan Bekal Takwa 

Oleh karena itulah, dengan senjata kebenarannya, ia pergi menjumpai para pembesar dan kaum hartawan dan orang-orang yang cenderung menumpuk harta kekayaan yang membahayakan agama, ia berkata lantang menusuk ke relung-relung hati terdalam bahwa agama datang untuk membimbing manusia supaya lebih manusiawi bukan untuk menarik upeti. Sebab kenabian bukan suatu kerajaan. Agama menjadi rahmat dan karunia, bukan adzab dan kesengsaraan. Agama mengajarkan kerendahan hati, bukan kesombongan diri. Agama menekankan persamaan, bukan pengkastaan. Islam yang dibawa Rasulullah mengajarkan arti penting kesahajaan, bukan keserakahan. Kesederhanaan, bukan pemborosan. Kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup, bukan kelalaian dan kerusakan.

Dan, Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta. Dengan lisannya yang tajam dan benar dengan akhlak dan santun, ia mengubah sikap mental mereka satu persatu. Tidak butuh waktu lama, ia mampu merubah pola dan gaya penguasa, pembesar dan mereka yang rakus akan harta kembali pada tuntunan agama yang benar. Sikap arif bijaksana, santun dan akhlak mulia yang dikedepankan untuk mengingatkan mereka yang terjebak bujuk rayu dunia yang mempesona, menuai hasil yang gemilang tanpa anarkisme, apalagi pemberontakan.

Wallahu A’lam.

 

Comment

LEAVE A COMMENT