Ketika Rasulullah Saw. Berolahraga

Ketika Rasulullah Saw. Berolahraga

Menjalani hidup, tentu tidaklah selalu berada pada titik kebahagiaan. Ada kalanya, setiap di antara kita, mengalamai apa yang lazim disebut jenuh dan bosan. Maka, di antara cara untuk mengatasi problem itu, dibutuhkan aktivitas yang dapat menghibur, melepas penat, seperti olahraga.


Berolahraga bukanlah kegiatan yang dilarang oleh agama. Olahraga, justru pernah dilakukan pula oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Berikut ini beberapa jenis olahraga yang pernah dilakukan oleh para sahabat, dan nabi membiarkannya, dan bahkan ikut terlibat dalam olahraga tersebut.


Pertama, lomba lari cepat. Para sahabat dulu biasanya mengadakan perlombaan lari cepat, sedang Nabi sendiri mengiyakannya. Ali adalah salah seorang yang paling cepat. Rasulullah saw. sendiri mengadakan pertandingan dengan istrinya guna memberikan pendidikan kesederhanaan dan kesegaran.


Aisyah mengatakan : “Rasulullah bertanding dengan saya dan saya menang. Kemudian saya berhenti, sehingga ketika badan saya menjadi gemuk, Rasulullah bertanding lagi dengan saya dan ia menang, kemudian ia bersabda: Kemenangan ini untuk kemenangan itu” (HR. Ahmad dan Abu Daud).


Kedua, olahraga gulat. Rasulullah saw. pernah gulat dengan seorang laki-laki yang terkenal kuatnya, namanya Rukanah. Permainan ini dilakukan beberapa kali (HR. Abu Dawud). Dari keterangan ini, Rasulullah Saw. tidak memposisikan diri sebagai orang yang memiliki kasta dan strata sosial yang tinggi, tapi mau berbaur dengan sahabat lain.


Baca Juga : Cucu Rasulullah: Ksatria Karbala Pioner Kemanusiaan


Ketiga, memanah. Suatu ketika Rasulullah Saw. pernah berjalan-jalan menjumpai sekelompok saha-batnya yang sedang mengadakan pertandingan memanah, maka waktu itu Rasulullah saw. memberikan dorongan kepada mereka dengan sabdanya, “Lemparkanlah panahmu itu, saya bersama kamu” (HR. Bukhari).


Pertandingan memanah itu bukan sekedar hobby atau bermain-main saja, tetapi salah satu bentuk daripada mempersiapkan kekuatan sebagai yang diperintah Allah dengan firman-Nya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditam-batkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan Musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah Mengetahuinya” (QS Al Anfal 8:60).


“Kamu harus belajar memanah karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (HR. Thabrani) Namun Rasulullah saw. memperingatkan para pemain agar tidak menjadikan binatang-binatang jinak sebagai sasaran latihannya.


“Sesungguhnya Rasulullah Saw. melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran memanah” (HR. Bukhari dan Muslim). Mengapa demikian? Karena terdapat unsur penyiksanaan terhadap binatang dan merenggut jiwa binatang.


Keempat, menunggang kuda. “Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah mengadakan pacuan kuda dan memberi hadiah kepada pemenangnya” (HR. Ahmad). Berkatalah Umar , “Ajarlah anak-anakmu berenang dan memanah dan perintah-lah mereka supaya melompat di atas punggung kuda”.


Kelima, bermain anggar. Rasulullah Saw. telah memberi perkenan kepada orang-orang Habasyah (Ethiopia) bermain anggar di dalam Masjid Nabawi dan ia pun memberi perkenan pula kepada Aisyah untuk menyaksikan permainan itu.


Umar, karena wataknya tidak suka bermain-main, maka dia bermak-sud akan melarang orang-orang Habasyah yang sedang bermain itu, tetapi kemudian dilarang oleh Nabi. “Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain anggar di hadapan Nabi, tiba-tiba Umar masuk, kemudian mengambil kerikil dan melemparkannya kepada mereka. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Umar: biarkanlah mereka itu, hai Umar” (HR. Bukhari dan Muslim).


Pengarahan Nabi dalam mendidik dan memberikan hiburan hati istri-istrinya, yaitu dengan memperkenankan permainan yang mubah seperti ini, sehingga kata Aisyah, “Sungguh saya saksikan Nabi membatas saya dengan selendangnya, sedang saya melihat orang-orang Habasyah itu bermain di dalam masjid, sehingga saya sendiri yang merasa bosan. Mereka itu lincah selincah gadis muda belia yang masih suka bermain” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hal itu merupakan suatu kelapangan dari Rasulullah Saw. dengan mengizinkan permainan seperti ini dilakukan di Masjidnya yang mulia itu, agar di dalam masjid dapat dipadukan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi; dan sebagai suatu pendidikan buat kaum muslimin, agar mereka suka bekerja di waktu bekerja dan bermain-main di waktu main-main. Di samping itu, bahwa permainan semacam ini bukan sekedar bermain-main saja, tetapi suatu permainan yang bermotif latihan.


Para ulama berkata, seperti yang ditulis oleh Yusuf Qardhawi (1990), bahwa masjid dibuat demi kepentingan urusan kaum muslimin. Oleh karena itu apa saja yang kiranya bermanfaat untuk agama dan manusia, maka bolehlah dikerjakan di masjid. Kiranya kaum muslimin di zaman sekarang mau memperhatikan, mengapa masjid-masjid dikosongkan dari jiwa yang hidup dan sebuah kekuatan.


*Ali Usman, aktivis sosial, pengurus Lakpesdam PWNU Yogyakarta

Comment

LEAVE A COMMENT