Kisah Raibnya Sumur Zam Zam

Asal Muasal Sumur Zamzam


رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفِۡٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ 


“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim; 37).


Inilah doa Nabi ibrahim sesaat setelah meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Baitullah, Makkah. Saat itu, Makkah masih berbentuk gurun tandus, padang pasir yang sulit ditemukan mata air. Daerah yang yang tak berpenghuni. Beriklim sangat panas. 


Di tempat inilah Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar beserta anaknya Isma’il yang masih balita. Bekal yang dibawa saat itu hanyalah sekantong air dan sedikit kurma.


Siti Hajar terus-menerus menyusui Nabi Ismail sampai tak terasa perbekalan air dan kurma hampir habis. Pada akhirnya, Siti Hajar sudah tidak bisa menyusui lagi. Air susunya kering, Nabi Ismail mulai kehausan dan terus menangis dengan keras. Siti Hajar panik tak tau apa yang harus ia kerjakan.


Lalu, Siti Hajar naik menuju Bukit Shafa sembari menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan orang yang dapat membantunya. Akan tetapi, tak ada satu pun manusia yang tampak di gurun yang tandus itu. Kemudian, ia menuju Bukit Marwah dengan harapan yang sama. Ia berkata, “Seandainya aku terus berlari-lari kecil, pasti fisikku akan lemah. Dan seandainya anakku meninggal, aku kelak tak akan bisa melihatnya kembali.”


Akhirnya, setelah bolak-balik sebanyak tujuh kali, saat ia turun dari Bukit Marwah, Siti Hajar mendengar suara aneh dari arah Baitullah. Setelah didekati, ternyata, suara itu adalah malaikat yang sedang mengepakkan sayapnya sehingga keluar mata air yang sangat jernih. 


Melihat air memancar sangat deras, Siti Hajar pun mendekatinya dan membuat gundukan di sekitarnya agar air tidak mengalir ke mana-mana.(Lihat, Said Bakdas, Fadlu Maau Zamzam; 29-31, Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad, Attabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu; 179)


Raibnya Sumur Zamzam


Sepeninggal Nabi Ismail, salah satu kabilah dari Yaman yang dikenal dengan nama Jurhum datang dan tinggal di Makkah. Mereka senang tinggal di Makkah karena terdapat air Zamzam yang jernih dan segar yang sepanjang hidup mereka belum pernah menemukan air seperti ini. Sumur Zamzam telah menjadi sumber penghidupan bagi mereka.


Akan tetapi, pola hidup dan tingkah laku kabilah ini sangat kejam dan tidak manusiawi. Mereka lupa diri, bahkan berlaku zalim terhadap orang yang mengunjungi Makkah. Dengan kejam mereka berani memakan harta yang dihadiahkan untuk Baitullah dan merampas harta benda orang lain yang hidup di sekitarnya. Padahal, pada waktu itu tidak diperkenankan melakukan segala bentuk kedzaliman di tempat ini.


Akibatnya Allah mencabut nikmat yang ada pada mereka. Air Zamzam yang menjadi nikmat terbesar dan sumber penghidupan utama mereka mulai menyusut. Adzab Allah ini tidak lain karena disebabkan  perilaku dan sikap Kabilah Jurhum yang semakin brutal. Pada kurun waktu yang tidak terlalu lama, sedikit demi sedikit sumber air sumur Zamzam semakin mengecil. Dan akhirnya tertutup sama sekali. 


Tingkah pongah kabilah Jurhum ini membawa petaka bagi orang-orang di sekitarnya. Sampai pada suatu ketika Bani Khuza’ah memerangi mereka. Peperangan ini dimenangkan oleh Bani Khuza’ah. Semua Kabilah Jurhum diusir dari Makkah, tidak ada yang tertinggal. Pada akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, sumur Zamzam semakin tertutup dan tak terlihat. Lenyap seakan ditelan bumi.


Ada kisah lain yang menceritakan, raibnya sumur Zamzam karena ditutup atau dikubur oleh kabilah Jurhum. Riwayat lain menyebutkan sumur Zamzam tertutup sebab banjir bandang yang menimpa kota Makkah. Akibatnya, sumur Zamzam hilang dalam waktu yang cukup lama.


(Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad, Attabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu; 280, Said Bakdas, Fadlu Maau Zamzam, 35-36).


Proyek Penggalian Sumur Zamzam 


Menurut Imam Suhaili, penggalian sumur Zamzam yang dilakukan oleh Abdul Muthalib, dimulai menjelang lahirnya Rasulullah, yakni sebelum tahun gajah. Demikian juga Imam Taqyuddin Alfasy, dalam karyanya Syifa al Gharam, beliau mendukung apa yang diungkapkan oleh Suhaili. 


Taqyuddin mendasarkan pendapatnya pada hadits yang yang diriwayatkan oleh Ali bin Thalib; beliau menuturkan bahwa kakeknya, Abdul Muthalib saat menggali sumur Zamzam baru mempunyai satu putra, yakni Harits. Berdasar pada fakta ini bisa dikatakan bahwa ayahanda Rasulullah dan paman-paman beliau yang lain belum lahir. Kalau begitu, pendapat yang mengatakan bahwa penggalian sumur Zamzam oleh Abdul Muthalib dikerjakan setelah tahun Gajah adalah salah.(Said Bakdas, Fadlu Mai Zamzam;37)


Adalah Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Rasulullah yang menemukan kembali sumur yang telah lama hilang. Setelah beliau mendapat isyarat melalui mimpi. Syahdan, ketika sedang tidur,  ia mendengar suara yang mengatakan, “Galilah thibah!” Abdul Muthalib bertanya, “Apa thibah itu?” Suara itu terdengar lagi, “Galilah zamzam!” Paman Nabi ini bertanya lagi, “Apa itu Zamzam?” Suara itu kembali terdengar, “Mata air yang tidak akan berhenti selamanya dan tidak akan terputus untuk memberi penghidupan untuk jamaah haji yang mulia.” (Attabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu; 280, Said Bakdas, Fadlu Mai Zamzam;39-40).


Dalam mimpi itu juga diterangkan lokasi yang akan digali. Beliau lalu mendatangi tempat yang ditentukan tersebut bersama kaumnya, beliau memulai mencoba untuk menggalinya. Tempat Zamzam yang ditunjukkan ternyata sangat kering, seolah-olah tidak mungkin ada sumber air sebelumnya. Proyek penggalian berlangsung rumit, banyak orang yang mengikutinya menjadi putus asa. Bahkan meninggal dunia.  Penggalian ini sempat tertunda. 


Melihat kondisi ini, Abdul Muthalib sampai bernadzar, “Seandainya penggalian sumur Zamzam berhasil secara sempurna dan mata air mengalir kembali, maka jika aku dikaruniai sepuluh orang anak laki-laki, salah satu di antara mereka akan disembelih.”


Allah SWT mendengar keluh kesah Abdul Muthalib dan memberi karunia berupa sepuluh orang anak laki-laki dari enam wanita yang dinikahi oleh Abdul Muthalib, yaitu Al-Haris, Abdullah, Abu Thalib, Az-Zubair, Al-Abbas, Dhoror, Abu Lahab, Al-Ghaidaq, Hamzah, dan Al-Muqawwam.


Kehadiran sepuluh putranya memberi semangat baru bagi Abdul Muthalib untuk memulai penggalian sumur zamzam yang sempat terhenti. Dengan izin Allah SWT, penggalian sumur Zamzam berhasil. Kemudian untuk memenuhi nadzarnya, Abdul Muthalib mengundi di antara sepuluh putranya. Setelah berkali-kali dilakukan, ternyata undian tetap jatuh pada Abdullah, putra kesayangannya. Abdul Muthalib mengundang Bani Makhzum dan para pemimpin kabilah Quraisy.


Baca juga : KETIKA NABI MUHAMMAD MENIKAHI PEREMPUAN YAHUDI


Ibnu Hisyam menjelaskan dalam bukunya “Sirah Nabi”, “Ketika Abdul Muthalib membawa Abdullah untuk disembelih, Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Mahzum mengatakan:  “Demi Allah, jangan sekali-kali engkau menyembelihnya untuk selamanya sampai engkau dapat menghindarinya. Apabila kita bisa menggantinya dengan harta, maka lebih baik kita menggantinya.” 


Orang Quraisy tetap tidak setuju dengan cara mengorbankan salah satu putra beliau. Mereka khawatir kelak hal ini akan menjadi kebiasaan orang Arab dan orang Makkah.

Setelah sekian lama berdebat, akhirnya Abdul Muthalib berdoa kepada Allah. Dan akhirnya diputuskan bahwa ia menyembelih seratus ekor unta sebagai ganti nadzarnya. Pelanggaran nadzar ini disebut dengan diyat (denda). Dan itulah denda pertama kali kemudian ditetapkan dalam syariat Islam sebagai denda untuk pelanggaran tertentu di Tanah Haram. ( Said Bakdas, Fadlu Mai Zamzam;45).


Kalau dianalisa lebih lanjut, maka akan ditemukan fakta bahwa raibnya sumur Zamzam berlangsung cukup lama. Karena tenggang masa antara Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad adalah 3.469 tahun. Sungguh ini suatu keajaiban. Dan kalau dihitung sampai sampai saat ini, umur sumur Zamzam telah berumur 4.942 tahun. Hampir mencapai lima ratus tahun dan tetap menjadi karunia penduduk Makkah, bahkan seluruh umat Islam yang berbondong-bondong untuk merasakan air bersejarah tersebut/


Wallahu a’lam


Muhammad Sada’i


Comment

  • Abdul Hamid
    1 week ago
    Baru tau saya..sangat bermanfaat. Menyebar ilmu dengan model seperti ini lebih efektif. Ditunggu tulisan berikutnya.
  • Saniwar Beni
    1 week ago
    Mukjizat yang luar biasa. Kalo bisa manfaatnya juga ada yg nulis supaya lengkap.
  • Abdullah al Qadri
    1 week ago
    Ajib..tulisan yang indah, benar-benar menambah ilmu. Rasnya sedang nostalgia bersama Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan juga Baginda Rasulullah. Update terus Ust. tulisan antum begitu menyejukkan hati.
  • Moh Mizwar Alfarizi
    1 week ago
    Alhamdulillah ..tulisanya bisa nambah ilmu ilmu kita semua.
  • rdone done
    1 week ago
    Alhamdulillh bisa menambah wawasan..amiin
  • Muhammad Zaini
    1 week ago
    Wow...mantap..sangat membntu skali trhadap wwasan ilmu bgi pembaca, khususnya sy pribadi..

LEAVE A COMMENT