Perang yang diikuti oleh Rasulullah Saw selama hidupnya (Bagian II)

Perang Khaibar

Khaibar adalah salah satu perkampungan di Arab Saudi terletak di sekitar 157 km dari sebelah Utara Madinah Al Munawwwarh. Daerah ini sejak zaman jahiliyah terkenal sebagai daerah subur, pusat perdagangan dan menjadi tempat perkumpulan oposisi yang dihuni oleh orang-orang Yahudi sebagai orang  yang pertama berdomisili di daerah itu. Konon turunan kaum Ad berkembang biak di daerah  Khaibar.  

Di zaman Rasulullah kota ini juga memiliki posisi penting karena kekuatan politik khususnya yang tidak ingin tunduk dan selalu menentang Rasulullah, termasuk memprovokasi suku-suku lain agar tidak konsisten terhadap kesepakatan yang telah ditandatangani dengan Nabi Muhammad Saw. Di kota ini jugalah Rasulullah diracuni oleh seorang wanita Yahudi yang kemudian akibat racun itu Rasullah menderita penyakit hingga ia meninggal empat bulan setelah peristwa itu.

Kini Khaibar menjadi bagian dari administrasi pemerintahan Madinah Al Munawwarah dan masih terkenal sebagai wilayah pertanian kurma dan sayur mayur karena iklimnya yang dingin dan pegunungan-pegunungan yang hijau.

Baca juga : Perang yang Diikuti oleh Rasulullah saw Selama Hidupnya

Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 Masehi atau tahun ketujuh hijrah tepatnya pada bulan Muharram. Perang ini terjadi  20 hari setelah perjanjian Hudaibiyah yang diikuti oleh 1800 personil atau semua yang telah ikut dalam perjalanan Hudaibiyah. Rasulullah Saw sendiri memimpin langsung perang ini sementara pasukan Yahudi dipimpin oleh Murhab bin Abi Zainab yang terdiri dari 1400 pasukan.  

Rasulullah memutuskan berangkat ke Khaibar memerangi penduduk daerah ini karena mereka terbukti melakukan konspirasi untuk membunuh Rasulullah Saw dan memprovokosi Bani Quraedah agar juga memerangi kaum muslimin pada saat perjalanan ke Hudaibiyah. Orang-orang Khaibar terbukti menyebarkan fitnah di kalangan suku-suku yang telah melakukan perjanjian dengan Rasulullah Saw, sehingga kaum muslimin menilai bahwa tindakan orang-orag Khaibar akan mengganggu stabilitas keamanan. Karena itu, Rasulullah Saw memutuskan memerangi kaum ini.

Selama beberapa hari pasukan umat Islam mengepung kota ini mulai dari subuh hingga malam sehingga akhirnya para penduduk kota ini meninggalkan kota ini  satu persatu dan pada akhirnya ditaklukkan oleh Umat Islam. Hanya 16 orang yang tewas dari kalangan umat Islam sementara dari kalangan Yahudi 93 orang tewas.

Setelah kaum Yahudi menyaksikan kemenangan di kalangan kaum muslimin mereka lalu meminta berdamai dengan Rasulullah. Rasulullah setuju atas permintaan itu. Lalu Rasulullah menyodorkan sebuah pernyataan yang isinya “ini adalah kitab dari Muhammad Saw kepada anak cucu Ad, mereka adalah ahluzzimmah dan harus membayar jizyah dan tidak ada permusuhan dengan mereka siang dan malam.  

Kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar ini merupakan langkah awal kemenangan umat Islam dan awal mula ekspansi Islam ke wilayah-wilayah jazirah Arab. Oleh karena itu, sejumlah sejarawan mengatakan bahwa kemenangan umat Islam di Khaibar merupakan stating point kejayaan umat Islam di jazirah Arab.

Penaklukan Mekkah

Penaklukan Mekkah merupakan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw karena penaklukan itu berlangsung secara damai tanpa ada pertumpahan darah di masing-masing pihak. Kaum muslimin memasuki kota Mekkah secara damai sementara kaum musyrikin Mekkah hanya bisa mengintip mereka dari dalam jendela rumah masing-masing tanpa ada perlawanan satupun dari pihak penduduk Mekkah.

Pada saat itulah Rasulullah memerintahan pasukannya menghancurkan berhala-berhala yang ada di sekitar ka’bah yang selama ini menjadi sembahan kaum musyrikin. Kemenangan kaum muslimin disebut dalam Alquran sebagai “Fathan Mubinaa”.  

Penaklukan berjalan mulus karena perjanjian Hudaibiyah yang telah ditandatangani oleh kaum muslimin dengan kaum mursyrikan Mekkah 10 tahun sebelumnya yang isinya gencatan senjata antara kedua belah pihak ternyata dilanggar oleh pihak musyrikin Mekkah. Mereka menyerang salah satu suku yang berpihak kepada kaum muslimin. Penyerangan ini dilakukan oleh pihak Bani Bakar yang mendukung kaum musyrikin Mekkah terhadap Bani Khuzaah yang mendukung kaum muslimin secara membabi buta di suatu malam, padahal antara kedua belah pihak sudah konsisten terhadap perjanjian Hudaibiyah untuk melakukan gencaran senjata.

Baca juga : Kisah Umar : Hati Keras yang Ditundukkan Kekuatan Wahyu

Pihak kaum musyrikin berusaha memperbaiki situasi dengan mengutus tokoh Quraish Mekkah Abu Sufyan untuk menemui Rasulullah di Madinah, akan tetapi Abu Sufyan kembali ke Mekkah dengan tangan kosong. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan Hijiriah Rasulullah memobilisasi sekitar lebih dari 10 ribu kaum muslimin menuju Mekkah dan sebelum sampai ke kota Mekkah, Rasulullah membagi tiga pasukannya sebagai salah satu strategi, namun setelah mereka masuk Mekkah tidak ada perlawanan satu dari pihak kaum musyrikin Mekkah.  

Perang Hunain

Hunain adalah sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari kota Mekkah. Lokasi perang Hunain kini menjadi tempat berdirinya mesjid Ji’ranah di padang Arafah. Perang Hunain adalah sebuah perang yang terjadi antara pasukan Islam dan pasukan kaum musyrikin dari suku Hawazen dan Tsaqif. Perang ini berkecamuk pada tahun kedelapn Hijrah atau tidak lama setelah penaklukan kota Mekkah oleh kaum muslimin. Rasulullah berdomisili di Mekkah beberapa hari setelah masuk kota Mekkah. Pada saat itulah kedua suku badui ini ingin menyerang umat Islam yang menaklukkan kota Mekkah karena khawatir jika mereka juga ditaklukkan oleh umat Islam.

Pasukan Islam terdiri dari 10. 000 kaum muslimin dari Madinah ditambah  2000 dari orang-orang muallaf Mekkah sementara dari pihak lawan memiliki 12.000 pasukan. Pasukan Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw bersama Ali bin Abi Tholib, sementara pasukan Hawazen dipimpin oleh Malik bin Auf dan Duraed bi Simma. Jumlah yang tewas dari kaum muslimin 23 orang sementara dari pihak Hawazen dan Tsaqif 70 orang dan 6000 lainnya ditawan oleh kaum muslimin.

Warga Mekkah  yang baru saja memeluk Islam turut serta dalam rombonngan itu karena ingin menyaksikan bagaimana umat Islam dapat meraih kemenangan. Muawiyah bin Sufyan yang saat itu baru saja memeluk Islam sempat menghina pasukan kaum muslimin yang mulai bercerai-berai saat dikepung oleh kedua suku di lembah-lembah dan mengatakan bahwa pasukan Islam pasti akan lari terbirit-birit hingga ke pantai.  

Dalam pertempuran yang berlangsung di subuh hari, pasukan Islam awalnya tampak mengalami kekalahan karena mereka dihadang oleh pasukan kedua suku ini di sebuah bukit sehingga pasukan Islam sempat kocar-kacir di tengah-tengah lembah. Sampai-sampai Rasulullah berteriak memanggil semua sahabat-sahabatnya yang kacau-balau.

Kedua suku itu mulai merasa bangga atas kondisi yang dialami umat Islam yang sedang kocar-kacir, namun karena kegigihan Ali bin Abi Thalib bersama pamannya Abbas berhasil mengumpulkan kembali pasukannya dan mulai menyerang kembali pasukan Hawazen dan Tsaqif.

Di tengah-tengah pertempuran itu seorang badui datang membawa bendera dan menyampaikan kepada pasukan Islam bahwa perang harus satu lawan satu. Ali bin Tholib dan pamannya Abbas menyetujui dan langsung berhadapan satu lawan satu dan ketika itu umat Islam menang. Saat itu, Rasulullah langsung memerintahkan agar semuanya menyerang sehingga pasukan Hawazin dan Tsaiqf mundur dan melarikan diri. Sebagian di antaranya melarikan diri ke Thaif yang kemudian dikepung oleh kaum muslimin dan sebagian lainnya melarikan diri yang kemudian terlibat dalam perang selanjutnya.

Penaklukan Thaif

Suku Tsaqif dan Hawazin yang berdomisili di kota ini  memiliki kisah tersendiri dengan Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah sedang mengalami kesedihan yang cukup mendalam karena wafatnya istrinya siti Khadijah yang sangat dicintai dan pamannya Abu Tholib yang banyak melindungi dia selama di Mekkah, ia memilih kota ini sebagai tempat berlindung. Dengan penuh harapan ia berangkat ke Thaif bahwa penduduk di sana dan dengan iklim yang sejuk akan menerima dakwahnya dan akan memberikan perlindungan kepadanya dibanding orang-orang Mekkah.

Namun, apa yang didapatkan Rasul? Setelah Rasulullah berada di kota itu justru ia mendapatkan cacian bahkan suku Tsaqif melemparinya hingga kaki Rasulullah Saw luka-luka, tapi Rasulullah tidak pernah dendam bahkan mendoakannya semoga mereka mendapat petunjuk.

Kemudian ketika Rasulullah menaklukkan Mekkah hanya beberapa hari suku tsaqif kembali ingin memerangi Rasulullah karena khawatir jika kaum muslimin juga menjadikan Thaif sebagai sasaran. Kedua suku ini kemudian menyusun strategi untuk memerangi kaum muslimin di Mekkah. Namun, hal tersebut sempat diketahui oleh Rasulullah Saw dan terjadilah perang antara kaum muslimin dengan kedua suku ini sebagaimana yang dikisahkan di atas.

Penaklukan Thaif merupakan tindak lanjut dari perang Hunain yang telah dimenangkan oleh kaum muslimin. Kaum muslimin memutuskan melanjutkan penaklukan ke kota Thaif untuk menundukkan kaum Tsaqif dan Hawazin yang melarikan diri ke kota itu. Di sana Rasulullah Saw mengepung kota ini selama 40 hari dan pada akhirnya kedua suku ini menerima kekalahan. 

Comment

LEAVE A COMMENT