tangisan khalifah umar

Tangisan Khalifah Umar karena Penderitaan Rakyatnya

Akulah sejelek-sejelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan

Amirul Mu’minin Umar bin Khattab

 

Sayyidina Umar bin Khattab adalah khalifah kedua Islam yang dikenal dengan sifat pemberani, tegas, dan keras, tetapi sangat lembut ketika disentuh dengan perasaan rakyatnya. Khalifah Umar sering menangis ketika mendengar tangisan rakyatnya.

 

Khalifah Umar merupakan pemimpin yang banyak menghabiskan waktu malam dengan blusukan ke rumah-rumah warganya untuk mengetahui secara langsung penderitaan mereka. Tidak jarang Beliau harus membantu langsung orang tua untuk memasak dan memenuhi kebutuhan makannya.

 

Pada suatu hari satu rombongan saudagar datang ke Madinah. Mereka turun di mushalla untuk beristirahat. Melihat hal itu Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf. “Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?  Abdurrahman bin Auf menyetujui ajakan sang khalifah. Mereka menjaga hingga larut malam sambil shalat.


Baca juga : Kisah Umar: Hati Keras yang Ditundukkan Kekuatan Wahyu 

 

Tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis. Beranjaklah ia mendatangi sumber suara dan bertanya kepada ibunya: Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu”. Kembalilah Sang Khalifah ke tempat semula. Namun kembali ia mendengar tangisan sang bayi dan Umar kembali menegor sang ibu.

 

Namun, untuk ketiga kalinya bayi itu menangis dan Umar mulai marah kepada ibu tersebut karena kasihan terhadap bayinya; Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam? Wanita yang tidak tahu siapa Umar menjawab; Hai Tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu, tetapi dia masih tetap ingin menyusu. Umar kembali berkata, kenapa engkau akan menyapihnya?. Wanita itu menjawab: karena Umar hanya memberikan jatah makanan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.

 

Mendengar jawaban tersebut Umar mulai melunak dan bertanya: berapa usia anakmu? Perempuan itu menjawab baru beberapa bulan saja. Maka Umar berkata tegas walaupun dalam hati penuh rasa takut dan salah : celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?

 

Umar dihinggapi dengan perasaan haru. Ketika shalat Subuh tiba saat menjadi imam hampir bacaan Umar tidak terdengar oleh makmum karena tangisnya. Beliau berkata dalam hati : Celakalah engkau Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh. Selesai shalat ia menyuruh seorang pegawai untuk mengumumkan kepada seluruh warganya untuk tidak terlalu cepat menyapih anak-anaknya, sebab khalifah akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.


Baca juga : Inspirasi Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab 

 

Dalam cerita yang lain, suatu malam Umar keluar bersama Aslam Maula Umar di kota Madinah. Mereka melihat ada sebuah tenda dari kulit yang membuat penasaran. Mereka mendatangi dan ada seorang wanita sedang menangis. Umar bertanya tentang keadaannya dan wanita itu menjawab: aku adalah seorang wanita Arab yang akan melahirkan tetapi tidak memiliki apapun. Umar seketika menangis dan segera berlari menuju rumah istrinya, Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib.

 

Umar berkata kepada istrinya ; Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu? Umar kemudian bercerita tentang peristiwa memilukan kondisi rakyatnya yang ia sudah saksikan. Seketika istrinya menjawab; Ya aku akan membantunya. Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya sendiri, sementara istrinya membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin.


Baca juga : Teladan Keharmonisan Khalifah Umar ibn Khattab dengan Uskup Agung Sophronius 

 

Pada cerita lain masih di malam hari seperti biasa. Khalifah bersama Aslam keluar ke dusun Waqim. Ketika sampai di sebuah sumur mereka melihat ada api yang menyala. Umar memerintahkan Aslam untuk mendekat karena kemungkinan ada musafir. Ternyata di sana ada seorang wanita bersama anaknya yang sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis.

 

Umar berkata : Ada apa dengan kalian? Wanita itu menjawab: kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan. Umar heran: Lalu kenapa anak-anak itu menangis? Wanita itu menjawab karena rasa lapar. Kembali umar bertanya, Lalu apa yang kalian masak di atas api itu? Dia menjawab: ini air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dan Umar.

 

Bukannya marah atas ucapan itu, Umar menangis dan segera lari pulang menuju Gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandung dan satu ember daging sambil berkata: Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku. Aslam pun berkata: Biar aku saya yang membawanya untukmu. Apa jawaban umar? Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat? Umar kembali kepada perempuan itu dengan memberikan makanan, membantu memasak dan menghidangkannya. Bahkan Umar menunggu mereka hingga tertidur pulas.

 

Itulah potret pemimpin tangguh yang pernah berjuang di medan Perang bersama Nabi. Potret pemimpin yang selalu menangisi tangisan rakyatnya. Pemimpin yang ingin selalu dekat dan mengetahui langsung kondisi rakyat. Dan Pemimpin yang terdepan untuk bertindak tegas dan cepat meringankan penderitaan rakyat.

 

Semoga para pemimpin di negara ini memiliki watak empati dan peduli seperti Khalifah Umar.

 

 

Comment

LEAVE A COMMENT