sunan ampel,memerangi miras
dakwah sunan ampel

Strategi Sunan Ampel Memerangi Miras

Akan dibukanya investasi Miras (Minuman Keras) di sejumlah daerah oleh Pemerintah, membuat publik kecewa dan marah. Kebijakan tersebut akan merugikan banyak pihak (mudharat), baik dari kalangan Muslim dan Non-Muslim. Seharusnya, pemerintah membaca sejarah pengalaman Sunan Ampel ketika menghilangkan tradisi “mendem” (mabuk).

Sunan Ampel atau Raden Ali Rahmatullah adalah salah satu Wali Songo generasi awal. Ia menjadi tokoh sentral dakwah Islam ketika kerajaan Majapahit masih berkuasa. Ada beberapa teori kedatangan Sunan Ampel ke Pulau Jawa.

Thomas W. Arnold dalam “The Preaching of Islam” menyebutkan Raden Rahmat atau Sunan Ampel awalnya ke Palembang dan menjadi tamu Arya Damar (Raja muda Palembang) selama dua bulan (Arnold, 1977). Saat Arya Damar sudah bersyahadat, akan tetapi ia tidak mau ambil risiko menyatakan keislamannya di publik. Risiko karena rakyatnya masih menganut kepercayaan lama.

Teori lain bahwa Raden Rahmat ketika akan kembali ke negeri Champa, ia dicegah oleh pamannya sendiri, Prabu Brawijaya V selaku raja Majapahit. Dalam Serat Walisana, Prabu Brawijaya mencegah Raden Rahmat pulang ke Champa. Hal itu disebabkan Champa sudah diinvasi dan dihancurkan oleh Kerajaan Koci. Sebab inilah yang menjadikan Raden Rahmat ditempatkan di Surabaya (Agus Sunyoto, 2018).

Ketika di Surabaya, Raden Rahmat diangkat sebagai imam Masjid Surabaya. De Graaf dan Pigeaud menulis diangkatnya Raden Rahmat menjadi Imam Masjid Surabaya oleh pejabat Pecat Tandha yang bernama Arya Sena (De Graaf & Pigeaud, 1986). Dalam kisah lain, Raja Majapahit tidak langsung mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta, justru menitipkannya kepada Adipati Surabaya bernama Arya Lembusura yang sudah Islam.

Baca selengkapnya di www. islamina. id : https://islamina.id/strategi-sunan-ampel-menekan-tradisi-mabuk/

Bagikan Artikel
Baca Juga:  Jaringan Ulama Pesantren dan Otoritas Sanad Keilmuan
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah