Pada umumnya, Surau identik dengan tempat ibadah (shalat). Namun lain halnya di Minangkabau, Surau mengalami pelebaran fungsi, selain sebagai tempat ibadah, juga bagian dari tarekat (suluk), pendidikan, maupun tempat berkumpulnya anak laki-laki setelah mereka dewasa.

Dilihat dari akar sejarah, Surau pada awalnya merupakan sebuah tempat penyembahan ruh nenek moyang. Keberadaan Surau cenderung mengambil tempat di puncak atau daratan yang tinggi. Sehingga bangunan Surau dikesankan sebagai bangunan yang mistis, karena memiliki keramat atau sakral yang dipercayai oleh segenap masyarakat disekelilingnya.

Surau dalam sejarah Minangkabau diperkirakan berdiri pada 1356 M. yang dibangun pada masa Raja Adityawarman dikawasan bukit Gombak. Setelah mengalami Islamisasi, Surau akhirnya menjadi pusat kegiatan bagi pemeluk agama Islam dan sejak itu pula Surau tidak dipandang lagi sebagai sesuatu yang mistis atau sakral.

Surau menjadi media aktivitas pendidikan umat Islam dan tempat segala aktivitas sosial. Kedatangan Islam ke Sumatera Barat telah memberikan pengaruh dan perubahan bagi kelangsungan Surau sebelumnya. Surau mulai terpengaruh dengan panji-panji penyiaran agama Islam. Dengan waktu yang tidak lama, Surau kemudian mengalami Islamisasi, walaupun dalam batas-batas tertentu masih menyisakan suasana kesakralan dan merefleksikan sebagai simbol adat Minangkabau.

Proses pembentukan

Proses Islamisasi Surau begitu cepat dengan ditandai beberapa aktivitas keagamaan. Meski tidak harus mengubah label namanya, kaum Muslim dapat menerima (mempertahankan) tanpa mempertanyakan keberadaan asal-usulnya. Karena yang lebih penting masa itu adalah adanya sarana yang efektif untuk melakukan menyiarkan agama Islam. Nama atau label bukanlah hal yang prinsip dan yang lebih esensi adalah semangat dalam menciptakan suasana dan aktivitas di kalangan umat Islam dalam memperkokoh keimanan dan keislamannya. Nilai- nilai semangat inilah yang dipegangi umat Islam hingga Surau dikenal khalayak luas sepanjang sejarah.

Setelah diketahui perannya yang begitu sentral dan vital, pendidikan Surau banyak didirikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, dan bukan lagi mengambil tempat terpencil sebagaimana di masa agama Hindu-Budha. Hal ini disinyalir bahwa jika Surau berdiri dekat dengan lingkungan komunitas masyarakat, maka fungsi Surau akan semakin efektif dalam menyiarkan agama Islam, khususnya di Minangkabau.

Sebagai sebuah proses permulaan atau pembentukan, sistem Surau ini dilakukan dengan memberikan contoh dan suri teladan. Mereka diajari bagaimana berlaku sopan-santun, ramah-tamah, tulus, ikhlas, amanah, dan kepercayaan, pengasih dan pemurah, jujur dan adil, menepati janji serta menghormati adat istiadat yang ada, yang menyebabkan masyarakat nusantara tertarik untuk memeluk agama Islam. Sebagian besar para penyiar agama Islam yang berada di desa-desa telah mendirikan Surau atau Masjid sebagai tempat shalat sekaligus menjadi tempat untuk mendidik baca tulis al-Qur’an.

Hampir di setiap kampung dihiasi Surau sebagai media atau sarana edukatif yang cukup efektif dalam menjalankan kegiatan keagamaan dan pendidikan. Sistem pembelajaran yang berlangsung di Surau, kala itu, masih bersifat dasar (elementary), mereka diperkenalkan dengan abjad huruf Arab (Hijaiyah) atau sekadar mengikuti apa yang dibacakan oleh guru dari kitab suci Al-Qur’an. Julukan pengelola pendidikan Surau di sebut `amil, modin atau labai (sebutan dari Sumatera Barat).

Peran Syekh Burhanuddin

Di Minangkabau Surau yang pertama digunakan sebagai tonggak munculnya sistem pendidikan Surau ialah Surau yang didirikan oleh Syekh Burhanuddin tahun 1646-1691 setelah berguru kepada syekh Abdurrauf bin Ali.Surau dalam masa-masa awal Islam di Minangkabau secara umum berfungsi bagi pengajaran Islam, maka setelah syekh Burhanuddin mendirikan Surau di Ulakan Pariaman, fungsi Surau telah berubah menjadi lembaga pendidikan Islam secara penuh, dengan pengetahuan dan keshalehan, Surau syekh Burhanuddin mampu menarik banyak murid dari daerah lain.

Meskipun Surau Ulakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang belum mempunyai sarana prasarana yang lengkap untuk menunjang proses pembelajaran, namun tidak menghalangi keinginan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu pengetahuan dan agama. Dari Surau ini para guru agama pertama memperoleh pendidikan, dalam perkembangan selanjutnya alumni-alumni santri ulakan mendirikan pula Surau-Surau baru, yang selanjutnya menjadi pusat pengajaran agama Islam.

Alumni santri Ulakan tersebut mengambil beberapa cabang keahlian dalam disiplin keilmuan dan pada perkembangan selanjutnya mendirikan Surau-Surau sendiri. Seperti Surau Koto Tuo (Tuangku Nan Tuo) Agam kelebihannya dalam bidang tafsir, Surau tuo Gadang yang terkenal pada bidang ilmu-ilmu bahasa arab, Surau Talang dan Salayo yang keduanya terkenal dalam bidang Nahwu-Sharaf dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, pendidikan Surau memiliki implikasi yaitu untuk mendidikan anak beribadah kepada Allah, menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan, dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak dan kewajibannya sebagai insan pribadi, sosial dan warga negara. Selain itu, juga memberi rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi-potensi ruhani manusia melalui pendidikan kesabaran, keberanian, perenungan, dan optimisme hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.