poto uang dinar dan dirham
poto uang dinar dan dirham

Syekh Al-Baladziri: Dinar dan Dirham Bukan Mata Uang Islam

Munculnya Pasar Mu’amalah Depok yang menggunakan satuan alat tukar dinar dan dirham adalah serangkaian upaya mensyari’ahkan segala praktik kehidupan. Tidak hanya di Depok, pasar serupa konon ada di Medan dan di Yogyakarta. Tujuannya adalah menghidupkan kembali sunnah dan syariat Islam. Makanya, ketika hal ini viral dan dilarang sontak ada narasi yang Syariah dilarang di Indonesia.

Sebenarnya adakah aturan dan dalil khusus yang mengatakan bahwa mata uang yang syar’I dan Islami? Nabi sendiri telah mengatakan kepada umatnya untuk menjalankan urusan duniawi dengan kreasi terbaiknya. “Kalian semua lebih paham urusan dunia kalian masing-masing”.

Dari sini para ulama kemudian membuat kaidah dasar bahwa ibadah harus berdasar pada dalil, tidak boleh membuat bentuk ibadah sendiri. Sedangkan untuk mu’amalah yang penting tidak ada dalil yang melarangnya. Segala praktik mu’amalah silahkan jalan selama tidak ada larangan agama dan tidak perlu mencari-cari dalil pengabsahnya.

Oleh karena itu, praktik Pasar Mu’amalah dengan menggunakan satuan tukar dinar dan dirham adalah pola bersyariat yang salah kaprah. Mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar tidak harus memakai mata uang yang diapakai pada masa Nabi, boleh mata uang lain yang manfaatnya lebih baik. Lagi pula, salah kaprah jika memandang dinar dan dirham sebagai mata uang Islam. Sejarah tidak berbicara seperti itu.

Pakar sejarah Islam, Syaikh Ahmad bin Yahya bin Jabir bin Daud al- Baladziri menulis kenyataan bahwa dinar dan dirham bukan mata uang asli umat Islam dalam karyanya Futuh al-Buldan yang merupakan ringkasan (mukhtashar) dari kitab sejarah Al-Buldan al Kabir.

Di sini Al-Baladziri menulis panjang lebar perjalanan dakwah Islam dari satu negara ke negara yang lain dimulai sejak masa Nabi. Ia menulis kultur budaya dan politik negara-negara taklukan Islam yang tak diulas oleh kitab-kitab sejarah yang lain. Salah satunya adalah alat tukar atau mata uang dinar dan dirham.

Baca Juga:  Memasuki Bulan Rajab 2021, Inilah Doa Rasulullah Menyambut Bulan Rajab

Dipenghujung karyanya ini al-Baladziri menulis bab khusus yang diberi judul Amru al Nuqud. Berdasarkan riwayat Husein bin al Aswad yang mendapat informasi dari Yahya bin Adam dan sumber informasi tersebut adalah Hasan bin Shalih, dirham adalah mata uang bangsa ‘ajam (bangsa non Arab) yang telah ada sebelum Islam. Bentuknya beragam. Ada yang dicetak besar dan ada yang kecil. Ada yang dua puluh qirath, dua belas qirat dan sepuluh qirath.

Sedangkan dinar, menurut riwayat Muhammad bin Sa’ad dari Muhammad bin Umar al Aslami dari Usman bin Abdullah bin Muwahhib yang mendapat informasi langsung dari bapaknya menyatakan, bahwa masyarakat Arab Jahiliah sebelum datangnya Islam mengenal dinar dari bangsa Persia pada masa Heraklius. Kemudian mereka mengadopsi mata uang dinar sebagai alat tukar dengan mencetaknya menjadi pecahan-pecahan dalam ukuran bangsa Arab.

Nabi sendiri kemudian menetapkan dua mata uang tersebut. Beliau tidak mengganti dengan mata uang yang lain. Untuk berbagai transaksi dan kepentingan zakat, beliau tetap menggunakan dinar dan dirham yang diadopsi oleh masyarakat Arab jahiliah dari bangsa Persia dan Romawi.

Sejarah yang ditulis oleh al Baladziri dalam karyanya Futuh al Buldan mengingatkan umat Islam akan sabda Nabi “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”. Hadis riwayat Muslim ini sebenarnya memberi spirit untuk melakukan segala bentuk mu’amalah dengan cara-cara yang lebih baik sesuai masa dan zamannya. Tidak perlu ada embel-embel syari’ah dan atribut keagamaan yang lain.

Seperti Pasar Mu’amalah yang menggunakan dinar dan dirham yang menyangka sebagai satuan alat tukar resmi agama Islam dan diciptakan oleh Nabi, ternyata Nabi sendiri hanya melanjutkan penggunaan dua mata uang tersebut yang sebelumnya adalah hasil adopsi bangsa Arab jahiliah pra Islam dari bangsa Persia dan Romawi.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo