muslimah
muslimah

Syifa al Adawiyah: Intelektual Perempuan di Masa Rasulullah

Anggapan perempuan sebagai makhluk kelas bawah, terutama sebelum masa Islam, salah total. Fakta berbicara, banyak kalangan kaum hawa yang menorehkan sejarah tinta emas menyokong tumbuhnya peradaban yang maju.

Apabila sebelum era Islam bangsa-bangsa di beberapa belahan Dunia mencampakkan dan menganggap perempuan tak lebih seperti barang bekas yang dijual di pasar, setelah Rasulullah tampil sebagai utusan terakhir dengan misinya yang visioner, perempuan mulai menggeliat menunjukkan jati dirinya sebagai ciptaan Allah yang tidak ada bedanya dengan laki-laki.

Bahkan sebagian dari mereka tampil lebih memukau dibanding kaum Adam. Menorah prestasi lebih cemerlang. Sosok yang dipanggil ibu setelah menikah ini, senyatanya merupakan makhluk yang sangat mulia di mata yang maha agung. Salah satu kaum ibu yang menorehkan tinta emas menyumbang peradaban Islam pada masa Rasulullah adalah Asy Syifa al Adawiyah.

Tersebutlah pada masa jahiliyah, saat mayoritas masyarakat Arab masih belum mengenal Islam. Saat itu, masyarakat Arab, termasuk di Makkah, masih berada di alam kebodohan. Terutama kaum perempuan yang memang mengalami pengebirian dalam banyak aspek kehidupan.

Mereka kehilangan haknya sebagai manusia dan identitasnya tercerabut dari yang seharusnya. Perempuan diperlakukan selayaknya binatang, hanya pemuas nafsu dan pelengkap bagi kaum laki-laki. Meskipun demikian, karena kegigihannya yang luar biasa, pada zaman tersebut terdapat seorang ilmuan perempuan yang mampu menunjukkan kelasnya, bahwa perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Bedanya hanya di jenis kelamin saja.

Pada Masa Rasulullah, sosok ini memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah dan para sahabat. Kebanyakan perempuan di masa itu tidak memiliki kemampuan baca tulis oleh sebab sistem yang ketidak adilan dan kebiadaban yang diciptakan oleh kaum laki-laki. Maka karena kepandaian yang dimilikinya, Ia pun begitu terkenal.

Baca Juga:  Kenapa Dinamakan ‘Asyura, Ini Jawabannya

Nama  Asy-Syifa melejit sebagai seorang wanita yang luar biasa, hebat dan memiliki dedikasi tinggi. Perempuan cerdas yang mampu merubah tatanan yang memarjinalkan golongannya. Nama lengkapnya adalah Asy Syifa binti Abdillah al Adawiyah. Berasal dari klan Quraisy al Adawiyah.

Guru Perempuan Pertama dalam Islam

Asy-Syifa menjadi penyumbang terbesar dalam perkembangan dunia intelektual Islam. Pengetahuan yang dimiliki ia upayakan untuk mengentas kebodohan dan keawaman baca tulis khususnya bagi kalangan perempuan. Ia terkenal sebagai guru perempuan pertama dalam sejarah Islam.

 Sebagai pengajar, beliau gencar memberikan pendidikan kepada perempuan-perempuan Islam di lingkungannya. Di samping sebagai guru, sosok yang dikenal dengan julukan Ummu Sulaiman juga mahir dalam ilmu kedokteran, dan ilmu kejiwaan.

Oleh karena itu, disamping menjadi tenaga pengajar, ia juga berprofesi sebagai dokter. Melalui disiplin ilmunya di bidang medis, dirinya banyak melakukan interaksi dengan masyarakat ketika melakukan upaya pengobatan orang yang lagi saakit. Sehingga dengan dua profesi yang dilakoninya sekaligus, membuat namanya semakin tenar.

Kesadaran masyarakat Arab terhadap posisi sesungguhnya seorang perempuan sebagai ciptaan yang sama dengan laki-laki dan sama-sama sebagai khalifah Allah di Bumi mulai tumbuh. Disamping kemampuannya sebagai guru dan dokter, Asy Syifa juga memiliki skil dalam ruqyah dan menjadi ahli ruqyah yang sangat terkenal pada masa itu.

Setelah agama Islam berkembang dan merambah ke berbagai negeri, Rasulullah memperbolehkan pengobatan ruqyah untuk menyembuhkan keracunan akibat sengatan binatang, sakit eksim, hingga sakit mata. Pada saat itulah Asy Syifa tampil dan memohon ijin kepada Rasulullah untuk melanjutkan pengobatan dengan cara ruqyah, khususnya untuk penyakit eksim. Asy-Syifa yang telah terbiasa melakukan ruqyah sejak zaman Jahiliyah pun akhirnya diberi ijin oleh Rasulullah.

Baca Juga:  Mengenal Imam Asy-Syaukani: Mujtahid yang Teguh Memegang Madzhab Salaf

Hal ini terjadi setelah ia mendapat hidayah dan memeluk Islam. Pada saat Rasulullah memperbolehkan pengobatan secara ruqyah, seperti cerita di atas, ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku biasa meruqyah sejak zaman Jahiliyah untuk mengobati penyakit eksim, dan kini aku hendak menunjukkannya kepada engkau.” Kemudian Asy-Syifa menunjukkan kemampuannya kepada Rasulullah dalam meruqyah.

Sejak kejadian itu, Asy-Syifa memiliki kedudukan khusus dan kedekatan dengan Rasulullah beserta para istri-istrinya. Di samping keilmuan dan skil medis yang dimiliki yang membuat Rasulullah menaruh simpati dan perhatian lebih, ia juga perempuan yang memiliki keimanan kuat. Keyakinannya terhadap Islam begitu sempurna dan tak tergoyahkan. Sehingga ketika ada perintah hijrah ke Madinah, tanpa ragu ia melakukannya. Bahkan termasuk sebagai anggota rombongan yang pertama hijrah dari Mekah ke Madinah.

Penggerak Literasi Kaum Perempuan Madinah

Sesampainya di Madinah, ia mulai lagi mengajari para muslimah membaca dan menulis dengan penuh kesabaran. Berkat usaha dan kerja kerasnya ini, tingkat buta huruf dikalangan kaum muslimah terentaskan. Geliat kaum intelektual pun mulai tumbuh dan berkembang. Perempuan-perempuan yang beragama Islam mulai menapak babak baru kehidupan yang penuh nuansa keilmuan. Dari sinilah kelak muncul intelektual-intelektual perempuan yang berkiprah menyokong kemajuan peradaban Islam, khususnya dalam bidang keilmuan. Selanjutnya, Asy-Syifa dalam fakta sejarah yang ada dinobatkan sebagai guru perempuan pertama pada zaman Rasulullah.

Lebih istimewa lagi, ia menjadi guru Hafshah binti Umar bin Khattab, salah satu istri Rasulullah. Kemudian disusul oleh perempuan-perempuan yang lain yang ikut serta belajar membaca dan menulis di rumah Hafshah. Melihat kegigihan dan prestasi yang ditoreh oleh Asy Syifa, Rasulullah memintanya untuk memikul tugas tambahan, Rasulullah  juga memintanya untuk mengajari Hafshah tentang cara merukyah penyakit eksim.

Baca Juga:  Pemikiran Keislaman Fazlur Rahman

Hal ini seperti dijumpai dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad dari Asy Syifa, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah datang kepadaku ketika aku berada di rumah Hafshah. Beliau lalu berkata kepadaku, ‘Tidakkah engkau mengajari dia (Hafshah) cara meruqyah eksim sebagaimana engkau mengajarinya baca-tulis?”

Di masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, disamping profesinya sebagai guru, sang Khalifah juga memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengurusi urusan pasar. Tidak hanya itu, karena komplitnya pengetahuan dan skil yang dimilikinya, Umar bin Khattab sering meminta pendapat kepadanya. Hal ini membuktikan betapa dirinya adalah sosok perempuan yang memiliki kecerdasan luar biasa dan otaknya yang brilian.

Ada manfaat lain yang diperoleh oleh Asy Syifa dalam interaksinya dengan Khalifah Umar, di antaranya, ia menambah perbendaharaan hadis dalam dirinya dan meriwayatkan beberapa hadis dari Umar bin Khattab. Ia juga menjadi perawi hadis dari Rasulullah sembari mempelajari ilmu keagamaan pada Rasulullah.

Asy Syifa binti Abdillah al Adawiyah memberikan sumbangsih besar dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dengan penuh keikhlasan, ia mendedikasikan seluruh masa hidupnya untuk ilmu pengetahuan, beramal, beribadah, dan menolong orang lain. Kontribusi yang diberikan untuk kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan dan bidang medis ini membuktikan bahwa kaum ibu juga tak kalah hebat bila disejajarkan dengan laki-laki.

Perempuan hebat yang menoreh tinta emas dalam sejarah ini, meninggal dunia pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, tepatnya sekitar pada tahun 20 Hijriah.

Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Idul Adha

Kemenag Tetapkan Idul Adha 1443 Hijriyah Jatuh Pada Minggu 10 Juli

Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Dzulhijjah 1443 Hijriyah jatuh pada Jumat, 1 Juli …

Gus Miftah

Gus Miftah: Jangan Main-main Nama Muhammad Sangat Mulia

Jakarta – Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah menegaskan bahwa jangan main-main dengan nama Muhammad. …