Ta'rif

| | | | | | | | | |

kelayakan seseorang untuk diperhitungkan segala tindak tanduknya di hadapan hukum syar’i. Artinya, seseorang tersebut telah cakap hukum, ketika ia melakukan transaksi harta seperti jual beli, sewa-menyewa, hibah, dan transaksi lain, atau beribadah seperti shalat, puasa, haji, dan ibadah lain, semuanya telah diperhitungkan di hadapan hukum syar’i. Asas yang menjadi landasan ahliyah ini adalah baligh dan berakal. Terkait ahliyah ini manusia menempati tiga kondisi: pertama, tidak memiliki ahliyatul ada’ sama sekali, seperti anak kecil dan orang gila. Kedua, ahliyatul ada’ tak sempurna, seperti seseorang yang hampir mencapai usia dewasa dan kematangan berpikir. Ketiga, ahliyatul ada’ sempurna, yaitu sejak manusia mencapai usia baligh berakal.

kelaikan seseorang untuk menerima hak dan mempunyai kewajiban. Asas yang menjadi landasan ahliyah ini adalah kapasitasnya sebagai manusia. Jadi, setiap manusia di manapun dan dalam kondisi apapun ia tetap menyandang sifat ahliyah ini. Terkait dengan ahliyah wujub, manusia mempunyai dua posisi: pertama, ahliyah wujub tak sempurna, yaitu anak adam yang hanya bisa menerima hak, tetapi tidak mempunyai kewajiban, seperti janin yang masih dalam kandungan ibunya. Kedua, ahliyah wujub sempurna, yakni bisa menerima hak dan juga mempunyai kewajiban, hal ini dimulai sejak manusia lahir ke dunia.


denda sebagai tebusan atas jiwa atau bagian anggota tubuh yang mendapat toleransi dari pihak ahli waris atau pihak teraniaya. Diat merupakan rentetan dari qishasah, artinya jika pihak teraniaya memaafkan pelaku kejahatan tidak mau melakukan qishash, maka sebagai gantinya adalah membayar diat dengan ketentuan yang telah diatur dalam syariat.


mengetahui ketentuan-ketentuan syar’i terapan yang digali dari sumber-sumber hukum secara detail. Lebih sederhana lagi fiqh didefinisikan sebagai pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang menggunakan metode ijtihad. Oleh sebab itu, fiqh bersifat dhanny (dugaan kuat, tidak sampai pada taraf keyakinan pasti).

Fiqih adalah mengetahui hukum-hukum syar’ia yang diperoleh melalui ijitihad atau sebuah ilmu tentang hukum syar’ia yang diperoleh dari dalil-dalil secara rinci. Adapun jenis-jenis hukum syar’ia adalah (1) wajib, (2) mandub, (3) mubah, (4) haram dan (5) makruh


perilaku mukallaf yang terkait dengan hak individu, disyari’atkan untuk kemaslahatan khusus dengan tujuan menjaga kemaslahatan personal. Misalnya, kewajiban membayar hutang, keharusan mengganti harta yang dirusak, menahan barang jaminan dalam akad gadai, dan hak-hak individu yang terkait dengan materi. Hak semacam ini diberikan opsi untuk dipenuhi atau digugurkan karena setiap invidu bebas menggunakan haknya.

perilaku mukallaf yang terkait dengan hak masyarakat, disyari’atkan untuk kemaslahatan umum, bukan ditujukan untuk kemaslahatan pribadi. Ini merupakan hak yang berkaitan dengan aturan dan tatanan kehidupan universal, bukan dalam rangka menjaga kemaslahatan individu. Misalnya, ibadah murni seperti shalat, atau sanksi-sanksi, seperti sanksi bagi pelaku zina, pencuri, dan pihak yang makar terhadap pemerintah yang sah. Hak ini tidak boleh digagalkan dan menganggap enteng dalam menegakkannya.

hukuman/sanksi atas kejahatan yang sudah ditentukan oleh syari’ varian dan kadarnya. Terdapat tujuh kejahatan yang termasuk dalam kategori hukuman had, yaitu; (1) perzinahan, (2) menuduh zina(qadzf), (3)pencurian, (4) minuman keras, (5) perampokan/pembegalan, (6) membangkang terhadap pemerintah yang sah (bughat), dan (7) murtad. Al-hasil, had merupakan hukuman atas perbuatan yang disyariatkan sebagai hak Allah (demi menjaga aturan dan tata kehidupan atau kemaslahatan umum).

titah tuhan yang berkaitan dengan perilaku orang mukallaf dan mengandung aturan syari’at. Dengan demikian, sabda yang tidak berisi aturan syari’at tidak disebut hukum, seperti berita tentang kisah masa lalu, tentang fenomena alam, dan sebagainya. Titah tersebut meliputi tuntutan untuk dilaksanakan dan ditinggalkan atau merupakan opsi dari keduanya.


Ibadah adalah salah satu tujuan diciptakannya manusia karena adalah sarana dan wasila menuju kehidupan yang istiqomah sehingga memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Ibadah adalah sebuah nama yang menghimpun semua prilaku yang dicintai dan diridhohi Allah perkataan, perbuatan baik yang dhahir maupun yang bathin. Atau ibadah berarti kepatuhan dan kerendahan terhadap yang lain dengan maksud mengagungkannya. Ibadah adalah bentuk kepatuhan terhadap Allah yang paling tinggi dan kerendahan di hadapannya. Ibadah bukan saja meliputi puasa, sholat, haji, zakat akan tetapi juga meliputi semua bentuk pengagungan seseorang kepada Allah dan ketaatan kepadanya secara mutlak dan penyerahan diri atas segalanya kepada Allah semata

Ihsan berasal dari kata “ hasan” artinya baik atau kebalikan dari keburukan. Ihsan juga bisa berarti Ikhlas sebagai salah satu satu sahnya iman dan islam. Ihsan juga bisa berarti ketaatan secara baik dan penguasaan diri. Sementara menurut etimologi adalah seorang muslim yang mukmin menyembah tuhannya dalam hidupnya dengan penuh kewaspadaan dan kehatian-hatian seakan-akan ia melihat dengan hatinya dan meyakini bahwa tuhan senantiasa memperhatikannya baik di kalan beribadah, atau di kala bermunajat atau di kala sendiri sehingga semakin menambah kedekatannya kepada tuhan dan meyakini bahwa setiap saat ingin melakukan sesuatu yang dilarang Allah maka dia yakin bahwa tuhan senantiasa memperhatikannya sehingga ia tidak bisa melakukannya sebagaimana yang dimaksud dalam hadis Rasulullah Saw bahwa “sembahlah tuhan seakan akan kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihatnya maka dialah yang melihatmu”

Kata iman berasal dari bahasa Arab yaitu “amana” artinya mempercayai atau membenarkan. Iman menurut bahasa adalah membenarkan misalnya seseorang mengimani satu pemikiran berarti ia membenarkan pemikiran itu dan meyakini secara utuh kebenaran itu. Sementara menurut etimologi iman berarti keyakinan hati yang kokoh dan kuat terhadap Allah Swt dan membenarkan risalah-risalah yang diturunkannya, malaikat dan kitab-kitabnya, rasul-rasulnya dan membenarkan tentang hari akhirat dan taqdir baik dan buruknya. Atau iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan dengan anggota badan

Istiqomah menurut ahli sufi adalah memenuhi semua janji dan konsisten pada jalan yang lurus dengan penuh moderasi dalam segala hal mulai dari makanan, minuman dan pakaian baik yang terkait dengan urusan dunia maupun akhirat atau kesinambungan seseorang hamba dalam mengabdi kepada Allah atas petunjuk syariat dan akal yang sehat


sanski yang wajib ditunaikan disebabkan melakukan perbuatan dosa. Macam-macam sanksinya sudah ditentukan oleh syari’, yaitu memerdekakan budak/hamba sahaya, berpuasa selama dua bulan berturut-turut, memberi makan fakir miskin. Ada empat macam perbuatan yang mewajibkan kaffarat, yakni (1) dhihar (menyamakan bagian tubuh isteri dengan ibu kandungnya), (2) pembunuhan yang keliru, (3) bersetubuh di siang hari bulan Ramadlan dengan sengaja, dan (4) melanggar sumpah.


seseorang yang perilakunya menjadi obyek hukum. Mahkum ‘alaih tidak lain adalah mukallaf itu sendiri. Dua kreteria yang harus terpenuhi bagi mahkum ‘alaih, yaitu mampu memahami dalil dan mempunyai sifat ahliyah, cakap hukum (segala tindak tanduknya layak diperhitungkan di hadapan hukum).

perilaku orang mukallaf yang menjadi objek hukum. Misalnya, perintah “tunaikanlah zakat” yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an mengemban kewajiban yang terkait dengan perbuatan orang mukallaf, yaitu menunaikan zakat. Mahkum bih dalam hukum taklifi pastilah selalu perbuatan yang mampu dilakukan sejak awal dilegislasikan.

Makhtur adalah yang dilarang oleh syar’iat secara tegas atau mendapatkan dosa dan ganjaran bagi yang melaksanakannya dan mendapatkan pahala bagi yang meninggalkannya. Makhtur juga sering disebut haram, dosa, kemaksiatan dan kebathilan.

Makruh adalah berlawanan dengan mustahab yaitu apa yang tidak dilarang secara tegas dan mereka yang meninggalkannya mendapatkan pahala dan bagi yang tidak mengerjakannya tidak mendapat dosa. Makruh dibagi menjadi dua yaitu makruh tahrimiyah dan makruh tanzihiya. Yang dimaksud makruh tahrimiyah adalah tuntutan untuk meninggalkannya tetapi tidak sama dengan tuntutan meninggalkan yang haram. Bagi yang meninggalkannya akan mendapatkan pahala sebagai balasan atas kepatuhan terhadap perintah Allah sementara yang menjalankannya mendapat dosa akan tetapi tidak sama dengan dosa pekerjaan yang diharamkan seperti larangan mengerjakan sholat sunnah persis pada saat terbit dan tenggelamnya matahari. Adapun makruh tanzihiya adalah apa yang diminta syariat untuk meninggalkannya secara tidak tegas. Mereka yang mengikutinya berarti dia mendapat pahala dan mereka yang menjalankannya tidak mendapat dosa.

perbuatan yang diperintahkan untuk dikerjakan, namun bentuk perintahnya tidak tegas. Indikasi ketidaktegasan dapat dipahami melalui redaksi yang digunakan syari’, misalnya menggunakan kata anjuran atau kata sebaiknya. Atau juga menggunakan kata perintah yang disertai dengan indikasi ketidaktegasan.

mandub adalah mendapat pujian atau pahala bagi yang melaksanakannya dan tidak mendapat celaan bagi yang tidak melaksanakannya: Hukumnya adalah mendapatkan pahala bagi yang menjalankannya dan tidak mendapatkan dosa atau siksaan bagi yang tidak melaksanakannya. Mandub juga disebut sunnah, nafila, mustahab (disenangi) dan marghub (diinginkan) contoh-contoh mandub sholat duha, puasa enam hari pada bulan syawal. Sunnah juga terbagi kepada sunnah muakkadah dan sunnah ghoiru muakkadah serta sunnah rawatib. Sementara sunnah muakkadah adalah sunnah-sunnah yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw dan ada dalil yang mendukung hal itu sementara sunnah rawatib adalah sunnah yang dilakukan yang mengikut kepada pelaksanaan wajib seperti sholat sunnah qabliya dan ba’diyah

Mubah adalah tidak diperintahkan dan juga tidak dilarang atau tidak ada perintah dan juga tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya atau tidak diberikan pahala bagi yang melaksanakannya dan tidak mendapat ganjaran bagi yang tidak melaksanakannya. Al Aslu fil asyai Al Ibaha artinya asal segala sesuatu adalah dibolehkan selama tidak ada dalil yang memberi hukum atas sesuatu itu.

Mubahala adalah saling melaknat atau sama sama berdoa untuk menurunkan laknat kepada yang berbohong dan yang mempermaikan kebenaran.mubahala dibolehkan dengan maksud menunjukkan kebenaran dan menghilangkan kebathilan dan memperkuat hujjah bagi mereka yang berpaling dari kebenaran

Mubahala adalah saling melaknat atau sama sama berdoa untuk menurunkan laknat kepada yang berbohong dan yang mempermaikan kebenaran.mubahala dibolehkan dengan maksud menunjukkan kebenaran dan menghilangkan kebathilan dan memperkuat hujjah bagi mereka yang berpaling dari kebenaran

orang yang mencapai batas usia dewasa, berakal sehat, dan tidak ada faktor penghalang untuk menerima beban hukum. Batas usia dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu umur 15 tahun. Namun, jika mengalami tanda-tanda kedewasaan (mimpi basah bagi laki-laki, menstruasi bagi perempuan) sebelum usia tersebut dapat dikategorikan sebagai baligh.


hukuman yang setimpal atau sepadan dengan kejahatan yang dilakukan. Dalam syariat Islam hukuman ini terdapat 2 macam: (1) qishash pembunuhan disengaja/terencana, (2) qishash anggota tubuh. Hukuman ini dapat dibatalkan jika pihak keluarga memaafkan/tidak berkenan melakukan pembalasan, namun diganti dengan tebusan yang disebut diat.


Sabar menurut bahasa adalah menahan diri dan menecgah diri. Seseorang yang menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu maka dia dinamakan sabar misalnya menahan diri untuk tidak marah atau menahan diri untuk tidak melakukan maksiat atau mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kemurkaan tuhan maka dia dinamakan bersabar. Jadi sabar adalah menahan dari keinginan dan mencegah diri melakukan sesuatu yang diinginkan oleh hawa nafsu. Sabar menurut etimology adalah kemampuan untuk menanggung musibah dan cobaan yang menimpanya dengan berbagai jenisnya apakah musibah itu pada badannya seperti menderita penyakit, atau ketaatan atau yang lainnya dari urusan-urusan dunia yang sifatnya lenyap. Sabar juga berarti kemampuan menahan diri untuk tidak melakukan maksiat dan keburukan baik yang tersembunyi maupun yang nampak. Artinya orang yang bersabar adalah yang mampu menahan dan mendisiplinkan dirinya terhadap perbuatan yang dapat menjadikan Allah murka kepadanya atau menjauhi segala yang dilarangnya untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Sabar dibagi ke dalam tiga bagian Sabar terhadap perintah-perintah Allah dan mentaatinya. Sabar terhadap perintah-perintah Allah berarti sabar dan konsisten menjalankan perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya. Orang yang sabar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya akan memiliki kelapangan dada dan ikhlas menerima musibah-musibah dan cobaan-cobaan yang diberikan kepadanya dalam kehidupan ini. Ketataan kepada perintah Allah berarri sabar menjalankan perintahnya seperti konsisten menjalan sholat limat waktu walaupun tingkat kesibukannya cukup tinggi, puasa di bulan ramadhan walaupun berat karena pekerjaan dan iklim yang panas dan menjauhi seluruh yang dilarang Allah walaupun dorongan hawa nafsunya cukup tinggi. Orang-orang yang sabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya akan mendapatkan nikmatnya iman kepada Allah dan mereka inilah yang disebut orang-orang-orang sabar di sisi Allah. Sabar terhadap larangan-larangan Allah Swt Karakteristik hidup yang menuntut kerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak bagi setiap orang membutuhkan kesabaran tersendiri dalam menghadapi setiap tantangan . Islam telah mengajarkan tentang itu dan menekankan pentingnya menempuh cara-cara yang dalam mencari rezeki dan menghindari hal-hal yang dilarang. Setiap orang yang beriman wajib mengimani bahwa rezeki hanya di tanggal Allah karena dengan keimanan ini akan mendorong mendorong seseorang untuk berlaku sabar dan merasa puas atas apa yang dimiliki walaupun hanya sedikit. Banyak orang yang tidak sabaran sehingga menempuh berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Orang-orang seperti ini termasuk orang yang tidak memiliki kesabaran dan mereka adalah orang-orang yang merugi di sisi Allah. Sabar terhadap takdir Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita sudah menjadi ketentuan Allah sejak lahirnya. Mengimani hal ini akan mempermudah seseorang hidup penuh kedamaian dan ketentraman, misalnya seseorang yang kita sangat cintai meninggalkan kita maka kita harus meyakini bahwa ini adalah sebuah ketentuan yang mutlak diterima dengan penuh kesabaran. Keyakinan terhadap takdir akan mengikis prilaku-prilaku yang tidak baik seperti mengeluh dan menyesali atas apa yang terjadi padahal semua yang terjadi pada diri kita dan keluarga kita adalah ketentuan tuhan yang tidak mungkin dihindari. Mereka yang mengeluh dan menyesali atas apa yang mereka telah ditakdirkan kepadanya jusru akan mengurangi pahala mereka dan mereka itu bukan termasuk yang bersabar.

pembuat aturan yang juga biasa dikenal dengan sebutan hakim, legislator, pihak yang membuat hukum. Dalam konteks hukum Islam syari’ adalah Allah Swt. dan rasul-Nya, Allah disebut syari’ hakiki, sementara rasulullah dikenal dengan syari’ majazi, karena rasulullah hanyalah menjadi perantara dari kehendak Allah.

segala peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk seluruh hamba-Nya, baik yang terkait dengan sistem kepercayaan maupun aturan-aturan praktis. Syari’at yang berhubngan dengan sistem kepercayaan dikenal dengan disiplin ilmu kalam/tauhid, sedangkan yang terkait dengan perbuatan praktis disebut dengan ilmu fiqh.


sanksi atas perbuatan maksiat atau kejahatan yang tidak ditentukan kadar dan variannya oleh syari’ (tidak ditetapkan hukuman had atau kaffarat), tetapi diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang (waliyul amr) dengan tujuan untuk medidik dan memberi efek jera. Bentuk sanksi bisa dengan ditahan, dipukul, denda uang, atau sanksi lain sesuai situasi dan kondisi setempat. Perbuatan yang menimbulkan takzir sangat beragam, misalnya berduaan di tempat sepi dengan wanita yang bukan mahramnya, berkhianat terhadap amanah yang diberikan, dan lain-lain.


Wajib adalah apa yang perintahkan syar’ia secara harus. Hukum wajib adalah mendapatkan pahala bagi yang melaksanakannya dan mendapatkan dosa bagi yang meninggalkannya. Wajib juga disebut fardhu, maktub, dan mahtum seperti sholat lima waktu dan puasa. Fardhu dibagi dua yaitu Fardu Ain dan Fardu Kifaya; Fardu Ain adalah wajib bagi setiap orang melaksanakannya dan Fardhu Kifaya adalah wajib bagi kaum muslimin akan tetapi jika seseorang telah melaksanakannya maka yang lain sudah bebas.

perbuatan yang secara tegas diperintahkan untuk dikerjakan. Ketegasan perintah dapat dilacak melalui indikasi-indikasi yang terdapat dalam redaksi yang digunakan syari’, seperti kata perintah (amar) dalam ayat “dirikanlah shalat”. Pada dasarnya kata perintah (amar) menghendaki perbuatan wajib (al-ashlu fil amri tadullu ‘alal wujub).

kewajiban yang dibebankan oleh syari’ kepada masing-masing individu orang mukallaf. Kewajiban ini tidak akan gugur dengan hanya dilakukan oleh segelintir orang. Oleh karena itu, yang menjadi sasaran kewajiban ini adalah masing-masing individu orang mukallaf.

kewajiban yang dituntut untuk dikerjakan tanpa melihat siapa yang melaksanakan kewajiban tersebut. Kewajiban ini menjadi gugur bagi yang lain dengan hanya dilakukan oleh satu orang mukallaf saja. Dengan demikian, yang menjadi sasaran kewajiabn ini bukanlah individu mukallaf, namun yang terpenting bagaimana kewajiabn ini terlaksana, meskipun hanya dilakukan oleh satu orang mukallaf.

Wudhu merupakan salah satu cara bersesuci menggunakan air yang diawali dengan niat membasuh muka, kedua tangan, kepala dan kaki. Wudhu disyariatkan sebagai suatu syarat dalam beribadah. Dalil disyariatkan wudhu didasarkan pada Qur’an ( al-Maidah : 6) dan hadist Nabi: tidak akan diterima shalat salah seroang di antara kalian apabila ia masih berhadas, sampai ia wudhu” (Bukhari Muslim, abud daud dan tirmidiz).