Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad Saw., Husein bin Ali bi Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bi Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharram, 61 Hijriyah (681 M).

Istilah “Tabot” berasal dari kara Arab yang secara harfiah berarti “kotak kayu” atau “peti”. Dalam al-Quran kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada ditangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapat malapetaka bila benda itu hilang.

Menurut sejarahnya, asal upacara Tabot yang ada di Bengkulu berasal dari India dapat terlihat dari waktu pelaksanaan dan bentuk bangunannya. Dari segi waktunya, upacara Tabot di Bengkulu dilaksanakan setiap tahunnya selama 10 hari (1-10 Muharram) sama halnya dengan festival muharram di India yang berlangsung 10 hari sehingga dikenal dengan Ashura atau Tenth.

Ashura adalah peringatan hari kesyahidan Husain. Dari segi bangunan Tabot, di Bengkulu berupa sebuah bangunan bertingkat yang berbentuk limas (makin ke atas makin kecil) yang terbuat dari papan atau triplek (dulunya menggunakan bahan bambu).

Tinggi bangunan Tabot rata-rata 5-6 meter dan bangunan ini dihiasi dengan kertas berwarna dan dekorasi kertasnya adalah tulisan kaligrafi. Jika malam Tabot-tabot ini dihiasi lampu-lampu kecil beraneka warna mencolok menjadi cemerlang, bahkan dewasa ini telah dilengkapi dengan sistem berputar.

Puncak bangunan adalah payung, kemudian bangunan Tabot diarak dalam acara arak gedang dan pada acara Tabot tebuang yang berlangsung pada tanggal 9-10 Muharram. Sedangkan dalam perayaan muharram di India dibuat sebuah Tugu (biasanya disebut Ta’ziyah atau Tabot) sebagai peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad Saw.

Perayaan Tabot di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syekh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Kemudian Imam Senggolo menetap di kota Bengkulu menikahi 2 orang wanita setempat yang pertama cinggeri selebar bernama Nurhumma mendapatkan 7 orang anak dan kedua dari sungai Lemau pondok kelapa juga memperoleh 7 anak hingga waktu ini mempunyai keturunan yang banyak sebagai inti dari masyarakat melayu islam pewaris tradisi perayaan seni budaya Tabot.

Kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot (Sipai). Selanjutnya Imam Senggolo memberi nama padang karbala pada tanah seluas 40 hektar yang saat ini terletak antara kelurahan Padang Jati dan kelurahan Kebun Tebeng yang digunakan sebagai arena acara prosesi ritual budaya Tabot terbuang.

Peran Syekh Burhanuddin Ulakan

Syekh Burhanuddin Ulakan memperkenalkan tradisi Tabot (perayaan Asyura) dan basapa (berjalan) di pesisir barat Sumatra abad ke-17. Sementara Syekh Jalaluddin Aididu memperkenalkan tradisi maudu lompoa (maulid Nabi yang agung) di daerah Makassar pada abad ke-17. Perayaan Tabot, Basapa, dan Maudu Lompoa semuanya menunjukkan karakter Islam Syi’ah. Tradisi ini dikenalkan sebagai instrumen penyebaran agama Islam di Nusantara.

Syekh Burhanuddin Ulakan dikenal sebagai penyebar Islam pertama di daerah Minangkabau dan Bengkulu, sementara Syekh Jalaluddin Aidi adalah salah seorang tokoh penyebar Islam di daerah Sulawesi Selatan.

Seni budaya Tabot selalu menyesuaikan kepada keadaan setempat kemana tabot itu dibawa dan ditampilkan sehingga antara satu tempat dengan tempat lainnya pada akhirnya terjadi perbedaan tradisi dalam berbagai hal antara lain: wujud benda-benda yang digunakan, tata cara dan tertib acara yang ditampilkan. Meski demikian misi yang dilakukan adalah sama yaitu mengenang segala syahid di Karbala Irak, mengenang kejayaan Islam, menyongsong tahun baru Hijriyah dan memuliakan serta memberi penghormatan kepada Imam Husain sebagai cikal bakal ummat.

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, ada yang berpendapat lain bahwa diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi’ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.

Dalam perkembangannya, di Bengkulu, jika pada awalnya upacara Tabot digunakan oleh orang-orang Syi‘ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk memenuhi wasiat leluhur mereka.

Ritual Tabot di Bengkulu dikelompokkan dalam dua jenis. Pertama, Tabot sebagai ritus yang berarti merupakan keseluruhan rangkaian kegiatan ritual yang dilaksanakan mulai malam tanggal 1 sampai 10 tiap bulan Muharram. Sebagai ritus, ritual Tabot dipimpin oleh seorang anggota keluarga Tabot yang menguasai secara detail ritual ini dan yang dianggap memiliki kemampuan spiritual untuk melaksanakan ritual tersebut.

Kedua, Tabot lebih bersifat fisik. Tabot dalam pengertian ini dipahami sebagai suatu ornamen berbentuk candi atau rumah yang mempunyai satu atau lebih puncak dengan ukuran yang berbeda-beda dibuat dari bahan-bahan tertentu dan dikhususkan untuk ritual Tabot.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.