khalifah di bumi
khalifah di bumi

Tafsir Al-Quran Surah Al-Baqarah Ayat 30: Tugas Khalifah di Bumi untuk Menjaga Lingkungan Hidup

Masalah lingkungan hidup merupakan masalah global yang semakin disadari sebagai masalah yang kompleks dan serius yang dihadapi oleh umat manusia di dunia. Semakin padatnya jumlah penduduk, terbatasnya sumber daya alam, dan penggunaan teknologi modern untuk mengeksploitasi alam secara semena-mena, membawa kepada semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup. Erosi, pengurasan sumber-sumber daya alam, lapisan ozon yang rusak, pengotoran dan perusakan lingkungan, menghasilkan ketidakseimbangan ekologis, yang pada gilirannya akan sangat membahayakan kelangsungan hidup umat manusia.

Dalam berbagai kesempatan Allah SWT sering kali mengingatkan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan agar terhindar dari bencana. Sebagai agama yang hanif, Islam dalam pesan moralnya melalui ayat-ayat suci Al-Quran, acap kali menyapa pembacanya dengan gaya yang khas, yang hanya menerapkan aspek moral ketimbang aspek hukum dalam menjaga kelestarian alam. Tulisan ini secara khusus menerangkan tentang tugas khalifah yakni, menjaga dan melestarikan Alam.

Kewajiban Manusia Menjaga Lingkungan

Surah Al Baqarah ayat 30 memberikan kewajiban manusia untuk menjaga lingkungan juga sangat terkait dengan posisi manusia sebagai khalifah dimuka bumi dalam bahasa Arab diartikan sebagai wakil Allah di muka bumi. Maka manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebaga sebuah amanah yang diberikan Allah SWT. Dalam konsepsi Islam, manusia merupakan khalifah di muka bumi. Secara etimologis, khalifah merupakan bentuk kata dari khulifun yang berarti pihak yang tepat menggantikan posisi pihak yang memberi kepercayaan. Adapun secara terminologis, kata khalifah mempunyai makna fungsional yang berarti mandataris, yakni pihak yang diberi tanggungjawab oleh pemberi mandat (Allah). Dengandemikian, manusia merupakan mandataris-Nya di muka bumi.

Menurut Quraisy Shihab kekhalifahan ini mempunyai tiga unsur yang saling berkait, Ketiga unsur tersebut yakni: Pertama, Manusia yang dalam hal ini dinamai khalifah. Kedua, Alam raya, yang ditunjuk oleh Allah sebagai bumi. Ketiga, Hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia (istikhlaf atau tugas-tugas kekhalifahan).

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (3) : Kriteria Perjalanan yang Membolehkan Tidak Puasa

Pemahaman ini juga selaras dengan penafsiran Tahaba’taba’i yang memaknai term khalifah pada ayat tersebut tidaklah berkonotasi politis individual, namun kosmologis komunal. Dengan demikian, Adam dalam hal ini bukanlah sebagai sosok personal, namun dimaknai sebagai simbol seluruh komunitas manusia. Dengan demikian, penyandang khalifah dalam hal ini adalah seluruh spesies manusia. Hubungan antara manusia dengan alam atau hubungan manusia dengan sesamanya bukan merupakan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan atau antara tuan dengan hamba tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah Swt. Karena kemampuan manusia dalam mengelola bukanlah akibat kekuatan yang dimilikinya tetapi akibat anugerah Allah SWT.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang berkait juga bermakna bahwa manusia selama-lamanya dimaksudkan untuk menciptakan semua di sekitar dia selalu dalam keadaan berkait. Jadi dengan begitu akan ada semangat atau gerakan berkomunikasi, berpasukan dan berfikir kritis. Islam mengatur supaya manusia beriman, beramal shaleh, saling memberi nasehat baik tentang kebenaran maupun tentang kesabaran. Dengan begitu maka manusia akan mewarisi surga firdaus dunia yang apik, rapi dan indah serta sejahtera untuk selanjutnya akhirat yang abadi-abadi.

Prinsip yang Harus Dipegang Manusia Ketika Berhadapan dengan Alam

Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam:

Pertama, Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature)

Dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (2) : Sakit dan Perjalanan yang Membolehkan Tidak Berpuasa

Kedua, Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)

Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagiandari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.

Ketiga, Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)

Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.

Keempat, Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature)

Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.

Manusia umumnya bergantung pada keadaan lingkungan sekitar (alam) yang berupa sumber daya alam sebagai penunjang kehidupan sehari-hari, sepertipemanfaatan air, udara, dan tanah yang merupakan sumber alam yang utama, lingkungan yang sehat dapat terwujud jika manusia dan lingkungan dalam kondisi yang baik. Krisis lingkungan yang terjadi pada saat ini adalah efek yang terjadi akibat dari penggelolaan atau pemanfaatan lingkungan manusia tanpa menghiraukan etika. dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi oleh manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral.

Baca Juga:  Ketika Allah Menghibur Rasulullah dengan Surah Pendek Ini

Manusia kurang peduli terhadap norma-norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang seharusnya dengan norma-norma ciptaan dan kepentingannya sendiri. Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan „hati nurani. Alam dieksploitasi begitu saja dan mencemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan kualitas sumber daya alam seperti pinahnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

makan bersama

Berkah dan Manfaat Makan Bersama

Makan berjamaah atau berkelompok adalah cara makan yang disunahkan dan lebih mengikuti Rasulullah SAW. Makan …

etika humor

Etika dan Batasan Humor dalam Tuntunan Al-Qur’an

Humor merupakan hiburan yang sering ditemukan dalam keseharian. Sejak zaman klasik hingga era kontemporer, manusia …