persatuan
persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, pemahaman dan lainnya. Keragaman itu juga semakin berwarna ketika Islam dibawa masuk ke ranah kehidupan yang luas seperti politik, ekonomi dan sosial-budaya. Di Indonesia, fakta keragamaan itu tak bisa dihindari. Oleh karena itu, ikhtiar yang perlu dan terus digelorakan adalah membangun persatuan dalam keragaman. Di sinilah, tafsir kebangsaan itu hadir. Agar beragama tidak menjadikan keragaman itu sebagai mala-petaka, sumber perpecahan, melainkan bisa menjadi bekal kuat untuk membangun persatuan.

Lalu, bagaimana Islam membangun persatuan dalam keberagaman? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita tengok (kembali) manfaat persatuan sebagaimana yang disebutkan dalam ajaran Islam. Dengan mengetahui manfaat ini, diharapkan akan mampu mengantarkan seseorang mempunyai pemahaman yang utuh tentang persatuan dan kemudian akan mendorongnya untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memperjuangkannya dalam konteks kehidupan yang lebih luas (berbangsa).

Manfaat Persatuan dalam Islam

Diantara sifat yang menimbulkan laku anarkis adalah anti keragaman. Umumnya, kelompok yang menolak keragaman “berlindung” pada ayat al-Qur’an, seperti Qs. At-Taubah [9]: 5:

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka disetiap tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”

  1. Akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang atau kelompok yang sudah kuat.

Persatuan itu tidak hanya menciptakan sebuah kekuatan, melainkan juga sinegitas antara satu dengan lainnya. Ilustrasinya bak batu bata. Sekuat dan semahal apapun batu batu itu, tetapi hanya satu, takkan berdampak optimal bagi siapapun. Lain halnya jika batu bata tersebut disatukan; direkatkan antara satu dengan lainnya, maka akan kuat dan indah.

Baca Juga:  Etika Seorang Mufasir

Yang demikian itu sudah diisyaratkan oleh Rasulullah:

“Orang Mukmin yang satu dengan mu’min lainnya bagaikan bangunan yang saling memper-erat (menguatkan). (Muttafaqun alaih).

Sabda Rasulullah tersebut juga sudah lebih dahulu ditegaskan oleh Allah. Bahwa orang muslim itu harus berbaris dalam satu bangunan yang kokoh (QS. Ash-Shaf: 4).

  1. Merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran.

Perang saat ini tidak semata-mata mengandalkan serdadu atau nuklir, tetapi lebih dulu dan efektif menggunakan cara memecah-belah kelompok. Adu domba dan sejenisnya saat ini menjadi senjata yang ampuh untuk melemahkan suatu kelompok atau bangsa. Sebab, dengan mengadu domba, akan menyebabkan perselisihan yang pada puncaknya melahirkan disintegrasi.

Dalam hal ini, kita patut bercermin dari kisah seekor domba. Srigala akan merasa segan jika seekor domba berada dalam barisan jamaah domba. Srigala akan berani memangsa domba apabila domba tersebut keluar dari kawanannya atau berjalan sendirian.

Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Indonesia yang beragaman ini, di kalangan beberapa kelompok, dianggap menjadi sesuatu yang tidak seharunsya terjadi. Akibatnya, perbedaan dalam keberagaman itu menjadi alasan untuk berpecah-belah, saling menuduh, menfitnah dan mengolok-olok kelompok lainya yang berbeda. Kelompok ini belum sepenuhnya paham bahwa Islam sangat membenci perpecahan, sebagaimana yang penulis uraikan pada seri pertama artikel tentang tafsir kebangsaan.

Sebagai satu saudara se-tanah air, setiap warga, entah itu mau Islam dan selainnya, memiliki kewajiban yang sama, yakni menjaga persatuan dan persatuan. Perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah-belah. Oleh karena itu, perlu ditegaskan tentang cara Islam membangun persatuan dalam keberagaman.

Pertama, tidak ada paksaan dalam beragama (QS. al-Baqarah [2]: 256). Dalam ajaran Islam, tidak dibenarkan perilaku memaksa seseorang atau kelompok tertentu untuk memeluk Islam. Tugas umat Islam adalah memberikan petunjuk dan mengajak ke jalan yang (mendakwahi). Setelah itu, semuanya dikembalikan ke diri masing-masing; mau beriman kepada Allah atau sebaliknya. Dakwah itu mengajak, bukan memaksa. Hal ini, antara lain, sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS. al-Kahfi ayat 29.

Baca Juga:  Tafsir Surat al Jin ayat 19: Nabi Dikerumuni oleh Jin?

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا

Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”.

Fakhr al-Din al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghaib (VII/15), ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan bahwa Allah tidak membangun keimanan di atas pemaksaan, melainkan menegakkan kekokohan dan kebebasan memilih. Lebih lanjut, beliau mengingatkan kepada umat Islam bahwa pemaksaan keyakinan akan menghasilkan keyakinan dan keberagamaan yang keropos dan mudah goyah.

Kedua, mengakui dan menghormati adanya perbedaan keragaman manusia. Selain‘membebaskan’ manusia untuk beriman kepada Allah atau tidak dengan konsekuensi masing-masing, Allah juga menegaskan bahwa semua manusia memliki derajat yang sama. Penciptaan manusia yang beraneka ragam itu, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Hujarat ayat 13, harus bisa menjadi sebuah harmoni; yakni saling berinteraksi positif.

Ulama Nusantara seperti Quraish Shihab menjelaskan maksud QS. al-Hujarat ayat 13 bahwa Allah menciptakan manusia beraneka ragam sifat, bentuk, tradisi, dan budaya dengan tujuan agar manusia bisa berinteraksi dan menjalin kerja sama antara satu dengan lainnya.

Ketiga, Allah tidak berkehendak menciptakan manusia umat yang satu. Banyak ayat yang berbicara tentang hal ini, diantaranya adalah QS. Hud [11]: 118-119; Yunus [10]: 99; al-Maidah [5]: 48 dan lain-lain.

Baca Juga:  Ketika Allah Menghibur Rasulullah dengan Surah Pendek Ini

Menurut pakar Tafsir Ibnu Katsir (2006: 583), QS. Hud ayat 118-119 misalnya, adalah sebagai petunjuk bahwa manusia akan senantiasa berbeda dalam agama mereka, keyakinan, ideologi, jalan hidup dan pemikiran mereka.

Setidaknya dari tiga poin yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan dengan tegas bahwasannya Islam sangat menghargai keanekaragamaan. Pada saat yang sama, juga menekankan akan persatuan. Demikianlah cara Islam membangun persatuan dalam keberagaman. Cara ini-lah yang dicontohkan oleh Nabi ketika di Madinah melalui Piagam Madinah.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

perpecahan

Tafsir Kebangsaan [1]: Islam Membenci Perpecahan!

Yusuf Qardhawi dalam bukunya, “Ash-Shahwah al-Islamiyah, Bainal Ikhtilafil Masyra’ wat Tafarruqil Madzmum” menjelaskan bahwa ditinjau …