tafsir al-quran
tafsir surat fusshilat 30

Tafsir QS Al Baqarah Ayat 120 : Yahudi dan Antipatinya Kepada Islam

Yahudi sejatinya adalah istilah yang merujuk kepada sebuah agama, etnisitas, atau suku bangsa. Sebagai agama, istilah ini merujuk kepada umat yang beragama Yahudi. Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada suku bangsa yang berasal dari keturunan Ibrani atau Ya’kub yang juga dikenal dengan nama “Israel”), anak Ishak anak Abraham (Ibrahim) dan Sara, atau keturunan Suku Yahuda, yang berasal dari Yahuda, anak Yakub. Etnis Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak beragama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi. Agama Yahudi adalah paduan antara agama dan suku bangsa.

Sejarah kelam penuh penistaan yang dialami Bani Israel, dari terusir dari Tanah Yarusalem oleh orang Babilionia hingga perbudakan oleh orang orang Romawi menjadikan mereka kuat dan cerdas, hingga mereka Adigang, Adigung, Adiguna. Ini tak mampu meng-cancel kutukan langit. Mereka diembargo dari berkah berkah langit.

Firman Allah

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya : “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah”. Al-Baqarah[2]:120

Ibn al-Jawzi menuturkan tiga sebab berbeda yang melatar belakangi turunnya ayat ini. Pertama, berawal dari obsesi Yahudi Madinah dan Nasrani Najran yang berharap penuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama dan umatNya saat shalat tetap menghadap kiblat mereka Masjidil Aqsha. Namun harapan mereka seketika pupus saat Umat Islam diperintah untuk menghadap Ka’bah saat shalat. Mereka kecewa yang berujung dendam. Lantas turunlah al-Baqarah, 120.

Baca Juga:  Tafsir Al-Haj 39-40 : Larangan Merusak dan Perintah Melindungi Rumah Ibadah

Kedua, Yahudi Madinah dan Nasrani Najran membujuk Rasulullah agar menganut agama dan kepercayaan mereka. Lalu turunlah al-Baqarah,120. Ketiga, Yahudi Madinah dan Nasrani Najran mendesak Rasulullah untuk melakukan perdamaian. Lalu Allah mengingatkan Nabi dengan al-Baqarah, 120. Zad al-Masir, 1/120

Dari keterangan ini bisa disimpulkan bahwa, karakteristik orang Yahudi, selalu mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya (egoistik). Tentu karakter ini, tidak terlepas dari karakter nenek moyang mereka, Yehuda, putra keempat nabi Ya’kub, saudara, Nabi Yusuf yang penuh dengan akal bulus, dan tipu muslihat serta rencana licik.

Pertanyaannya apakah semua orang Yahudi akan memiliki karakter yang memusuhi Islam?

Menilik dari sebab turunnya ayat ini, konteks ayat ini sedang memotret perilaku kelompok Yahudi Madinah yang memiliki karakter untuk selalu meminggirkan dan benci terhadap agama Islam. Artinya, belum tentu Yahudi lainnya, memiliki karakter yang sama. Semisal Kisah Ibnu Hajar al-Asqalani dan Yahudi Si Penjual Minyak yang masuk Islam. (https://islamkaffah.id/kisah-ibnu-hajar-dan-syahadat-yahudi-si-penjual-minyak/) ini membuktikan betapa lembutnya hatinya hingga mampu menerima cahaya terang hidayah.

Namun dalam pandangan Ibnu Ajibah, Ayat ini memberikan informasi yang tegas bahwa Orang-orang yahudi secara umum akan senantiasa berantipati kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama, walaupun Beliau tidak mengusik ajaran mereka (tidak menghalangi mereka kecuali Beliau bersedia mengikuti ajaran mereka.

Ajaran mereka sesungguhnya adalah ajaran hawa nafsu dan bukan merupakan ajaran agama karena sesungguhnya mereka telah merubah ajaran agama yang sesungguhnya. Sebagai jawaban untuk mereka beliau diperintahkan untuk menegaskan bahwa petunjuk yang boleh diikuti adalah petunjuk Allah bukan petunjuk hawa nafsu mereka. Ibnu Ajibah mengatakan, sampai kapanpun Yahudi tak pernah menerima Islam sebagai petunjuk ajaran. Al-Bahr al-Madid, 1/158.

Baca Juga:  Pandangan Al-Quran tentang Bunuh Diri dan Dampaknya di Dunia dan Akhirat

Oleh karena itu, mereka tidak akan pernah berdamai dengan Islam. Dan sepertinya, genjatan senjata yang mereka lakukan dengan Hamas hanyalah sekedar kedok untuk mendapatkan simpati Negara-negara yang mulai mengutuk agresi mereka ke Palestina.

Tetapi apakah semua Yahudi seperti itu? Bukankah banyak orang dan umat Yahudi yang tidak sepakat dengan kebijakan zionis Israel?

Saya yakin, jika bukan saat ini, besok atau lusa dan suatu saat nanti, mereka akan mengulang sejarah kelam keterasingan mereka dan perbudakan mereka. Hingga takkan ada sebuah kekuatanpun yang sanggup menjadi dewa penolongnya kecuali Allah. Kepada Saudaraku di Palestina, jangan takut dan gusar. Karena sesungguhnya mereka Yahudi Israel sedang menggali lubang duka yang terbuka.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo