Tafsir Quran taubatnya adam

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 37-38: Taubatnya Adam dan Ultimatum Allah

Sebagai umat Islam kita pasti pernah mendengar sebuah kisah yang sangat melegenda, tentang taubatnya abul basyar atau bapak  seluruh umat manusia yakni Nabi Adam a.s. Kisah ini pun diabadikan di dalam Alquran sebagai ibarah bagi keturunannya agar senantiasa bertaubat kepada Allah SWT ketika tergelincir dalam lubang kehinaan. Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang kisah taubatnya Nabi adam as, namun dalam hal ini penulis lebih berfokus terhadap Q.S. al-Baqarah ayat 37 dan 38.

Hidup berdua di dalam syurga yang merupakan tempat berbagai kenikmatan dan kesenangan, Nabi adam dan istri tercintanya hawa telah diberikan anugerah untuk menikmati berbagai fasilitas syurgawi kecuali pohon larangan. Namun, keduanya terpengaruh oleh bujuk rayu iblis, dan memakan buah dari pohon tersebut. Setelah kejadian itu Nabi Adam a.s. sangat menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah SWT, hal ini termaktub di dalam ayat 37 Q.S. al-Baqarah:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Maka, Adam mendapatkan beberapa kalimat dari Tuhan, lalu dia kembali kepadanya. Sungguh Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Q.S. al-Baqarah: 37]

Lantas, taubat seperti apa yang dilakukan Nabi Adam sehingga Allah Swt membimbingnya dengan beberapa kalimat? Pertama, Nabi Adam a.s. sangat menyesali perbuatannya. Kedua, mengakui bahwa beliau memang berbuat dosa dan mencela perbuatannya. Dan yang ketiga, tak putus asa terhadap ampunan Allah SWT dan bersegera melakukan taubat. Maka penyesalan, pengakuan, sikap optimisme terhadap pengampunan Allah, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahannya menjadi kunci diterimanya taubat seseorang.

Selanjutnya, ada dua kata yang sangat menarik untuk dikaji. Yakni kata فَتَلَقّٰٓى yang mempunyai arti “menerima”, dan kata كَلِمٰتٍ yang berarti “beberapa kalimat.” Menurut Muhammad Ali al-Shabuni, Fatalaqqā mempunyai makna penerimaan, resepsi. Sejalan dengan pendapat Quraish Shihab, menurutnya kata تَلَقّٰٓى sikap menerima berasal dari akar kata laqiya yang artinya menerima atau bertemu.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al-Baqarah 101-103 (2) : Hukum Belajar dan Mengajarkan Sihir

Terdapat tambahan huruf ta’ yang mengindikasikan adanya kebahagiaan tertentu terhadap penerimaan itu, penambahan tersebut sekaligus sebagai penjelelasan bahwa yang dimaksud perjumpaan dan penerimaan haruslah disertai ikhtiar dan kesungguhan, kemudian ketika seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menggapai sesuatu yang sangat diimpikan, tentulah akan bahagia ketika harapannya telah tercapai.

Berikutnya, apa yang dimaksud dengan “kalimātin” atau beberapakata yang diterima Nabi Adam? Terdapat sebuah riwayat yang penulis temukan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, berasal dari Abu Ja’far al-Razi meriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Anas, dari Abul Aliyah terkait Q.S. al-Baqarah 37. Disebutkan bahwasanya setelah melakukan kekhilafan, Nabi Adam berdo’a  “Ya tuhanku, bagaimana jikalau hamba bertaubat dan memperbaiki diri? Kemudian Allah berfirman, “ Kalau begitu, Aku akan memasukkan kamu ke dalam surga.” itulah penjelasan dari “beberapa kalimat” yang mempunyai makna tersirat, bisa jadi mempunyai arti penyampaian “penerimaan” ampunan dari Allah terhadap Nabi Adam dan istrinya.

Tuntunan dan Ultimatum dari Allah

Setelah Allah menerima taubatnya Nabi Adam dan Hawa, pada ayat berikutnya Allah memerintahkan Adam, Hawa, dan iblis untuk turun ke bumi. Ayat ini merupakan ayat tuntunan dan ultimatum dari Allah SWT. Firman Allah SWT:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman: Turunlah kalian semua darinya (surga itu)! Lalu, apabila telah datang petunjuk-Ku kepada kamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak akan ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Q.S. al-Baqarah: 38]

Ayat ini berisikan perintah dari Allah kepada Nabi Adam dan istrinya beserta iblis yang menggoda keduanya untuk pergi meninggalkan surga, kata perintah yang digunakan yakni اهۡبِطُوۡا “Turunlah kalian”,  مِنۡهَا “darinya” yaitu surga, dipertegas oleh kalimat berikutnya جَمِيۡعًا “semuanya” dalam hal ini yang dimaksud adalah Nabi Adam, Hawa, dan Iblis yang telah memperdayainya.

Baca Juga:  Etika Seorang Mufasir

Berikutnya berisikan tuntunan dan peringatan bagi anak cucunya (umat manusia) agar di kemudian hari selalu mengikuti petunjuk dari Allah, selalu berada pada jalan kebenaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul melalui kitab-kitab sucinya dan akhlaknya serta apa yang disampaikan olehnya. Barangsiapa mengikuti petunjuk tersebut, menerima dan mengimani segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah di dalam syari’atnya, maka niscaya tidak akan dijumpai kekhawatiran terhadap mereka dalam menghadapi nasibnya di akhirat kelak, dan mereka tidak pula bersedih hati terhadap perkara dunia yang terlewati.

Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian, melalui pemaparan di atas sudah semestinya kita sebagai makhluk penuh dosa agar senantiasa bertaubat kepada Allah SWT dalam segala keadaan, menjadikan Alquran dan sunnah sebagai pijakan dalam menjalani hidup.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA