makna kafir
kafir

Tafsir Surah Al-Hadid ayat 20: Makna Kata Kafir

Al-Quran merupakan sumber hukum utama umat Islam. Muhammad Ali Ash-Shabuni mendefinisikan al-Qur’an sebagai suatu firman dari Allah Swt yang tidak ada tandingannya. Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan penutup para Nabi dan Rasul melalui perantara malaikat Jibril.

Sehingga, umat Islam haruslah menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup. Namun sebelumnya, perlu diketahui,  bahwa mempelajari al-Quran merupakan suatu keharusan. Hal tersebut bertujuan agar tidak salah dalam memahaminya. Sebab, kita tidak hanya membaca, tapi juga ada kewajiban lain kita terhadap al-Qur’an, seperti mengamalkan dan mengajarkannya.

Maka, pemahaman kepada al-Qur’an secara komprehensif sangat dibutuhkan. Dan, pemahaman itu bisa kita dapatkan atau pelajari dari kajian-kajian yang bersumber dari ulama-ulama yang memiliki kapasitas baik dalam memahami al-Qur’an. Termasuk dalam mengatahui korelasi ayat satu dengan ayat lainnya dalam al-Qur’an.

Untuk itu,  tulisan ini akan membahas mengenai kata yang terdapat dalam al-Qur’an yang memahaminya perlu menghubungkan dengan ayat lain. Mengapa demikian? Sebab,  ada beberapa ayat atau kata yang sering disalahpahami. Dampaknya adalah kekeliruan. Nah, dari situlah perlunya menghubungkan suatu kata dengan kata lain yang hampir sama maknanya.

Sebagai contoh, penyebutan kata kuffar yang berasal dari kata ka-fa-ra atau kafir di dalam surah al-Hadid ayat 20 berikut:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Berdasarkan ayat tersebut, kata al-Kuffar memiliki makna awal yakni petani. Sebab, aktifitas yang dilakukan oleh seorang petani itu bertempat di sawah atau di ladang. Ia menanam diawali dengan menggali tanah kemudian menutup lubang agar aman dari binatang-binatang seperti burung. Maka, menutupi atau menyembunyikan itulah makna awal petani sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an.

Kata kuffar atau kafir lain yang juga sering dibaca dan dikaji di dalam kajian keislaman ialah terdapat pada surah al-Baqarah ayat 6:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”

Dalam surah al-Baqarah ayat 6 dijelaskan tentang orang kafir yang diberi peringatan atau yang tidak diberi peringatan akan sama saja tidak beriman. Itu muncul sebab pemahaman umum yang memaknai orang kafir yang berarti tidak beriman. Sehingga, sekilas surah al-Baqarah ayat 6 seolah menyatakan bahwa tidak diperlukan kegiatan berdakwah kepada orang kafir.

Kita tahu bahwa mereka ‘orang kafir’ tidak akan beriman,  baik diberi peringatan ataupun tidak diberi peringatan. Namun, ketika kata kafir di atas dihubungkan dengan kata yang berasal dari ka-ta-ma, tentu kita akan menjumpai pemaknaan yang sesungguhnya. Bahwa pemaknaan tidak hanya merujuk pada satu ayat, seperti surah al-Baqarah ayat 6.

Dalam surah al-Baqarah ayat 159:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.”

Mereka itu sebenarnya mengetahui kebenaran, akan tetapi tidak mau menerimanya. Sebagaimana yang dijelaskan di surah al-Baqarah ayat 159, bahwa ada orang-orang yang justru menutupi atau menyembunyikan suatu kebenaran. Tentu dengan beragam motif dan alasannya masing-masing yang bersifat duniawi.

Itulah makna kafir yang kita ketahui yang berarti ingkar. Semoga umat Islam bisa memahami al-Qur’an dengan tepat agar al-Qur’an benar-benar dapat dijadikan pedoman hingga akhir zaman. Aamiin.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar of Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang

Check Also

tafsir

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 80: Fungsi Kekuasaan Menurut Al-Quran

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا Artinya: …

sulit bersyukur

Merasa Sulit Bersyukur? Kenali Penyebabnya

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka …