tafsir al-quran

Tafsir Surah Al-Hujurat 11-12; Akhlak untuk Tidak Mengolok-olok dan Mencela

Akhlak adalah budi pekerti yang dijunjung tinggi oleh umat Islam. Karena hal itu merupakan visi mulia sejak Nabi Muhammad SAW diutus di muka bumi persada ini. Salah satu akhlak Nabi yakni tidak mencela atau mengolok-olok orang lain.

Sementara toleransi menjadi bagian penting dari akhlak untuk menunjukkan sikap moderasi Islam dalam kehidupan umat beragama. Hal ini sebagaimana telah digambarkan dalam Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Q.S. al-Hujurat: 11]

Dalam tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhaily memaknai lafadz lā yaskhar adalah jangan menghina, meremehkan, dan mencela. Al-Qurthubi berpendapat as-Sukhriyyah adalah al-Istihza’ yang berarti olok-olokan. As-Sukhriyyah dan as-Sikhrā, maknanya al-izdiraa’ wal ihtiqār (menghina dan meremehkan).

Kemudian Ibnu Katsir memaknai ayat di atas agar umat manusia tidak mencela satu sama lain. Orang yang mengolok dan mencela orang lain (baik laki-laki maupun perempuan), maka mereka sangat tercela dan terlaknat.

Kalamullah selanjutnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al-Baqarah 183-187 (5) : Bagi Musafir Lebih Utama Puasa atau Ifthar?

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.[Q.S. al-Hujurat: 12]

Kedua ayat di atas pada dasarnya mengandung nilai-nilai toleransi, baik dalam toleransi beragama, budaya, etnis dan sebagainya. Di samping itu, juga mengisyaratkan makna bahwa menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi ialah merupakan cerminan akhlak Islam, yakni dengan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Sebagaimana merendahkan, mencela, mengolok-olok, dan sebagainya, disebut juga dengan sifat Stereotip Negatif. Hal ini identik dengan prasangka buruk terhadap seseorang atau kelompok lainnya. Sehingga hal tersebut jauh dari ceminan akhlak Islam.

Dengan demikian, maka ayat di atas melarang hal tersebut dalam rangka menunjukkan bahwa toleransi umat Islam baik secara internal maupun eksternal ialah merupakan bagian dari cerminan akhlak yang digambarkan oleh Islam.

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA