Harta Karun
Harta Karun

Tafsir Surah Al-Qassash 76 : Kisah Qarun dan Pelajaran Kesombongan dan Ketamakan yang Membinasakan

Allah berfirman :

إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ

Terjemah Ayat : Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Ayat al-Quran mengukuhkan, Qarun adalah orang dari Bani Israil yang hidup sezaman dengan Nabi Musa. Ia binasa sebelum sempat meninggalkan Mesir dan sebelum Fir’aun ditenggelamkan Allah. Kendati Qarun binasa lebih awal dibanding Fir’aun dan Haman, akan tetapi selama hidupnya, ia berpihak dan sangat mendukung semua tindakan Fir’aun.

Ini adalah bukti bahwa semua bentuk kekufuran menyatukan langkah untuk memerangi dan menghancurkan kebenaran. Kenyataan ini semakin membuat kita sadar, bagaimana pun bentuknya kekufuran tetap mempunyai satu tujuan, yakni berusaha memadamkan api kebenaran dan menumpas orang-orang yang beriman, apapun bentuk dan caranya.

Kunci Gudang Harta Qarun

Jika dicermati, kata gudang harta dalam bahasa Arab disebut Kunuuz, dan dalam al-Quran hanya disebutkan dua kali, dan keduanya memuat kisah Fir’aun dan kaumnya.

Pertama, ketika al-Quran menyebutkan harta Qarun yang sekarang kita ikuti kisahnya, harta itulah yang Allah benamkan kedalam tanah bersama pemiliknya yakni Qarun.

Kedua, kata tumpukan harta yang digunakan al-Quran, sejatinya dalah bukti bahwa Qarun tidak perlu bersusah payah dalam bekerja dan berusaha untuk memperolehnya. Dia terus menimbun hartanya sedikit demi sedikit, dan ia juga tidak pernah mau membantu dalam kebaikan salah satunya adalah membantu orang fakir dan miskin guna memudahkan sedikit kelaparan dan dera sakit akibat kelaparan.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 37-38: Taubatnya Adam dan Ultimatum Allah

Di samping itu pula penggunaan kata itu juga menunjukkan bahwa Qarun adalah orang yang sangat serakah, gemar menumpukkan harta, dan tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.

Maksud Kunci dalam Kisah ini

Ada dua pendapat menganai maksud dari kata kunci tersebut, pendapat pertama adalah mengatakan bahwa kunci yang dimaksud adalah al-Quran dalam kisah Qarun adalah kunci gudang hartanya. Sedangkan pendapat kedua adalah mengatakan bahwa kunci disini adalah peti harta itu sendiri. Dengan alasan, dalam bahasa Arab kunci disebut miftah dan dalam bentuk jamak adalah mafatih. Sedangkan dalam kisah ini Allah, menggunakan kata mafatih yang berarti tempat penyimpanan harta.

Secara pribadi saya lebih setuju dengan pendapat kedua, disebabkan selain lebih masuk akal, nuansa maksiat dalam pemaknaan itu lebih tampak dan lebih nyata. Jelasnya jika peti-peti itu diangkat oleh beberapa pria kuat, mereka merasakan beban yang sangat berat, bahkan nyaris tidak bisa berdiri.

Dalam penafsiran dan penjelasan kisah Qarun pula terdapat beberapa kesalahan dan penyimpangan. Yang pertama adalah ada yang mengatakan bahwa kunci-kunci gudang Qarun dibawa oleh tujuh puluh keledai, dan setiap ukuran kunci tersebut berukuran satu jengkal. Yang kedua adalah ada juga yang mengisahkan bahwa Qarun mengetahui Asma Allah yang Maha Agung serta mampu membuat ramuan kimia yang bisa mengubah wadah besi menjadi emas.

Dua kelebihan tersebutlah yang digunakan Qarun untuk mengumpulkan hartanya. Imam Ibnu Katsir membantah membantah dua anggapan ini dengan tegas, menurutnya ramuan kimia apapun tidak akan bisa mengubah besi menjadi emas, mengingat kedua unsur logam tersebut berbeda satu dengan lainnya. Adapun mengenai Asma Allah YangMaha Agung, menurut Ibnu Katsir juga tidak benar, karena Asma Allah tidak berguna jika digunakan orang kafir untuk bedo’a.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah: 183-187 (7) : Bolehkah Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Udzur dan Diganti dengan Fidyah?

Pengaruh Harta pada Jiwa

Cinta harta merupakan satu di antara sekian banyak karakter yang Allah tanamkan dalam jiwa. Sejak zaman azali, harta adalah perhiasan dan lambing kemegahan dunia. Jiwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam menyikapi harta, golongan pertama, orang yang hatinya diselimuti rasa cinta terhadap harta, dia menunjukkan bahwa harta merupakan orientasi hidup, dan pada akhirnya akan binasa karena penyikapan terhadap hartanya tersebut. golongan kedua adalah orang yang mencintai harta hanya sekedarnya saja. Dia hanya mencari harta hanya untuk mendapatkan Ridho Allah swt.

Jika menguasai harta, golongan pertama ini bersikap sombong, yakin bahwa tak akan seorangpun yang bisa menyaingi prestasi yang ia dapatkan, dan seakan-akan ia tercipta dari tanah yang berbeda dengan tanah yang digunakan untuk menciptakan orang lain, memandang orang lain lebih rendah dari dirinya, dan memandang bahwa orang harus menuruti, mendengarkan, dan mematuhi semua perintahnya.

Berdasarkan uraian dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa Qarun bukan orang pertama yang menyalahgunakan hartanya. Ia sejatinya menempuh dan meretas jalan yang serupa dengan orang-orang durjana lainnya dengan meninggikan diri dihadapan masyarakat, menguasai mereka dengan tangan besi, dan menindas mereka dengan kekayaan yang dimiliki. Semoga kita bisa memetik makna dan pelajaran dari kisah Qarun tersebut agar tidak mengikuti cara nya dalam mempergunakan harta dan kekayaannya.

Bagikan Artikel

About Dr. Ahmad Syah Alfarabi

Avatar