tafsir surat al-ahzab
tafsir surat al-ahzab

Tafsir Surat Al Ahzab Ayat 59: Perintah Memakai Jilbab Sebagai Penanda Identitas Muslimah

Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “. (QS. Al Ahzab: 59)

Ayat ini secara eksplisit menyebut jilbab. Kemudian menjadi dalil andalan ketika menjustifikasi keabsahan jilbab. Dari makna lahiriah ayat ini jilbab memiliki makna penting secara simbolis. Selain sebagai penutup aurat, ia juga menjadi penandan identitas muslimah sebagai pembeda dari identitas yang lain.

Supaya tidak memahami ayat di atas berdasarkan terjemahan tekstualnya saja, menjadi keharusan untuk mengetahui latar sejarah yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Historisitas atau asbabun nuzul sangat urgen untuk mengetahui maksud yang (paling mendekati) sebenarnya.

Ibnu Asyur dalam Al Tahrir wa al Tanwir menulis, jilbab adalah istilah untuk menunjuk pada busana yang kecil dari jubah tetapi lebih besar dari kerudung atau penutup wajah. Ia dipakai sebagai penutup kepala, kedua sisinya terulur melewati dua pipi hingga keseluruh bahu.

Lanjutnya, jilbab menjadi identitas muslimah merdeka pada saat itu. Digunakan ketika berjalan atau bepergian di siang hari. Tetapi, ketika malam hari mereka tidak memakainya sehingga tidak ada bedanya antara muslimah merdeka dan perempuan budak. Akibatnya, kejahatan yang menimpa perempuan budak sangat mungkin juga menimpa perempuan muslimah merdeka karena kesamaan tersebut.

Imam Suyuthi dalam al Durr al Mantsur mengutip riwayat Ibnu Sa’ad mengatakan, ayat ini turun sebagai respon atas kejahatan yang sering dialami oleh para perempuan di Madinah pada saat itu.

Kejahatan tersebut berupa kenakalan para lelaki hidung belang yang kerapkali mengganggu perempuan-perempuan yang keluar di malam hari untuk buang hajat. Target pelecehan laki-laki nakal tersebut sebenarnya hanya menyasar para budak. Tetapi karena busana yang dikenakan tidak ada bedanya antara budak dan perempuan merdeka, maka kejahatan jalanan seringkali menimpa perempuan muslimah merdeka.

Baca Juga:  Menakar Maslahah: Bolehkah Kurban Diganti dengan Uang?

Kemudian ayat ini turun supaya muslimah merdeka memiliki identitas sebagai penanda pembeda dengan identitas lain. Tujuannya, supaya muslimah merdeka tidak menjadi korban kejahatan yang dilakukan oleh para lelaki yang tidak bermoral.

Lanjut Imam Suyuthi, jilbab sebagai penanda identitas tampaknya efektif melindungi muslimah merdeka dari kejahatan. Jilbab menjadi identitas kehormatan sekaligus menjadi pelindung bagi muslimah.

Selanjutnya, jilbab sebagai nilai etik dan kehormatan kemudian menjadi identitas formal muslimah yang diatur yang diatur dan dibakukan menjadi hukum oleh ulama-ulama madhab fikih. Menjadi aturan teknis yang harus dipakai oleh setiap muslimah.

Meskipun jilbab telah bertransformasi dari identitas penanda untuk membedakan dengan identitas yang lain menjadi hukum formal agama, tentu penerapannya harus dilakukan dengan cara-cara yang beradab. Tidak dengan cara pemaksaan. Menyampaikan kebenaran adalah kewajiban tapi memaksakan kebenaran itu sangat dilarang.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

money politic

Fikih Politik (6): Hukum Money Politic

Suksesi politik kadang kelewat batas. Yang penting menang. Sekalipun menggunakan cara-cara tidak bermartabat. Demi mendapat …

merayakan kemerdekaan

Memaknai dan Merayakan Hari Kemerdekaan Sesuai Tuntunan Islam

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada 17 Agustus 2022 mendatang telah berumur 77 tahun setelah …