surat yasin
surat yasin

Tafsir Yasin Ayat 7 (5): Hidayah adalah Hak Prerogatif Allah

“Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman”. (Yasin:7)

Ayat ini, dalam Tafsir Yasin Hamami Zadah dijelaskan, Allah yang Maha Mengetahui sebenarnya telah mengetahui kalau sebagian besar kaum Quraisy tidak akan beriman kepada-Nya dan kepada Nabi Muhammad sebagai rasul. Oleh karena itu, mereka pantas mendapatkan hukuman. Di antara mereka yang tidak beriman itu adalah Abu Jahal, ‘Utbah, Syaibah, Mughirah, dan lain-lain.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip perkataan Ibnu Jarir menjelaskan, mayoritas kaum Quraisy layak untuk mendapatkan siksa karena mereka tidak percaya kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad yang telah diutus oleh sebagai Nabi terakhir. Mereka, di Lauh Mahfudz, telah ditetapkan oleh Allah sebagai orang-orang yang tidak beriman.

Dalam Tafsir al al Tahrir wa al Tanwir, Ibnu ‘Asyur menulis bahwa ayat ini memberikan gambaran bahwa kaum Quraisy terbelah pada dua kelompok besar dalam menyikapi kenabian Muhammad dan terhadap peringatan yang disampaikan oleh beliau kepada kaumnya.

Kelompok pertama tidak percaya dan tidak mengindahkan peringatan yang disampaikan oleh Nabi, mereka tetap tidak beriman dan tidak percaya kepada Nabi Muhammad. Sementara kelompok kedua, walaupun sangat sedikit, percaya dan yakin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi. Ini adalah ketetapan Allah sejak dulu, mereka yang ditetapkan sebagai orang kafir dan mereka yang telah ditakdirkan sebagai orang-orang yang beriman.

Dari sini bisa dipahami, hidayah dan petunjuk adalah hak prerogatif Allah. Nabi Muhammad hanya penyampai wahyu, hanya berusaha supaya kaum Quraisy beriman dengan sekuat tenaga. Namun, penentu akhir adalah Allah. Mereka yang mendapat hidayah akan beriman dan yang tidak akan tetap ingkar.

Oleh karena itu, pada saat Nabi Muhammad merasa dirinya gagal membawa sebagian kaum Quraisy, termasuk juga keluarganya untuk beriman, Allah memperingatkan beliau bahwa hidayah hak mutlak Allah. Beliau hanya bertugas menyampaikan risalah Islam.

Baca Juga:  Tafsir Surat At-Taubah 122 : Pentingnya Kaderisasi Ulama

Pelajaran dari ayat ini untuk umat Islam saat ini adalah tidak boleh berdakwah dengan kasar, memaksa dan intimidasi. Cukup meniru Nabi Muhammad yang berdakwah dengan santun dan ramah. Sebab kita, sebagaimana juga Nabi Muhammad, hanya bertugas menyampaikan. Keputusan akhir tetap hak Allah.

Manusia hanya bisa memberikan sarana agar hidayah itu bisa menghampiri. Namun, untuk mendapatkan hidayah adalah hak prerogatif Allah. Bahkan, Allah pun pernah memperingatkan Nabi Muhammad tentang hak prerogatif ini dalam surat  Al Qashash/28 : 56.

Jadi, tugas para muballigh adalah penyampai. Tugas para dai pun hanya mengajak. Dan tugas para ali ulama pun hanya memberikan ilmu untuk menuju jalan hidayah. Tidak ada yang berhak memberikan hidayah kecuali dari Allah. Jangan pernah memaksakan orang lain menerima dan mengikuti kita, karena sesungguhnya kita hanya menyampaikan dan mengajak dengan baik.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …