2021
2021

Tahun baru dan Hadits “Barangsiapa yang Hari Ini Lebih Baik dari Hari Kemarin”


مَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ خَيۡرًا مِنۡ اَمۡسِهِ فَهُوَ رَابِحُ. وَمَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ مثل اَمۡسه فهو مَغۡبُون. ومَن كان يومه شَرًّا مِنۡ امسه فهو مَلۡعُون

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Hadis diatas sudah tak asing lagi bagi kebanyakan orang. Di beberapa forum kajian, para guru atau penceramah menyampaikan hadits tersebut. Diantara tujuan disampaikannya hadis Nabi itu ialah sebagai motivasi untuk kita semua, bahwa hari yang akan datang harus lebih baik dari hari yang telah lalu. Bukan malah bertambah buruk.

Namun, bagaimana dengan kualitas hadits tersebut? Karena jarang penceramah yang menyebutkan derajatnya. Pertanyaan pun timbul mengenai keshahihan hadits ‘Hari ini harus lebih baik dari hari  kemarin’.

Ada beberapa ulama yang meriwayatkan hadits tersebut, diantaranya ialah: Abu Nu’aim Al Ashbahani, Al Harits bin Abdillah Al A’war, Abu Bakar Al Qurasyi, Al Baihaqi. Dari para periwayat yang ada, sungguh masih terdapat keraguan di dalamnya.  Tampak kecacatan ataupun kelemahan sanad-sanad dari hadits ini.

Hal itu ditandai seperti periwayat yang dikenal sebagai pendusta, atau bahkan periwayat yang tidak diketahui identitasnya. Lemahnya sanad hadits inilah yang kemudian menjadikan hadits dha’if(lemah). Apalagi ada yang mengatakan bahwa itu bukanlah hadits.

Lantas, bagaimana kita menyikapi hadits yang demikian?

Walaupun dikategorikan sebagai hadits dha’if, tidak ada salahnya untuk mengambil hal positif yang terkandung di dalamnya. Selama tidak ada yang mengharamkannya, dan selama tidak bertentangan dengan dalil shahih lain, maka itu boleh.

Baca Juga:  Bahaya Sekali Belajar Tidak Memiliki Guru

Momen Tahun Baru

Memasuki tahun 2021, tentu banyak hal yang kita dapatkan di tahun 2020. Segala peristiwa yang telah dilewati, yang baik maupun buruk membersamai selama satu tahun. Sesuatu yang dianggap keburukan adalah bukan untuk disesali, bukan untuk ditangisi, tapi untuk ber-muhasabah diri. Bahwa di tahun baru ini, semua diharapkan bisa lebih baik lagi.

Tentu banyak kesalahan yang kita perbuat. Nah, tugas kita sekarang ialah membenahi kesalahan tersebut. Melakukannya pun perlu strategi, agar hasilnya maksimal dan berusaha agar kesalahan yang sama tidak akan terulang kembali di tahun baru.

Momen pergantian tahun sesungguhnya melatih kita untuk selalu meng-intropeksi diri, dan tak lupa untuk bersukur. Bersyukur atas karunia yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-Nya selama melewati tahun 2020. Sebab, dengan bersukur, maka akan ada balasan kebaikan dari Allah.

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Karena sampai saat kini juga, kita masih mampu untuk beraktivitas, bekerja dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, atas nikmat yang telah kita dapatkan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Di tengah perbedaan warga negara, ialah untuk bersama membangun persaudaraan se bangsa dan se-tanah air. Jadikan tahun baru kali ini untuk melakukan perbaikan-perbaikan, agar kedepannya bisa lebih baik lagi. Aamiin..

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar of Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang

Check Also

sulit bersyukur

Merasa Sulit Bersyukur? Kenali Penyebabnya

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka …

doa 10 hari terakhir ramadan

Amalan Menjelang Ramadan: Perbanyak Doa Ini

Saat ini kita sudah memasuki akhir bulan Sya’ban. Itu artinya, bulan yang penuh dengan keberkahan …