madzhab hanafi
madzhab hanafi

Taliban Berpangku pada Madzhab Hanafi, Ini Karakteristik Pendiri dan Karakteristiknya

Taliban yang berhasil menguasai Afganistan kali ini sebenarnya dalam pemikiran mengikuti salah satu imam besar dalam ilmu fikih yang dikenal dengan madzhab Hanafi. Sementara, pada aspek akidah lebih merujuk pada maturidiyah. Lalu, apa dan siapa sebenarnya madzhab Hanafi?

Pendiri madzhab Hanafi adalah Abu Hanifah al Nu’man bin Tsabit bin Zufti al Tamimi. Lahir tahun 80 H/ 699 M. Karakteristik madzhab ini lebih menekankan pada penggunaan ra’yu (nalar). Karena itu lebih dikenal dengan ahlu al ra’yu. Namun demikian, label ini tidak berarti madzhab Hanafi hanya berdasarkan kepada nalar akal dalam instinbat hukum. Prioritas dan rujukan utama tetap mengacu pada nash al Qur’an dan hadist.

Dalam penggunaan hadits, Imam Abu Hanifah memilih hadits yang yang sesuai dengan nalar akal sehingga lebih mudah dipahami oleh orang awam. Sebagai misal, hadits “Sesungguhnya Nabi melarang berwudhu dari bekas bersucinya wanita” tidak dipakai oleh Imam Abu Hanifah karena ada hadist berdasarkan af’al (perbuatan) Nabi yang membolehkan seorang laki-laki berwudhu dari bekas bersucinya wanita.

Penjelasan ini termaktub dalam Syarah Fathu al Qadir dan Raddu al Mukhtar. Dalam dua kitab ini dijelaskan, telah maklum bahwa ketika Nabi mandi berdua dengan istrinya, satu sama lain mandi dari bekas masing-masing.

Disaat melakukan instinbat (penggalian) hukum, seperti ditulis dalam tarikh al Baghdadi, pertama adalah nash al Qur’an kemudian hadis. Jika tidak ditemukan dalam dua sumber primer hukum tersebut, langkah berikutnya adalah merujuk pada perkataan sahabat. Apabila belum juga menemukan hujjah dari perkataan (atsar) sahabat, langkah berikutnya adalah dengan menggunakan metode istihsan, memilih pendapat yang sesuai dengan nalar akal.

Istihsan dalam madzhab Hanafi adalah bagian dari qiyas (analogi). Contoh metode istihsan, Imam Hanafi membolehkan membuat parit dan saluran air di tanah wakaf, zakat boleh dengan uang, hadyu (binatang yang disembelih dalam rangka ibadah haji dan umrah) harus disembelih di Makkah namun pembagiannya boleh diberikan kepada orang di luar Makkah. Ini berbeda dengan pendapat tiga madzhab yang lain yang mengharuskan penyembelihan dan pembagian di Makkah.

Baca Juga:  Afganistan Kembali Bergolak, Ditengah Perundingan Damai

Walaupun Imam Hanafi menggunakan istihsan dalam beberapa instinbat hukum, namun jangan menyangka beliau lebih mendahulukan akal daripada nash al Qur’an maupun hadis. Istihsan berfungsi sebagai penggalian makna untuk menemukan hukum yang lebih maslahat dan sesuai nalar akal.

Dengan demikian, madzhab Hanafi lebih lentur dalam menyikapi sebuah kasus. Menitik beratkan pada kebaikan dan kemaslahatan. Apabila ada yang mengklaim sebagai penganut madzhab Hanafi, namun sikapnya arogan dan ekstrim tentu telah keluar dari jalur dan garis madzhab Hanafi.

Saat ini, Taliban yang mengaku sebagai penganut madzhab Hanafi, akan terbukti sebagai penganut setia apabila dalam ruang keagamaan menunjukkan sikap yang moderat. Tidak ekstrim dan tidak keras. Sebagaimana karakteristik madzhab Hanafi, sejatinya mereka juga memakai istihsan dalam kasus-kasus tertentu yang secara sharih tidak dilarang ataupun diperintahkan dalam Nash al Qur’an dan hadits.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …

surat al jin

Tafsir Surat al Jin ayat 19: Nabi Dikerumuni oleh Jin?

Pelabelan “Dungu” sangat cocok disematkan kepada Muhammad Kece. Pastinya julukan ini akan diamini oleh semua …