pakaian rasulullah
pakaian rasulullah

Tampilan dan Pakaian Sunnah (1) : Cara Berpakaian Ala Rasulullah Saw

Sudah tidak diragukan bahwa Rasulullah saw merupakan pembawa syariat Islam ke muka bumi ini. Dia adalah syari’ (sosok yang membuat syariat) setelah Allah swt. Di samping itu juga, ia sebagai tauladan kehidupan oleh Islam. Maka tak ayal lagi, setiap apa yang keluar dari Rasulullah saw menjadi pertimbangan dalam Islam. Baik itu berupa qaul (perkataan), fiil (perbuatan) atau taqriri (diamnya).

Berkaitan dengan hal tersebut, ulama’ membagi pada perbuatan Rasulullah saw kepada dua kategori; 1) Perbuatan yang berkaitan hukum, dan 2) Perbuatan manusiawi yang sama sekali tidak berkaitan dengan hukum.

Kategori ini penting agar umat Islam tidak jatuh dalam polemik yang sebenarnya tidak mengandung unsur hukum syariat atau sekedar anjuran menjadi seolah menjadi kewajiban dan identitas muslim. Salah satunya, misalnya, terkait cara berpakaian.

Bagaimana dengan cara berpakaian ? Adakah hukum syariat terkait cara berpakaian dan adakah ciri tertentu cara berpakaian yang islami atau pakaian sunnah?

Berpakaian merupakan bagian dari perbuatan manusiawi yang tidak berkaitan dengan hukum. Sebab itu, tidak ada hukum secara khusus dalam berpenampilan dengan pakaian, kecuali memang ada perintah secara qauli (ucapan), seperti harus menutupi aurat atau berpakaian dengan warna putih. Selebihnya hukum cara berpakaian hanyalah mubah saja.

Hanya saja ada beberapa cara berpakaian dan jenis pakaian di mana menurut ulama’ ini hukumnya sunnah. Kesunnahan tersebut bukan karena sebuah anjuran atau dinilai baik, melainkan mengikuti tatacara yang dilakukan Rasul saw.

Inilah diantara cara berpakaian Rasulullah saw:

1. Pakaian menutup aurat.

Sesuai dengan sabdanya:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا تَنْظُرُ المَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ المَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الوَاحِدِ، وَلَا تُفْضِي المَرْأَةُ إِلَى المَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الوَاحِدِ

Baca Juga:  Membaca Qur’an, Tetapi Dilaknat Qur’an, Koq Bisa?

Artinya: “Seorang laki-laki tidak boleh melihat auratnya laki-laki, begitu juga perempuan tidak boleh melihat auratnya perempuan. Dan tidak boleh laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu baju, begitu pula wanita tidak boleh berselimut dengan wanita lain dalam satu baju” (HR. At Tirmidzi)

2. Pakaian berwarna putih.

Dalam hadits, Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْبَيَاضِ مِنَ الثِّيَابِ فَلْيَلْبَسْهَا أَحْيَاؤُكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ

Artinya: “Hendaknya kalian menggunakan pakaian yang putih, agar supaya orang-orang yang hidup memakainya, dan kafinalah orang-orang yang mati dengan pakaian tersebut, karena sesungguhnya pakaian putih adalah sebaik-baiknya pakaian kalian” (HR. An Nasa’i)

3. Menggunakan pakaian Hibrah.

Pakaian Hibrah adalah pakaian yang terkenal di Yaman dengan ciri-ciri berbelang merah, hijau atau biru.

Sahabat Anas bin Malik ra mengatakan:

كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْبَسَهَا الحِبَرَةَ

Artinya: “Pakaian yang paling disenangi Nabi saw ialah memakai pakaian Hibrah” (HR. Bukhari)

4. Menggunakan Gamis.

Gamis adalah pakaian yang dijahit seluruhnya sampai menutupi seluruh badan, kecuali wajah.

Menurut riwayat Sayyidah Ummu Salamah ra, Rasulullah saw juga suka dengan pakaian gamis. Dalam hadits disebutkan:

لَمْ يَكُنْ ثَوْبٌ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْقَمِيصِ

Artinya: “Tidak ada baju yang disenangi Rasulullah saw daripada gamis” (HR. Al Hakim)

Itulah beberapa cara dan pakaian yang disunnah. Namun ada dua hal yang perlu menjadi catatan penting; Pertama, berpakaian seperti di atas hanya sebatas sunnah. Jadi sebaiknya tidak perlu menghukumi haram dan mengklaim orang lain tidak nyunnah jika tidak melakukan hal tersebut.

Catatan kedua, kesunnahan tersebut karena ittiba’ (hanya ikut kepada kebiasaan Nabi saw) bukan karena anjuran secara syar’i. Sebab tatacara berpakaian di atas karena kesenangan Rasulullah saw saja di mana itu adalah tabiat manusiawi yang suka dan tidak suka terhadap suatu hal. Sehingga hal yang demikian tidak terikat dengan hukum tertentu.

Baca Juga:  Belajar Menghargai Perbedaan: Dari Tradisi Bermadzhab Hingga Pilpres

Wallahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

menabur bunga di makam

Sunnah Dituduh Bid’ah (1) : Menabur Bunga Di Makam, Ini Dalilnya !

Di antara tradisi umat Islam khususnya Indonesia yaitu memelihara makam orang-orang shalih. Memelihara di sini …

aplikasi islami

Hati-Hati Menggunakan Aplikasi Islami ! Berikut Beberapa Aplikasi Milik Salafi Wahabi

Menuntut ilmu agama dalam masalah aqidah dan ibadah hukumnya wajib bagi setiap individu. Sebab pada …