celana cingkrang
celana cingkrang

Tampilan dan Pakaian Sunnah (2) : Benarkah Bercelana Cingkrang Termasuk Berpakaian Sunnah ?

Dengan dalil sesuai pemahamannya sendiri, Salafi Wahabi dengan seenaknya mengklaim orang yang menjulurkan celana atau sarung hingga sampai mata kaki sebagai perbuatan haram. Sebaliknya, menggunakan celana cingkrang adalah cara berpakaian yang benar menurur Islam.

Benarkah demikian hukum bercelana menurut Islam ?

Pertanyaan sederhananya, pernahkah Nabi Muhammad saw bercelana cingkrang… ???

Dalil yang biasa digunakan untuk mengharamkan orang-orang yang bercelana hingga mata kaki adalah sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayat oleh Abu Hurairah ra:

مَا اسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

Artinya: “Kain yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka” (HR. Bukhari)

Hadits lain tentang dalil larangan menjulurkan kain hingga mata kaki yaitu riwayat Abu Dzarr ra:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ مِرَارٍ قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ الله قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

Artinya: “Ada tiga perbuatan di mana Allah tidak akan mengajak bicara terhadap pelakunya, tidak akan melihatnya serta tidak akan mensucikannya di hari kiamat, dan mereka akan di adzab dengan adzab yang sangat menyakitkan. Nabi saw mengatakan demikian sebanyak tiga kali. Abu Dzarr ra bertanya: “Mereka orang yang gagal dan rugi, siapakah mereka itu wahai Rasulullah ?”, Nabi saw menjawab: “Adalah orang yang menjulurkan pakaiannya, orang dermawan dan menafaqahkan hartanya dengan sumpah palsu”(HR. Muslim)

Berangkat dari larangan ini, Salafi Wahabi mengambil Mafhum Mukhalafah (pemahaman kebalikannya) dari hadits-hadits di atas dengan kesimpulan tidak menjulurkan pakaian dalam makna lain dengan model cingkrang adalah yang sesuai anjuran Nabi saw.

Baca Juga:  Maqashidus Syariah dan Pemahaman Fikih Lintas Madhab: Modal Inti Membentuk Muslim Moderat

Hadits ini sebenarnya tidak mutlak tentang anjuran berpakaian cingkrang dan menganggapnya sebagai sunnah. Ini dibuktikan dengan beberapa hadits lain yang menjelaskan alasan mengapa menjulurkan pakaian itu dilarang. Misal hadits yang diriwayatkan Ibn Umar ra:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa yang menjulurkan bajunya karena sombong, maka Allah swt tidak akan melihatnya di hari kiamat” (HR. Bukhari)

Hadits ini membatasi terhadap larangan menjulurkan pakaian hingga mata kaki, karena perbuatan yang demikian, pada masa Nabi saw dijadikan cara pamer kemegahan dirinya. Sehingga hal tersebut tidak disukai oleh Nabi saw karena terkesan sombong.

Bagaimana jika tidak ada tujuan untuk kesombongan ?

Di hadits lain, yang sama kasusnya dengan hadits-hadits di atas yaitu riwayat dari Salim bin Abdullah ra dari ayahnya tentang orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong tidak akan dilihat oleh Allah swt di hari kiamat. Lalu Abu Bakar ra bertanya: “Salah satu sisi pakaianku lemas, dan aku tidak bisa menahannya ?” Nabi saw menjawab:

لَسْتَ مِمَّنْ يَفْعَلُهُ خُيَلاَءَ

Artinya: “Kalau begitu, kamu bukanlah sebagian orang-orang yang melakukannya karena sombong” (HR. Abu Dawud)

Jelaslah dari riwayat ini bahwa tidak semua menjulurkan pakaian termasuk perbuatan yang dilarang Nabi saw. Tetapi larangan menjulurkan pakaian itu jika ada niat pamer kelebihan diri sendiri atau karena sombong.

Oleh karena itu, dalam Fiqh yang dianut mayoritas umat Islam, menyimpulkan menjulurkan pakaian semisal sarung atau celana jika tidak ada unsur kesombongan hukumnya tidak sampai haram, hanya saja makruh[1]. Akan tetapi kemakruhan ini bukan bersifat dokmati karena kemaslahatan agama, tetapi faktor kekhawatiran terjadinya kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin dengan model berpakaian seperti demikian. Sebab itu, jika menjulurkan pakaian merupakan budaya dimana hal itu sudah lumrah dilakukan orang kaya dan miskin, maka tidak ada alasan untuk menghukumi makruh, apalagi haram, dan pelakunya pasti masuk neraka.

Baca Juga:  Ternyata Karantina Membawa Pahala

Sebagai konsekwensi dari hukum ini, juga tidak benar meninggikan pakaian sampai setengah betis atau kata lain cingkrang adalah yang paling sunnah sesuai tuntunan Nabi saw. Karena Nabi saw tidak pernah memperhatikan pola berpakaian yang tujuannya untuk kemaslahatan agama.

Sejatinya, memandang sunnah celana cingkrang yang diambil sebagai mafhum mukhalafah dari tidak menjulurkan pakaian bukan argumentasi yang tepat. Menjulurkan pakaian menjadi trend saat itu sebagai bentuk kesombongan seseorang sehingga Rasulullah tidak menyukai simbol kesombongan, termasuk dengan model dalam berpakaian. Apakah hari ini cara berpakaian seperti itu adalah simbol menyombongkan diri?

Wallahu a’lam


[1] Abu Thayyib al Abady, Aunul Ma’bud, Juz 11, Hal 142

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Mengenal Aliran Mujassimah (1) : Siapakah Yang Dimaksud Mujassimah ?

Istilah Mujassimah sebenarnya sudah lama. Bahkan ulama genarasi tiga abad yang pertama telah membahas tentang …

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …