TGB
TGB

Tangkal Ekstremisme dan Radikalisme di Dunia Pendidikan, TGB: Kuncinya Penguatan Kurikulum

Jakarta – Penguatan kurikulum pendidikan sangat penting untuk menangkal ekstremisme dan radikalisme sejak dini. Pasalnya, dunia pendidikan menjadi salah satu tempat penyebaran paham-paham kekerasan. Faktanya banyak ditemukan buku pelajaran dan lembaga pendidikan yang terpapar radikalisme.

“Ilmu adalah esensi agama sehingga pastikan mendapat ilmu agama dari orang yang berkompeten. Rantai keilmuan adalah bagian dari agama,” ujar Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi pada webinar”Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang digelar secara virtual dari Jakarta, Kamis (12/8/2022).

TGB mengungkapkan sejumlah poin untuk melawan ekstremisme dan radikalisme. Pertama intervensi dalam pendidikan. Materi-materi keislaman yang diajarkan di semua jenjang pendidikan harus disisir dari muatan-muatan ekstrem dan radikal.

“Materi tidak boleh bermuatan ekstremisme dan intoleransi karena dalam ranah sosial, Islam mengajarkan prinsip saling mengisi, kolaborasi, dan saling memberikan yang terbaik.  Selama 20 tahun lagi wajah anak-anak kita adalah apa yang kita tanam sebelumnya,” kata TGB

Kedua, imbuh TGB, para guru yang mengajar harus memiliki visi moderat. Dia menyoroti pendidikan di luar pesantren. Tak sedikit sekolah keagamaan yang dibangun yayasan atau kelompok tertentu yang mengejar profit saja. Akhirnya, aspek yang terkait substansi keagamaan tidak diperhatikan.

“Pesantren harus sudah hafal yang mengajar itu adalah orang yang diketahui kiainya. Dia (kiai) tahu bukan hanya pemahaman normatifnya melainkan juga internalisasi nilai-nilai Islam dicontohkan,” terang Ketua Umum Nahdlatul Wathon ini.

Ketiga, adalah akidah. Menurutnya, akidah harus dikaitkan dengan akhlak. Asmaul Husnatelah mengajarkan manusia akan nilai-nilai luhur, bukan nama-nama baik bagi Sang Pencipta saja tapi harus dicerminkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana Asmaul Husna kita wujudkan dalam keseharian interaksi sosial, punya sikap yang inklusif,” kata dia.

Kemudian keempat, memperbanyak materi budaya keagamaan dalam pendidikan agama Islam di mana Islam tidak hanya norma tapi juga budaya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

selamat natal

Selamat Natal dan Ketakutan Iman yang Tertukar

Seperti sudah menjadi ritual di akhir tahun, warga di Indonesia sepertinya punya kesibukan baru dengan …

Rakernas FKUB di Palu

Tingkatkan Kerukunan dan Harmonisasi Umat, Moderasi Beragama Direkomendasikan Masuk Kurikulum Pendidikan Nasional

Palu –  Moderasi beragama perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional untuk diajarkan di semua satuan …