berdiri dalam shalat

Tata Cara Berdiri dalam Shalat

Ibadah shalat merupakan syiar yang sangat fundamental dalam agama Islam. Shalat menjadi garis pembeda antara muslim dan non-muslim. Shalat menjadi cermin lahiriyah dari kesalihan seseorang. Secara kasat mata, orang yang baik shalatnya, maka dapat dikatakan seluruh tingkah lakunya menjadi baik. 

Jika seseorang yang tekun dan sangat menjaga shalatnya, namun berperangai dan berakhlak tidak terpuji, maka perlu diperiksa kembali tentu ada yang salah dengan shalatnya. Betapa penting dan sangat fital ibadah yang satu ini, hingga kelak menjadi amal yang berada di urutan nomor wahid dalam hisab di Hari Pembalasan. 

Pelaksanaan shalat semaksimal mungkin harus sesuai dengan rukun yang telah disyariatkan. Melakukan rukun secara benar merupakan langkah awal keabsahan shalat yang dikerjakan. Salah satu rukun yang inti adalah al-qiyam (berdiri). Al-qiyam merupakan rukun fi’liyah (yang bersifat gerakan, bukan bacaan, qauliyah) yang inti, karena sebagian besar gerakan shalat dilakukan dan bertumpu pada rukun yang satu ini. Rukun al-qiyam didasarkan kepada firman Allah: 

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238).

Kriteria Berdiri

Dalam memberikan kriteria berdiri bagi mushalli (orang yang melaksanakan shalat) saat kondisi normal, para ulama’ berbeda pandangan. Hanafiyah memberikan batasan berdiri dengan kriteria andaikan kedua tangan dijulurkan tidak sampai menggapai kedua lutut. Dengan kata lain, selama tidak mencapai batas posisi rukuk, masih dapat dikategorikan berdiri. Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan pendapat golongan Malikiyah dan Hanabilah, mereka mengatakan yang terpenting tidak disebut duduk, meskipun merunduk dengan posisi kepala condong ke arah dada, dengan catatan tidak sampai pada posisi rukuk. 

Baca Juga:  Kisah Paman Tampan Rasulullah yang dilaknat Allah

Sementara menurut Syafiiyah kriteria berdiri adalah dengan memposisikan tulang punggung tegak lurus, tidak condong ke depan dan ke belakang, tidak miring ke samping kanan atau kiri. Untuk bagian leher tidak harus tegak lurus, karena memang disunnahkan menundukkan kepala agar pandangan tertuju ke tempat sujud. Namun demikian, masih ada toleransi untuk posisi berdiri tegak. 

Jika posisi menunduknya masih lebih mendekati berdiri tetap dikategorikan berdiri, tetapi jika lebih mendekati ke posisi rukuk dianggap tidak sah. Sedangkan pada saat kondisi tidak normal, tidak mampu berdiri tegak disebabkan faktor usia atau penyakit, semua ulama’ sepakat untuk berdiri semampunya. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Jilid II, hal. 13-15., Muhammad Zuhaili, Al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i, Jilid I, hal. 243).

Dalam kondisi normal, bolehkah berdiri dengan bertopang atau bersandar pada suatu benda? Menanggapi hal ini ulama fikih berbeda pendapat. Menurut Hanafiyah berdiri dalam shalat fardu bagi orang yang mampu disyaratkan harus mandiri, tidak boleh bertopang pada tongkat atau bersandar pada tembok dan semacamnya, yang menyebabkan terjatuh seandainya tongkat atau tempat bersandar itu tidak ada. Sementara untuk shalat sunnah diperbolehkan bertopang dan bersandar pada benda lain saat berdiri, tetapi pelakunya tergolong orang yang tidak beretika (su’ul adab) kepada Tuhan.

Pendapat Malikiyah menyatakan bahwa berdiri bagi seorang imam (bukan makmum) dan orang yang shalat sendirian (munfarid) dalam shalat fardu harus mandiri, tidak boleh bersandar pada sesuatu apapun. Namun, jika bertopang atau bersandar saat membaca surat-surat pendek setelah Al-Fatihah hukumnya makruh, karena bacaan tersebut hukumnya sunnah. Sementara makmum boleh-boleh saja bertopang dan bersandar ketika berdiri dalam shalat berjemaah.

Sementara menurut Syafiiyah tidak diharuskan berdiri secara mandiri, baik dalam shalat fardu ataupun sunnah. Boleh saja bertopang atau bersandar meskipun mampu berdiri mandiri, namun hukumnya makruh. Sebab walaupun bertopang atau bersandar tetap saja tidak keluar dari kategori berdiri. Tetapi jika bertopang dan bersandar dengan terlalu, semisal tidak terjatuh andaikan kedua kakinya terangnkat, maka shalatnya tidak sah, karena sudah keluar dari kategori berdiri, hal itu dinamakan menggantung. Sedangkan menurut Hanabilah berdiri dalam shalat fardu haruslah mandiri, tidak boleh bertopang dan bersandar kepada sesuatu, jika hal ini dilakukan maka shalatnya tidak sah. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Jilid II, hal. 15). 

Baca Juga:  Viral Adzan Gaya Baru, Ini Sejarah Adzan dan Hukum Merubahnya?

Gerakan shalat menghimpun semua fungsi organ tubuh secara proporsional, mulai berdiri, rukuk, sujud, duduk, meletakkan tangan, mengatur pandangan, dan lain-lain (Ali Ahmad al-Jurjawi, Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuh, Jilid I, hal. 76). Berdiri dengan tegap dan tegak merupakan simbol kesiapan dan memfokuskan konsentrasi. Bahkan, posisi berdiri yang dilakukan dengan benar memiliki manfaat secara kesehatan. Secara medis posisi berdiri yang benar antara lain adalah: a) berdiri dalam posisi tegap, b) leher dan kepala lurus dengan tulang belalang, tidak menunduk atau menengadah, c) kedua bahu terbuka, sejajar, dan tegap, d) bokong rata, tidak menonjol ke belakang seperti postur bebek, e) kedua kaki sedikit terbuka, sejajar dengan bahu.

Sedangkan manfaat dari berdiri secara benar adalah: a) tulang dan sendi akan berada pada posisi yang tepat sehingga dapat bekerja optimal, b) mengurangi risiko radang sendi akibat beban berlebih yang ditopang sendi, c) mengurangi risiko cedera ligamen, jaringan penghubung antara tulang ke tulang lainnya, d) mencegah kelainan bentuk tulang belakang akibat postur tubuh yang salah. (https://www.klikdokter.com/info-sehat)

Posisi berdiri dengan tegak dan sigap meneguhkan komitmen seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sebaliknya, berdiri dengan posisi tidak tegap, miring kanan atau kiri, menunduk condong ke depan menandakan ketidakseriusan dan lemahnya semangat di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, berdirilah dengan tegap dan tegak saat shalat, sebab kita sedang mengahadap Tuhan! [] 

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …