quran dan pancasila
quran dan pancasila

Telaah Pancasila dalam kacamata Al-Qur’an

Penentuan dasar negara Indonesia berupa Pancasila ini telah melalui tahapan sejarah yang sangat panjang. Umat Islam pada masa itu juga telah mengupayakan ego-teologisnya untuk masuk ke dalam ranah dasar negara. Namun sejarah membuktikan bahwa hal itu tidak bisa dilakukan karena unsur warga negara yang beragam.

Adanya kalimat “Dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya” dalam sila pertama merupakan salah satu contoh yang tidak dapat diterima oleh kalangan non-Muslim. Jika hal itu dipaksakan, maka Indonesia wilayah timur akan lepas dari Indonesia. Dengan pertimbangan bersama, akhirnya kalimat tersebut di delete. Selain itu, para pahlawan yang memperjuangkan bangsa ini juga bukan dari kalangan muslim saja. Dengan demikian, seluruh elemen harus dirangkul demi untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Pada akhirnya, Pancasila dirumuskan dan disahkan menjadi lima sila, yaitu: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa; 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penulis di sini bukan membahas mengenai pancasila secara umum, namun penulis akan membahas mengenai pancasila dalam kacamata Al-Quran, bagaimana Al-Quran menerangkan pancasila?, maka artikel ini ditulis untuk menjabarkan penjelasan Al-Quran terkait pancasila.

Sila Pancasila dalam Al-Qur’an

Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini memiliki dasar di dalam al-Qur‟an, surah Al-Ikhlas ayat pertama. Allah berfirman: Katakanlah (Wahai Muhammad) “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Konteks ayat ini membicarakan tentang perdebatan Nabi dengan orang-orang musyrik yang ada di sekitarnya. Berdasarkan riwayat dari Ahmad, Tirmidhi, dan Ibnu Jarir dari Ubay bin Ka’ab menjelaskan bahwa orang-orang musyrik bertanya kepada Rasulullah saw. tentang nasab Tuhannya? Kemudian Allah menurunkan qul huwa Allahu ahad (Katakan, Tuhan itu Esa). Orang-orang musyrik ingin memperdebatkan tentang ketuhanan di dalam Islam.

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa, ke-Esaan Tuhan itu menegasikan unsur-unsur yang dipertanyakan oleh orang-orang musyrik tersebut. Pertanyaan mengenai nasab Tuhan, secara eksplisit dinyatakan tertolak karena jawaban Tuhan itu Esa, berarti meniadakan nasab. Yang memiliki nasab pasti mati, yang mati pasti akan meninggalkan warisan. Sedangkan Allah tidak mati dan tidak dapat diwarisi.

Sedangkan riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa ada salah seorang Quraish yang menanyakan kepada Nabi perihal Allah. “Dari apakah ia, emas atau perak? Kemudian Allah menurunkan surah al-Ikhlas ini.”

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Sila kedua adalah “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Asas keadilan di dalam sila ini dapat ditemukan di dalam surah Al-Shura ayat 15: Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)”. Ayat ini yang membicarakan persoalan keadilan terdapat pada redaksi (dan aku (Muhammad) diperintahkan supaya adil kepadamu). Maksud keadilan di dalam ayat ini menurut mufasir dari Cordoba Spanyol, al-Qurtubi adalah “keadilan dalam segala hal, dan ada pula yang menyatakan keadilan hukum”.

Seorang mufasir ahli hukum tata negara dari Irak, al-Mawardi menyatakan bahwa keadilan yang dimaksud di dalam ayat ini ada dua makna, yaitu keadilan dari segi hukum dan keadilan dari segi dakwah. Kata adil di dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah bahasa serapan dari bahasa Arab ‘adl. Kata adil (dalam bahasa Indonesia) ketika dikembalikan ke dalam al-Qur’an, setidaknya ada dua makna, yaitu al-‘adlu dan al-qist. Kedua kata ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama-sama bermakna adil. Namun perbedaan dari dua diksi ini dapat ditemukan di dalam surah al-Nisa: 4 yang menjelaskan tentang poligami. Di dalamnya ada kata an la tuqsitu fi al-yatama dan an lata‘dilu fawahidah. Makna dari perbedaan redaksi tersebut adalah, qistu digunakan oleh al-Qur’an untuk menyatakan keadilan dalam ranah kuantitatif. Sedangkan al-‘adl lebih menekankan keadilan psikologis dan sosial.

Baca Juga:  Siapa Ahli Bid’ah yang Sesungguhnya?!

Persatuan Indonesia

Indonesia memiliki beragam suku, ras, agama, dan budaya. Perbedaan ini jika tidak dipupuk dengan baik, akan berpotensi menjadi konflik yang dapat memecah-belah bangsa. Oleh karena itu, di dalam sila yang ketiga ini dijelaskan tentang “Persatuan Indonesia”. Asas persatuan juga diajarkan al-Qur‟an di dalam surah Ali Imran ayat 103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Konteks ayat ini membicarakan tentang dua suku, Auz dan Khazraj. Pada saat mereka telah masuk Islam, suatu hari mereka membicarakan masa lalunya, yang sering berperang dan bermusuhan, karena teringat kembali masa lalu yang buruk itulah, bincang-bincang mereka menjadi memanas dan hampir saja terjadi pertikaian. Atas peristiwa inilah ayat tersebut turun. Masing-masing dari keduanya diperintahkan oleh Allah supaya muhasabah diri. Islam datang telah mendamaikan mereka dan mempersatukan mereka atas dasar iman dan persaudaraan. Padahal sebelumnya mereka dalam kekafiran dan permusuhan. Al-Qur’an bukanlah kitab yang diturunkan kepada suku Aus dan Kahzraj saja. Oleh karena itu kedua nama tersebut tidak disebutkan oleh al-Qur’an, karena al-Qur’an untuk seluruh umat manusia.

Termasuk untuk bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku dan agama. Allah telah mempersatukan Aus dan Khazraj dalam satu iman juga dapat dikontekstualisasikan sebagai persatuan bangsa Indonesia. Atas dasar Indonesia, para penduduk yang beragam di dalamnya bisa bersatu padu. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada penduduknya agar bersatu dan menjauhi perpecahan.

Baca Juga:  Inilah Jawaban Ketika Ditanya "Milih Pancasila atau Al Qur'an"?

Persatuan akan menambah kekuatan dan perpecahan akan menyebabkan kelemahan. Ibarat sebuah lidi, jika hanya satu, maka akan kesulitan membersihkan dedaunan. Akan tetapi jika lidi-lidi tersebut diikat dan disatukan, maka dedaunan yang berserakan itu akan mudah dibersihkan. Itulah analogi persatuan. Semakin besar suatu bangsa, maka semakin besar pula kekuatannya. Semakin kecil suatu bangsa, maka semakin kecil pula kekuatannya.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Asas pertama dalam sila keempat adalah “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat”. Ayat al-Qur’an yang menyinggung persoalan ini terdapat di dalam surah al-Baqarah ayat 269 sebagai berikut: Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Konteks ayat ini membicarakan tentang Muhammad yang diberi hikmah oleh Allah berupa kenabian, kemampuan menafsirkan al-Qur’an, memiliki tutur kata yang halus dan fasih, memiliki pandangan yang sangat tajam dan berbagai kelebihan lainnya. Orang yang diberi hikmah oleh Allah berarti dia mendapatkan banyak kebaikan.

Dalam konteks kenegaraan, ayat di atas memang tidak saklek membicarakan persoalan yang sama dengan sila keempat tersebut. Akan tetapi, redaksi hikmat memang diambil dari bahasa Arab dan bahasa Arab merujuk kepada al-Qur’an. Oleh karena itu, pemaknaanya yang pertama harus dikembalikan ke sana. Kata hikmah di dalam bahasa Arab saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maknanya adalah bijaksana. Di dalam Asma al-Hsuna terdapat salah satu nama al-Hakim yang diterjemahkan dengan Maha Bijaksana.

Asas kedua dalam sila keempat mengenai “permusyawaratan” memiliki dasar dari surah Ali Imran ayat 159, Allah berfirman: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Koteks ayat ini membicarakan tentang kebijkan Rasulullah kepada penduduk Madinah. Di dalamnya selian umat Islam yang taat juga ada orang-orang munafik yang ingin melemahkan semangat umat Islam untuk berperang. Namun karena ada omongan-omongan dari orang-orang munafik yang melemahkan semangat umat Islam, maka dibentuklah musyawarah tentang masalah perang dan urusan keduniawian lainnya seperti halnya urusan politik, ekonomi dan sebagainya.

Baca Juga:  Amalan Nisfu Sya’ban (Bagian I) : Puasa Nisfu Sya’ban Sunnah atau Bid’ah?

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Presiden Joko Widodo dalam salah satunya sambutannya pernah menyatakan bahwa aspek paling berat dalam implementasi Pancasila adalah mewujudkan sila kelima, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ia menyampaikan bahwa ketimpangan sosial yang sangat mencolok terjadi di Indonesia timur. Oleh karena itu, dalam pemerintahannya harus memprioritaskan Indonesia timur.

Presiden juga memberikan contoh riil, mengenai harga BBM yang mahalnya lebih dari 10 kali lipat harga normah. Begitu juga dengan harga semen dan berbagai kebutuhan lain. Penyebab dari mahalnya barang tersebut karena transportasi yang ada di sana kebanyakan melalui jalur udara. Untuk sementara waktu, negara harus hadir dan memberikan subsidi bagi barang-barang yang terlampau mahal agar rakyat Indonesia timur bisa menikmati harga yang sama dengan tempat yang lain. Untuk merealisasikan keadilan sosial jangka panjang, pemerintah harus membangun jalur darat yang memadahi agar wilayah-wilayah terpencil dapat dijangkau dan roda ekonomi cepat berkembang. Bukan sebaliknya, menunggu ekonominya tumbuh dan infrastrukstur baru dibangun. Itu hanyalah contoh kecil dari ketimpangan sila kelima yang belum terealisasi dengan baik.

Konsep keadilan sosial juga memiliki asas dari al-Qur’an. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 8 sebagai berikut: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kata qawwamin di dalam ayat ini memiliki makna mendirikan keadilan dengan konsisten. Tidak dibenarkan ada keadilan di dalam satu waktu namuan tidak di tegakkan di waktu yang lain. selain itu, umat Islam kelak akan menjadi saksi dihadapan Allah atas sikap adil itu. Jadi, secara langsung Allah memerintahkan orang-orang beriman agar menjadi saksi atas keadilan itu sendiri. Beban sebagai saksi ini tidak mudah, paling tidak ada dua kriteria yang harus dimiliki: pertama, seorang yang menjadi saksi harus membuktikan bahwa dia lebih baik daripada tersangka. Kedua, orang yang menjadi saksi adalah menjadi pengawas atas pelanggaran hukum yang dilakukan oleh seseorang. Itulah dua tugas yang dibebankan kepada orang-orang beriman. Ayat ini dengan tegas memerintahkan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya agar selalu berlaku adil kepada siapapun.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

mampu haji

Makna Kata Mampu (Istitha’ah) dalam Surah Ali-Imran Ayat 97

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., merupakan agama yang sempurna. Islam merupakan salah …

hari lingkungan hidup

Etika Lingkungan Hidup dalam Islam

Masalah lingkungan hidup merupakan masalah global yang semakin disadari sebagai masalah yang kompleks dan serius …