Terorisme di Abad 21
Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Terorisme merupakan permasalahan sosial-keagamaan yang sangat krusial karena bukan saja menjadi ancaman untuk peradaban masyarakat dalam suatu bangsa, ataupun sistem tata kelola negara, melainkan juga membahayakan bagi masa depan keberagamaan itu sendiri. Aksi-aksi terorisme di Indonesia mulai marak semenjak tahun 2000 hingga sekarang. Dimulai dari rentetan Bom malam Natal di Mojokerto, Bom Bali, hingga bom Surabaya pada tahun 2018 lalu, dan seterusnya. Setiap melakukan aksi teror, para pelaku tidak saja membawa misi politik (yaitu kampanye system negara berdasarkan syariat Islam), namun juga misi dakwah, menyebarkan pesan kepada kaum Muslimin bahwa Jihad itu -sepemahaman mereka- diwajibkan oleh Allah -termasuk jihad dengan cara-cara kekerasan dan terorisme.

Secara umum, terorisme berasal dari dua gabungan kata dalam bahasa latin yakni Terrere yang berarti gemetaran, dan Deterrere yang berarti takut. Menurut Central Intelligence Agency (CIA), terorisme internasional merupakan tindakan teror yang dilakukan dengan dukungan pemerintah atau organisasi asing dan/atau diarahkan untuk melawan negara, lembaga, atau pemerintahan asing. Kemudian dalam konvensi PBB tahun 1937 disebutkan pula bahwa definisi terorisme menurut PBB adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk terror terhadap orang-orang tertentu ataupun kelompok orang atau masyarakat luas.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya terorisme, seperti persepsi terhadap ketidakadilan distributif, prosedural, dan interaksional, Pemaknaan terhadap ayat-ayat kitab suci yang mendukung radikalisme, polarisasi in group-out group, doktrin jihad, hingga kekecewaan terhadap praktik dari sistem demokrasi.

Akar Masalah

Ada beberapa hal yang mungkin menjadi akar daripada Gerakan terorisme di dunia, diantaranya:

Pemahaman keagamaan

Terorisme berangkat dari pemahaman keagamaan yang tidak lengkap. Perlu dipahami bahwa Sebagian besar -atau bahkan semuanya- anggota dan pimpinan kelompok teror memaknai agama sesuai dengan kepentingan mereka. Oleh karenanya banyak ajaran yang kemudian melenceng dari fitrah asal agama itu sendiri. Misal ajaran tentang Jihad yang mereka pahami sebagai perang melawan musuh yakni pemerintah, sistem bernegara, ataupun kelompok lain yang berseberangan.

Baca Juga:  Berpancasila Dahulu, Berkhilafah Kemudian

Kemiskinan

Kemiskinan juga menjadi salah satu factor penyebab maraknya aksi terorisme. Meskipun tidak menjadi faktor utama, namun kemiskinan menjadi salah satu pemicu seseorang bergabung dengan teroris. Kemiskinan yang berbalut dengan pemahaman islam yang dangkal adalah salah satu pemicu terorisme.

Pergaulan

Pergaulan yang salah juga memiliki andil dalam menyebarluaskan pengaruh ideologi  terorisme kepada masyarakat. Terorisme akan selalu mencari sel baru, dan itu akan berkembang bila ada sekelompok orang yang mau bergabung dengan mereka. Kelompok terorisme selalu memiliki celah untuk menyebarluaskan doktrin mereka, khususnya kepada kaum perempuan dari anak-anak muda.

Pengaruh Internet

Pengaruh konten keagamaan di Internet dan media sosial. Kecanggihan teknologi memang selalu membawa dampak yang luar biasa, baik positif maupun negatif. Internet dan Media Sosial mempermudah segala urusan komunikasi dan informasi kita. Namun apa jadinya jika internet dan media sosial berisikan konten-konten membahayakan seperti kampanye dukungan terhadap terorisme? Tentu sangat mengerikan. Namun beginilah fakta yang terjadi saat ini.

Sejak tahun 2017 bahkan jauh sebelum itu, internet dan media sosial kita dipenuhi dengan konten-konten yang mendukung serta mengkampanyekan terorisme. Puluhan ribu akun medsos, website, akun wordpress, dan grup-grup telegram telah di-take down oleh Kementerian Kominfo. Meski demikian, kelompok teror tetap tak kapok lancarkan indoktrinasi di internet dan medsos.

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”. Atau pada surat Ayman al-Zawahiri pempimpin pengganti Osama Bin Laden kepada Abu Musab Al-Zarqawi (2005) mengatakan bahwasanya mereka sedang dalam peperangan media untuk merebut hati umat Islam agar berkenan bergabung dalam gerakan jihad dengan mereka.

Keempat hal tersebut telah banyak memunculkan Gerakan dan aksi terorisme yang terjadi tak hanya di Indonesia, namun juga dunia. Perlu dipahami pula definisi terorisme itu sangat luas, tidak bias terhadap satu golongan ataupun agama saja semisal Islam. Sebagian besar kelompok teroris memang mengatasnamakan Islam, dan tidak bisa dipungkiri bahwa mereka mengambil ayat-ayat ataupun ajaran yang ada dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Meski demikian, bukan berarti Islam membenarkan bahkan menghalalkan Tindakan tersebut. Di dalam Islam ada konsep “Maqashid Al-Syari’ah” yang terdiri atas lima hal: Hifdzud diin (memelihara agama), Hifdzun nafs (memelihara jiwa), hifdzun nasl (memelihara keturunan), hifdzul maal (memelihara harta) serta hifdzul aql (memelihara akal). Kelima hal tersebut menjadi dasar yang menjadikan umat Islam -khususnya dari kalangan Ahlu Sunnah wal Jamaah– menentang keras ideologi serta gerakan dan pemahaman terorisme, karena bertentangan dengan lima dasar tersebut.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”

Self Love dalam Islam

Self Love dalam Islam

Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.