Haji
Haji

Tidak Bisa Haji dapat Pahala Haji : Ulama Besar Pun Kaget dengan Amalan Tukang Sol Sepatu Ini

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi yang merupakan ulama terkenal di Makkah pada masanya yang menceritakan riwayat yang dimuat dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabiila Rasyad karangan Syeikh Zainuddin al Malibari

Dalam suatu ketika setelah beliau selesai menjalani salah satu ritual ibadah haji, beliau merasakan kantuk dan memutuskan untuk beristirahat sejenak dan tertidur. Dalam mimpi beliau melihat dua malaikat yang turun dari langit.

Setelah menginjakkan kakinya di bumi, para malaikat itupun berkata, “di tahun ini terdapat berapa banyak jamaah yang datang?” tanya malaikat satu kepada malaikat dua. “terdapat tujuh ratus ribu jamaah,” jawab malaikat dua. Malaikat satu bertanya kembali “di tahun ini, berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima ?” Jawab malaikat yang satunya “Tidak satupun.”

Mendengar percakapan dari kedua malaikat itupun membuat hati Abdullah bergetar dan menangis. Banyak orang yang menempuh perjalanan cukup jauh untuk dapat sampai ke tanah suci ini, rasa lelah dan letih dalam perjalanan dalam menyusuri padang pasir yang luas akankah menjadi sia-sia?

Dengan penuh rasa penasaran, ia pun melanjutkan mendengarkan percakapan kedua malaikat tersebut.

Malaikat kedua menjelaskan bahwa ada seorang yang tak dapat menunaikan ibadah haji namun niat ibadah hajinya mampu diterima dan seluruh dosanya telah terampuni. Bahkan karena amalannya, seluruh jamaah haji di tahun itu telah diterima oleh Allah. Dia adalah Sa’id bin Muhafah‎, yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu di kota Damsyiq atau dikenal dengan kota Damaskus, Siria.

Setelah terbangun dari tidurnya, Abdullah kembali menjalankan semua rangkaian ibadah haji hingga selesai. Setelah semua rangkaian ibadah haji telah selesai, beliau memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah melainkan memutuskan untuk menuju kota Dasmakus menemui tukang sol sepatu yang dimaksud oleh malaikat yang ada dalam mimpinya.

Baca Juga:  Keutamaan Berdzikir di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Memang bukan perjalanan yang singkat, namun beliau benar-benar ingin mengetahui apa yang telah dilakukan oleh tukang sol sepatu tersebut sehingga karenanya seluruh ibadah Jemaah haji di terima. Sesampainya di Damaskus, Abdullah mencari-cari tukang sol sepatu yang bernama Sa’id bin Muhafah.

Sudah semua tukang sol ditanya olehnya, namun beliau tak menemukan hasil. Iapun beristirahat sejenak dan di sela istirahatnya, ada tukang sol sepatu yang menawarkan jasa kepada Abdullah. Beliaupun sontak bertanya apakah ia bernama Sa’id bin Muhafah? Tukang sol itu menjawab. “bukan aku, tapi aku mengenali Sa’id bin Muhafah. Dia berada di tepi kota.”

Abdullah pun bergegas untuk pergi ke tempat yang dimaksudkan. Sesampainya di sana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh, rasa ragu sempat tersemat di benaknya. Namun ulama Abdullah memutuskan untuk bertanya kepadanya. “Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu. “Betul, siapa tuan?” jawabnya. “Aku Abdullah bin Mubarak” sang ulama memperkenalkan dirinya.

Said pun merasa kaget dan terharu, ulama besar yang banyak dihormati orang telah datang kepadanya. Ia pun bertanya kepada Abdullah “Bapak adalah ulama terkenal, apa yang membuat anda mendatangi saya yang hanya orang kecil yang tidak banyak mengetahui tentang agama?”

Abdullahpun mulai kebingungan, dari mana ia akan memulai pertanyaannya. Beliaupun memutuskan untuk menceritakan mimpi yang di dapatnya. Abdullah pun berkata jika ia sangat ingin tahu apa yang telah diperbuat Sa’id, sehingga tanpa menjalankan ibadah haji namun ia mampu mendapatkan pahala haji yang mabrur.

Iapun sendiri merasa tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Sa’idpun memutuskan untuk bercerita bagaimana ia sangat menginginkan pergi ke tanah suci. Sa’id bin Muhafah bercerita bahwa setiap tahun, setiap musim berhaji. Dan salah satu keinginannya sebagai seorang muslim untuk mendatangi Makkah untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Baca Juga:  Kunci Menjadi Orang Tua yang Sukses dalam Mengasuh Anak

Karena alasan itulah ia memutuskan untuk menyisakan sedikit uangnya yang dia dapatkan setiap hari untuk pergi ke tanah suci. Dan pada akhirnya di tahun ini ia memiliki 350 dirham. Jumlah tersebut cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji” kata Sa’id kepada Abdullah. “Tapi anda batal berangkat haji?” timpal Abdullah kembali. “Benar” jawab Sa’id. Abdullahpun bertanya “Apa yang terjadi ?”. Sa’idpun menceritakan bahwa istrinya sedang dalam keadaan hamil. Dan ia sering sekali merasakan nyidam. Ketika saya hendak berangkat berhaji, istrinya merasakan nyidam. Ia mencium aroma masakan yang membuatnya ingin mencicipinya.

Sa’idpun memutuskan untuk mencari sumber bau masakan tersebut sebelum ia pergi berhaji. Ternyata sumber dari bau tersebut dari gubug yang hampir runtuh, ia mendapati seorang janda dan enam anaknya. Iapun memberanikan diri untuk meminta sedikit masakannya untuk istrinya yang nyidam. Janda itupun terdiam memandangi saya dengan penuh kebingungan. Sayapun mengulangi permintaan saya, dan iapun dengan perlahan mengatakan pada saya bahwa saya tidak diperbolehkan untuk menikmati masakannya.

Seberapapun saya membayar dia tidak akan menjualnya. Janda tersebut menjelaskan sambil berlinang airmata bahwa daging yang dimasaknya halal untuknya dan anak-anaknya namun haram untuk ku. Semakin saya merasa penasaran, kenapa seperti itu, bukankah kita sama-sama muslim. Sayapun mendesak kembali bertanya kepadanya “kenapa?”

Janda itupun menjelaskan bahwa sudah beberapa hari ini mereka tidak makan. Dan hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini halal untuk kami makan, karena jika kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Tapi bagi tuan dan istri, daging ini pastilah haram.

Mendengar ucapan tersebut membuat saya merasa sedih. Dan iapun berpamitan untuk pulang. Sa’idpun ceritakan kejadian itu pada istrinya. Dan kamipun memutuskan untuk memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu lagi untuk membagikan masakan kami kepadanya. Selain itu iapun memberikan uang 350 dirham kepada sang janda tersebut agar bisa di gunakan untuk memulai usaha, supaya mereka tidak kelaparan.

Baca Juga:  Jangan Asal Berteman, Inilah 4 Macam Teman Menurut Ibnu Qayyim

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak mengerti mengapa ibadah Said tetap diterima meski ia tidak menjalankan ibadah haji. Rasulullah bersabda, “Orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, maka ia tidak boleh menganiaya dan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolongnya untuk memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan suatu kesusahan dari seorang muslim (saudaranya), maka Allah akan menghilangkan kesusahannya dari bermacam2 kesusahan di hari qiamat. Dan barangsiapa menutupi kekurangan seorang muslim (saudaranya), maka Allah akan menutup kekurangannya pada hari qiyanat.” (HR Bukhori dan Muslim).

Pesan sungguh luar biasa dari cerita atas adalah menolong yang lebih membutuhkan adalah bagian syariat terbaik. Kemampuan berhaji tidak hanya dilihat apakah diri sudah mampu tetapi apakah sekelilingmu sudah mampu untuk sekedar makan. Jika tidak, kenapa kemampuanmu hanya difokuskan kepada Tuhan jika manusia ciptaan Tuhan masih butuh sekedar makan.

Kenapa tidak mengambil hikmah dengan pandemi ini? Kenapa seolah kita layak pergi haji sementara banyak pula lingkungan sekitar yang belum bisa makan atau terkena dampak menyeramkan dari pandemi ini?

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

mengidolakan pemain bola

Awas Mengidolakan Pemain Bola Haram? Ini Penjelasannya

Setiap orang pastinya memiliki sosok yang diidolakan. Entah itu orang tua, tokoh atau bahkan artis. …

miss queen

Miss Queen : Antara Kebebasan dan Pelanggaran Norma Agama

Indonesia kini dihebohkan dengan acara Miss Queen Indonesia yang berlangsung di Bali pada tanggal 4 …