i'tikaf di rumah
i'tikaf di rumah

Tidak Hanya Viral karena Romantis, Aisyah Istri Rasulullah adalah Pejuang dan Ahli Hadits

Bidadari adalah visi, meniti hari menuju mimpi, tidak akan jatuh terlena pada kekosongan dunia maya.

Baru-baru ini media internet digoncangkan dengan lagu “Aisyah Istri Rasulullah”. Selain jadi dakwah lewat lagu, tetapi juga menimbulkan beberapa polemik kalangan cendikiawan Muslim.

Siapa yang tidak kenal dengan istri Rasulullah Saw? Dialah Aisyah binti Abi Bakr Abdillah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka`ab bin Sa`d bin Taim bin Murrah bin Ka`b bin Lu`ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah r.a.

Beliau ialah wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat julukan al-Humaira’. Ibunya bernama Ummu Ruman binti Amir binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah.

Beliau lahir ketika Islam telah memancar, sekitar delapan tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa kanak-kanaknya dalam asuhan sang ayah, kekasih Rasulullah Saw, seorang sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq.

Belum tuntas masa kanak-kanaknya ketika datang pinangan Rasulullah Saw. Usianya baru menginjak enam tahun saat Rasulullah melaksanakan akad pernikahan dengannya. Wanita mulia yang diperlihatkan oleh Allah Swt kepada Rasulullah Saw dalam wahyu berupa mimpi untuk memberitakan bahwa dia kelak akan menjadi istri Rasulullah Saw.

Dilaluinya hari-hari setelah itu di tengah keluarganya hingga tiba saatnya Rasulullah Saw menjemputnya. Tiga tahun kemudian, seusai beliau kembali dari pertempuran Badr untuk memasuki rumah tangga yang dipenuhi cahaya nubuwwah (kenabian) di Madinah. Tidak satu pun di antara istri-istri beliau yang dinikahi dalam keadaan masih gadis kecuali Aisyah r.a.

Seorang wanita mulia sabar bersama Rasulullah Saw di tengah kekafiran dan rasa lapar, hingga terkadang hari-hari yang panjang berlalu tanpa nyala api untuk memasak makanan apa pun. Yang ada hanyalah kurma dan air.

Baca Juga:  Cover Lagu "Aisyah Istri Rasulullah", Penyanyi Non-Muslim Ini Kagum Dengan Lirik dan Maknanya

Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah Swt.

Allah Swt memberikan banyak keutamaan baginya, di antaranya dengan meraih kecintaan Rasulullah Saw. Kecintaan yang tak tersamarkan, tatkala Rasulullah Saw menyatakan hal itu dari lisannya yang mulia, hingga para sahabat pun berusaha mendapatkan ridha Rasulullah dalam hal ini.

Wanita mulia ini menjalani hari-harinya bersama Rasulullah Saw hingga tiba saatnya beliau kembali ke hadapan Allah Swt. Delapan belas tahun usianya, saat Rasulullah Saw wafat di atas pangkuannya setelah hari-hari terakhir selama sakit beliau memilih untuk dirawat di tempatnya. Beliau pun dimakamkan di kamar Aisyah r.a.

Sepeninggal beliau, `Aisyah r.a. menyebarkan ilmu yang dia dapatkan dalam rumah tangga nubuwwah. Riwayatnya banyak diambil oleh para sahabat yang lain dan tercatat dalam kitab-kitab. Dia menjadi pengajar bagi seluruh kaum muslimin.

Keutamaan dari sisi Allah Swt banyak dimilikinya, hingga Rasulullah Saw menyatakan “Keutamaan Aisyah r.a. atas seluruh wanita bagaikan keutamaan tsaridz (makan daging dengan roti) atas seluruh makanan.” Bahkan Jibril menyampaikan salam padanya melalui Rasulullah Saw.

Tiba waktunya Aisyah r.a. kembali kepada Rabb-Nya, wanita mulia ini wafat pada tahun 57 Hijriah dan di makamkan di pekuburan Baqi`. Semua ilmunya, hidupnya, keharuman namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu. Bahkan sampai baru-baru ini lagunya viral. Semoga Allah meridhainya.

Teladanilah Pribadi Aisyah

Wahai wanita mulia di mana pun Anda berada, kecantikan wajahmu dan kulitmu yang mulus indah hendaknya menjadikanmu seperti sosok Aisyah. Jadilah seorang wanita yang mulia, sabar di tengah kefakiran dan rasa lapar.

Baca Juga:  Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Jadilah seperti Aisyah r.a. seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada jalan Allah Swt.

Teruslah belajar sehingga dirimu penuh dengan ilmu dan keutamaan. Ajarkan ilmu yang kamu miliki demi kemanfaatan orang-orang di sekitarmu. Kuncinya adalah, sungguh unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik.

Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur. Jika ia mendapat ujian, ia bersabar. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Semoga kita bias mengisi hari-hari kita dengan hiasan syukur dan sabar.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Cahyo

Avatar of Ahmad Cahyo
Mahasiswa Program S2 PTIQ Jakarta

Check Also

meninggal di tanah suci

Belajar dari Peletakan Hajar Aswad : Praktek Demokrasi Ala Nabi

Pada saat ini banyak Negara islam ataupun Negara yang mayoritasnya adalah muslim turut mengadaptasi sistem …

sakratul maut

Inilah Jawaban Lima Anggota Tubuh Orang Mukmin Ketika Malaikat Izrail Hendak Mencabut Ruhnya

Kematian merupakan suatu keniscayaan yang akan dialami oleh setiap individu. Ketika kematian datang, tak satupun …