Apa jadinya bila seseorang yang tidak mengerti tentang hukum agama secara baik memaksakan diri untuk berdakwah?. Bila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka akan hancur dan rusak. Profesionalisme telah sejak lama dibicarakan dalam agama Islam. Termasuk dalam hal dakwah da’i  harus memenuhi beberapa persyaratan.

Jamaluddin al Qaaimi dalam karyanya Mau’idhatu al Mukminin menyebutkan tiga syarat yang dipenuhi oleh seorang da’i, atau lebih tepatnya bagi semua orang yang terjun untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Bukan sekedar gairah dan tuntutan berdakwah saja yang besar, tetapi harus ada kriteria dan batasan yang harus dipenuhi.

Pertama, menguasai ilmu secara sempurna supaya bisa menentukan wilayah perintah dan area yang dilarang oleh agama. Bukan berdasar asumsi-asumsi tanpa pemahaman yang benar terhadap dalil dengan segala aspeknya. Sehingga konsep amar ma’ruf nahi mungkar tidak terbalik menjadi amar mungkar nahi ma’ruf. Dengan bahas yang sangat sederhana bisa diucapkan, amar ma’ruf tidak boleh dilakukan dengan cara mungkar.

Kedua, wara’. Secara sederhana wara’ berarti meninggalkan yang syubhat, apalagi haram. Di samping itu, da’i juga harus telah mengamalkan apa yang disampaikan. Karena uswatun Hasanah jauh lebih penting dari pada mauidzah hasanah. Perbuatan lebih baik darai sekedar perkataan yang tak pernah diamalkan. Lagi pula, ada ancaman tegas dari Allah kepada mereka yang hanya bisa menyampaikan tapi tidak mengerjakan.

Ketiga, memiliki akhlak yang mulia. Sebagaimana pesan Nabi, diutusnya beliau ke dunia tidak lain untuk memperkenalkan dan menyempurnakan akhlak manusia. Dengan akhlak mulia, ketertarikan untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa lebih kuat. Sebaliknya bila seruan kebajikan dilakukan dengan kasar, tidak berakhlak dan tidak mengindahkan sopan santun justeru akan menimbulkan kemungkaran baru.

Jadi, dalam berdkawah harus menghindari efek mafsadah. Tidak boleh dengan kata-kata kasar dan menghujat. Kenapa orang-orang banyak simpati terhadap Islam pada masa Nabi?. Karena akhlak terpuji yang ada pada diri Nabi. Begitu santun, penyayang dan sabar.

Maka alangkah eloknya bila para ustad, kyai maupun pegiat dakwah yang lain mendahulukan ahlak mulia. Tugas mereka hanya mengingatkan, bukan memaksa. Sebab hidayah hanya milik Allah.

Dan terpenting generasi milenial yang banyak menggantung informasi dan pengetahuan di media sosial harus benar-benar selektif dalam memilih ustad dan da’I online. Tidak semua yang populer berarti berkualitas. Jangan pernah bermain-main apalagi salah pilih dalam sumber informasi agama. Bukan sekedar urusan dunia tetapi juga menyangkut urusan akhirat.

1 KOMENTAR

  1. […] itu, dakwah-dakwah di Medsos yang memiliki rating tinggi juga diisi oleh beberapa kelompok yang belakangan menuai cibiran karena […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.