Toleransi Bukan Menggadaikan Iman, Tetapi Manifestasi Iman

0
63

Toleransi bukanlah suatu sikap untuk menegaskan bahwa semua agama benar, tetapi hanya meyakini pluralitas sebagai sunnatullah. Mempercayai perbedaan sebagai cara Tuhan adalah bentuk keimanan. Keragaman adalah suatu keniscayaan yang memang diciptakan oleh penguasa tunggal.

Hal penting yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah memperkuat keyakinan. Toleransi bukan berarti menggadaikan keimanan dan mencampuradukkan keyakinan. Dalam masalah keyakinan tidak ada tawar menawar. Keyakinan ini harus tertanam kuat dalam setiap pribadi muslim. Sehingga tidak tergoyahkan oleh kondisi apapun.

Dalam konteks hubungan antar umat beragama, toleransi atau tasamuh menghendaki seseorang untuk menghormati agama orang lain, terciptanya suasana yang tenang, sehingga umat beragama bisa menjalankan ibadahnya masing-masing dengan tenteram dan damai. Tidak ada upaya untuk memaksakan keyakinan pada orang lain.

Keragaman adalah cara Tuhan menguji umat manusia dalam berlomba meraih kebaikan, bukan untuk keburukan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (al Maidah; 48).

Allah sudah memperkenalkan ajaran terbaik kepada manusia. Islam yang rahmatan lil alamin. Yang tersisa hanya soal hidayah dan usaha berpikirnya manusia untuk menentukan dan memilih agama yang paling benar. Sebagai umat Islam yang baik, yang memeluk agama Islam secara kaffah, upaya menyampaikan ajarannya merupakan sebuah kewajiban. Tetapi kewajiban harus dengan etika dan akhlak yang baik. Dengan cara yang santun dan penuh kasih sayang. Tidak boleh mencaci, apalagi menghina.

”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (al An’am; 108)

Baca Juga:  Tasawuf adalah Benteng Akhlak dan Moral Generasi Milenial

Islam menghendaki supaya umatnya menunjukkan kebaikan ajaran Islam.  Dengan perkataan yang baik dan tingkah laku yang mencerminkan akhlak Rasulullah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (al Fusshilat; 33)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(al Nahl; 125).

Toleransi bukan menggadaikan keimanan, tetapi upaya sadar untuk menjaga kerukunan antara sesama manusia. Keragaman bukan untuk diperselisihkan. Menolak perbedaan adalah menolak sunnatullah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang beragam dan keyakinan yang plural.

Allah tidak berkehendak menjadikan satu kaum yang sama dalam keyakinan walaupun itu sangat bisa dilakukan olehNya. Tetapi Allah mempunyai scenario menguji keimanan umat. Apakah kita bisa hidup berdampingan dalam rangka memenuhi tanggungjawab sebagai khalifah untuk menjaga alam dari kerusakan. Atau justru karena keyakinan kita merusak amanat itu? Karena itulah toleran adalah praktik keimanan umat untuk memegang janji menjaga bumi dari kerusakan.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan