mendoakan non muslim
saling mendoakan

Toleransi itu Sunnah (3) : Rasulullah Mendoakan Non Muslim

Pergaulan lintas agama sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Bukan hanya di ajang kegiatan formal seperti konferensi dan forum dialog antar agama, tetapi perjumpaan itu adalah bagian dari kisah kehidupan sehari-hari. Bertetangga dan berteman meniscayakan perjumpaan lintas keyakinan itu.

Namun, dalam perjumpaan itu tidak semua dimaknai sebagai bagian halangan. Interaksi antar sesama manusia diwujudkan dalam bentuk kesetaraan, tanpa melihat apa agama dan etnis yang melekat dalam diri seseorang.

Hal ini misalnya tercermin dalam sikap Rasulullah. Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata: Suatu hari kami melihat jenazah. Kemudian Rasulullah s.a.w. berdiri untuk menghormat padanya, kami pun ikut berdiri. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah s.a.w. itu adalah jenazah orang Yahudi.” Beliau bersabda: “Kalau kalian melihat jenazah maka berdirilah.” (H.R. al-Bukhari).

Bukan karena iya Yahudi atau Nasrani atau apapun agamanya, tetapi menghormati jenazah sebagai manusia harus dilakukan. Itulah sejatinya prinsip bertoleransi berdasarkan kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah.

Praktek toleransi itu juga dilakukan Beliau dalam konteks saling mendoakan. Ada sebuah hadist yang begitu penuh dengan nuansa yang indah dan harmonis.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ يَهُوْدِيٌّ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ (ص) جَالِسًا فَعَطَسَ النَّبِيُّ (ص): فَقَالَ لَهٌ الْيَهُوْدِيُّ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ (ص) لِلْيَهُوْدِيِّ: هدَاكَ اللهُ، فَأَسْلَمَ.

Artinya:

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Seorang Yahudi berada di depan Rasulullah s.a.w. Kemudian beliau bersin. Lantas Yahudi berucap: Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Beliau pun menjawab: Hadakallah (Semoga Allah memberimu hidayah). Kemudian dia masuk Islam. (H.R. al-Baihaqi).

Saling mendoakan bukan dalam konteks harus meyakini keyakinan orang lain, tetapi semata berharap kebaikan kepada yang lain. Inilah yang selalu dilakukan Rasulullah. Bahkan kepada mereka yang sering melakukan tindakan tak terpuji pun Rasulullah tidak melaknat tetapi mendoakan hidayah yang terbaik.

Baca Juga:  Apakah Allah Memiliki Sifat Diam? (1) : Salafi Wahabi Meyakini Allah Bersifat Sukut

Bagaimana jika seseorang yang berbeda agama meminta kepada Rasulullah? Ini salah satu jiwa terbuka dari Nabi yang menerima permintaan rakyat. Beliau tidak menolak karena ia berbeda keyakinan, tetapi mendoakannya dengan harapan yang sangat baik.

Dari Ibrahim: Suatu hari, datanglah seorang Yahudi kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: “Doakan aku.” Nabi pun berdoa: “Mudah-mudahan Allah memperbanyak harta dan anakmu, menyehatkan tubuhmu, dan memanjangkan umurmu.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah).

Inilah tentu menjadi pelajaran bagi umat Islam saat ini. Jangan mendoakan yang terbaik buat yang berbeda agama, sesama muslim yang berbeda pandangan saja kita selalu mendoakan kejelekan bahkn kalimat laknat.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Pertemuan Dir Cegah BNPT dengan LPOK

Ormas Islam dan Ormas Keagamaan Dukung Pengadaan Perppu Larangan Ideologi Selain Pancasila

Jakarta – Lembaga Persahabatan ormas Islam ( LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) mendukung …

Tiga siswa terpaksa belajar di luar kelas akibat mengenakan hijab

Ogah Lepas Hijab, 2 Siswa di India Harus Belajar di Luar Kelas

Jakarta – Diskriminasi terhadap umat Muslim terus saja terjadi di India. Ketidakberpihakan pemerintah India dalam …