tradisi manaqib
tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek seremonial, manaqiban juga memiliki aspek mistikal. Lalu bagaimana hukum membacanya?

Manaqib, adalah plural sentence (kalimat jamak) dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang atau bisa disingkat biografi.

Intinya, membaca manaqib, sama halnya membaca cerita kebaikan amal dan akhlak terpujinya seseorang, atau membaca biografi seseorang untuk diteladani. Oleh sebab itu kata-kata manaqib hanya khusus bagi orang-orang baik mulia seperti manaqib Khulafa’ al-Rasyidin, manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani, manaqib Sunan Bonang dan lain sebagainya. Tidak boleh dan tidak benar kalau ada orang berkata manaqib Abu Jahal atau Abu Lahab, manaqib DN Aidit dan lain sebagainya. Apakah saudara masih tetap menanyakan hukumnya adalah tindakan pembodohan, menghambat literasi yang tengah promosi.

Dalam banyak hal dalam narasi Manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jilani terlalu berlebih-lebihan, di- make up sehingga tidak masuk akal. Misal kantong berisi dinar diperas lalu keluar menjadi darah, tulang-tulang ayam yang berserakan, diperintah berdiri lalu bisa berdiri menjadi ayam jantan.

Namun, apakah cerita yang tidak masuk akal berarti suatu kebohongan yang tidak ilmiah? Apakah kebenaran hanya bisa diukur dengan akal dan pengalaman empirik? Sejatinya hal yang tidak dijangkau oleh nalar bukan suatu ketidakbenaran, tetapi hal yang melampaui untuk dijangkau oleh akal yang terbatas. Karena itulah, peristiwa di luar batas itu disebut aneh, bukan bohong.

Hal yang sama keanehan juga terjadi di tangan Umar saat kirim surat kepada sungan Nil, dan memberikan komando perang jarak jauh. Cerita Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, Nabi Isa al-Masih yang menghidupkan orang mati, Nabi Musa yang mampu membelah lautan, semua itu adalah cerita make up yang diluar nalar.

Baca Juga:  Samnun al-Majnun: Segalanya Bisa Berubah Atas Nama Cinta

Adakah dalam al-Qur’an kisah ‘nonsense story’? ada !

Al-Quran berkisah tentang sahabat Nabi Allah Sulaiman yang diberi kemampuan memindah Singgasana Balqis. Firman Allah

قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَالَ الَّذِى عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيِكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ. فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِى أَأَشْكُرُ اَمْ أَكْفُرُ. وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِيٌّ كَرِيْمٌ.

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia. QS: al-NAml: 40

Membaca manaqib adalah tradisi turun temurun yang hingga saat ini kokoh diamalkan dalam Pesantren. Manaqib yang dibaca adalah seputar prikehidupan Syeikh Abdul Qodir al Jilany q.s.a. Kenapa Beliau?! Karena Beliau dikenal memiliki gelar prestisius “Sulthanul Auliya” (Rajanya Para Wali)..

Membaca biografi orang-orang baik adalah tindak kebaikan dan pasti akan berbuah kebaikan. Membaca manaqibpun juga akan begitu. Mendekati Allah (taqarrub) secara langsung amatlah sulit atau bahkan mustahil bagi jiwa jiwa yang jemawa. Agar tak sulit dan mustahil ialah dengan dengan cara mendekati orang-orang yang dicintai Allah. Kita butuh sarana Hand Phone untuk berbicara dengan keluarga yang berada diluar kota.

Firman Allah

وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. QS: Luqman:15

Baca Juga:  Hadist Qudsyi: Sifat Sombong itu Milik Allah, Manusia Jangan Memilikinya

al Qurthuby mengartikan “anaba ilayya” kembali kepada-Ku (Allah SWT) yaitu kembali kepada jalan para Nabi dan orang-orang sholeh. Jika tafsir al-Qurthubi diterima, maka mengikuti jalan orang-orang sholeh apalagi para ulama dan aulia merupakan anjuran Allah dan Rasul-Nya. Tafsir al-Qurthubiy, 14?66

al-Hasil, dengan mengikuti pembacaan manaqib Insya Allah merupakan salah satu jalan tempuh untuk memperoleh rakhmat dan karunia Allah dengan cepat. Sebab dengan manaqib ini kita dapat mengenal, memahami, serta menyelami karakter serta sifat-sifat wali Allah yang tujuan akhirnya dalah untuk diteladani.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

bertemu rasulullah

Memperingati Maulid Nabi di Hari dan Bulan Lain Kelahirannya

Bulan Rabi’ al-Awwal lumrah disebut bulan maulid Nabi. Kenapa? Karena nyaris sebulan suntuk tidak pernah …