Tulisan ini hendak membuktikan ketersambungan tali sanad keilmuan yang dimiliki oleh empat madzhab (Maliki, Syafi’I, Hanafi dan Hanbali), serta secara tidak langsung akan menjawab pertanyaan “Mengapa harus bermadzhab kepada empat madzhab tersebut”?.  Tidak serta merta merujuk Qur’an dan Hadist tanpa kapasitas keilmuan dan sanad yang jelas. Islam adalah agama riwayat yang keilmuannya diwariskan dari Nabi, sahabat, tabi’in, tabi’ tabiin hingga ulama madzhab. Siapa Tujuh fuqaha Madinah tersebut?

Tujuh Fuqaha Madinah (Fuqaha al-Sab’ah al-Madinah) adalah istilah yang dipakai untuk menyebut tujuh ahli fikih dari generasi tabi’in. Mereka merupakan para ulama fikih di Madinah setelah wafatnya generasi sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad. Tujuh Fuqaha Madinah memberikan pengaruh besar pada dasar-dasar madzhab Maliki dan Syafi’i.

Istilah tujuh Fuqaha Madinah memang tidak begitu dikenal, lebih ngetrend empat madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hanbali). Namun begitu, Tujuh Fuqaha Madinah merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan hukum Islam. Sebagai generasi tabi’in, yakni periode setelah sahabat, dasar-dasar fikih mereka belum terkodifikasi waktu itu. Pada generasi berikutnya, yakni masa empat imam madzhab rumusan-rumusan fikih dibukukan. Dengan kata lain, Tujuh Fuqaha Madinah adalah cikal bakal fikihnya empat imam madzhab yang ada saat ini.

Tujuh Fuqaha Madinah tersebut adalah Al-Qasim bin Muhammad, Sulaiman bin Yasar,  Sa’id bin al-Musayyab, ‘Ubaydillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, ‘Urwah bin Zubair, Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Enam nama ini disepakati oleh para ulama. Sedangkan Nama ketujuh diperselisihkan. 

Menurut al-Hakim, namanya adalah Abu Salamah bin Abdurrahman. Sedangkan menurut Ibn al-Mubarak, namanya adalah Salim bin Abdullah bin Umar dan Menurut Abi al-Zinad, namanya adalah Abu Bakr bin Abdurrahman. Sedangkan menurut Muhammad Abu Zahrah, dalam kitabnya Malik; Hayatuhu wa Asaruhu, Arauhu wa Fiqhuhu adalah Abu Bakr bin Abdurrahman sebagai nama ketujuh. Pendapat ini didukung oleh Ibn Qayyim dalam I’lam al-Muwaqi’in.

Secara nasab, ketujuh ulama fikih Madinah tersebut merupakan keturunan orang-orang mulia, ‘Urwah bin Zubair tak lain adalah keponakan istri Nabi, Siti ‘Aisyah. Sedangkan Kharijah adalah putra sahabat Nabi Zaid bin Tsabit yang merupakan penulis wahyu. Al-Qasim bin Muhammad adalah cucu sahabat Abu Bakar, dan sekaligus juga keponakan Siti Asiyah. Ubaydillah adalah keturunan Sahabat Nabi Utbah bin Mas’ud, saudaranya Abdullah bin Mas’ud. Dari ketujuh ahli fikih Madinah tersebut, pemuka atau penghulunya adalah Sa’id bin Musayyab.

Sanad Ilmu Keislaman: Dari Nabi hingga Imam Madzhab

Sejak Nabi Muhammad masih hidup, para sahabat sudah mulai diutus untuk menyebarkan agama Islam. Tidak hanya di kota Madinah, mereka juga diberi tugas sebagai da’i di berbagai kota di luar Madinah. Sebaran para sahabat di berbagai daerah dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda, dengan sendirinya menyebabkan timbulnya pemikiran hukum (fikih) Islam yang berbeda-beda pula, yang kemudian diteruskan oleh murid-muridnya yang disebut para tabi’in. Para tabi’in kemudian mengembangkan ijtihad hukum (mazhab klasik) tersendiri untuk berbagai masalah yang dihadapi, yang dinisbahkan sesuai kota tempat tinggalnya; misalnya mazhab Hijazi (ahl Al-Hijaz), mazhab Iraqi (ahl Al-Iraq), dan mazhab Syami (ahl Al-Syam).

Sementara untuk para fakih generasi tabi’in yang tinggal di Madinah, corak pemikiran mereka mendapat pengaruh kuat dari para sahabat besar, terutama antara lain Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdullah bin Umar, Aisyah binti Abu Bakar, dan Zaid bin Tsabit. Setelah para sahabat besar tersebut wafat, maka estafet penyebaran ilmu mereka dilanjutkan oleh Tujuh Fuqaha Madinah beserta ulama-ulama Madinah lainnya. Mereka memberikan pengaruh besar dan menjadi rujukan umat. Sedemikian besarnya pengaruh mereka, sehingga akhirnya aliran Hijazi juga dikenal dengan sebutan aliran Tujuh Fuqaha. Para tabi’in senior ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap perkembangan fikih waktu itu.

Setelah para tabi’in senior, tradisi intelektual di bidang hukum Islam dilanjutkan oleh para murid mereka yang disebut dengan istilah tabi’in junior. Para tab’in junior inilah yang kemudian meneruskan ilmu Tujuh Fuqaha Madinah. Di antara sederet nama-nama tabi’in junior tersebut adalah Ibnu Syihab al-Zuhri, Nafi maula Abdullah bin Umar, Abu al-Zinad Abdullah bin Dzakwan, Rabi’ah al-Ra’yi, dan Yahya bin Sa’id.

Dari tabi’in junior inilah, para imam empat madzhab menyerap ilmu fikih. Yang paling pertama adalah Imam Malik. Berikutnya adalah imam Syafi’I, karena beliau sebagaimana maklum adalah muridnya imam Malik. Dengan begitu, pendapat-pendapat dari Tujuh Fuqaha Madinah memiliki hubungan erat dengan berbagai pendapat yang dikeluarkan oleh Imam Malik. Sebagian besar riwayat-riwayat Tujuh Fuqaha Madinah ditulis dalam kitabnya Al-Muwaththa.

Sementara guru Imam Malik , Abu al-Zinad mengumpulkan konsensus pendapat Tujuh Fuqaha dalam kitabnya al-Mudawwanah. Imam Malik menganggap konsensus-konsensus pendapat tersebut beserta hadits-hadits dari Tujuh Fuqaha sebagai dasar-dasar utama dari berbagai amal kebiasaan penduduk Madinah. Sehingga Tujuh Fuqaha Madinah tersebut memberikan pengaruh signifikan pada dasar-dasar madzhab Maliki dan Syafi’i.

Dengan membaca alur di atas, sangat jelas garis sanad keilmuan dari emapat madzhab. Di samping itu, taraf keilmuan yang dimiliki oleh Tujuh Fuqaha Madinah (Tabi’in Senior), Tabi’in Junior dan Para Imam Madzhab yang empat tidak diragukan lagi. Islam merupakan ajaran dari Rasul yang diriwayatkan dari turun temurun. Memutus mata rantai ini akan menyebabkan kekeliruan untuk tidak mengatakan kesesatan.

Bermadzhab dengan demikian bukan saja ingin merawat tradisi intelektual Islam, tetapi sesungguhnya merawat orisinalitas ajaran dari Nabi yang diwariskan kepada ulama melalui periwayatan. Islam adalah agama riwayat yang memiliki alur dan sanad yang jelas, bukan sekedar langsung merujuk pada Qur’an dan hadist, tetapi tanpa memiliki sanad ilmu.