UAS ditolak Singapura
UAS

UAS Ditolak Singapura karena Dianggap Penceramah Ekstremis, Mengganggu terhadap Kerjasama Negara?

Rama-ramai para tokoh memprotes kebijakan Imigrasi Singapura yang menolak penceramah kondang Ustad Abdus Somad (UAS) ke negara tersebut. Mulai dari tokoh agama hingga para politisi. Mereka melihat kebijakan penolakan itu akan mengganggu kerjasama antar negara Indonesia dan Singapura. Memang sejauh itukah dampaknya?

Tidak hanya di Singapura, UAS juga pernah ditolak di beberapa negara. Setidaknya ada 4 negara yang pernah menolak kedatangan UAS. Di antara negara tersebut misalnya Hong Kong, Belanda, Timor Leste dan Jerman. Apakah semua akibat kebijakan tersebut hubungan bilateral dan kerjasama antar negara terganggu?

Tentu adalah hak setiap warga negara untuk berkunjung ke negara lainnya. Namun, negara lain juga mempunyai hak untuk menerima dan menolak kedatangan warga negara asing ke negaranya. Penolakan kedatangan warga asing oleh suatu negara adalah murni hak prerogative negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia tentu tidak bisa melakukan intervensi terhadap kebijakan tersebut. Apalagi Pemerintah Singapura mempunyai alasan yang tidak hanya didasarkan pada asumsi belaka. Pemerintah hanya bisa mengirimkan nota diplomatik untuk meminta penjelasan.

Penjelasan pihak Singapura begitu gambling. Setidaknya ada empat alasan yang dijadikan patokan pemerintah Singapura untuk menolak kedatangan UAS dan rombongan. Pertama, UAS dianggap menyebarkan ajaran yang ekstremis dan segregasi. Kedua, Singapura menyampaikan kritik terhadap pernyataan UAS yang pernah membahas soal bom bunuh diri dalam ceramahnya. Ketiga, Pemerintah Singapura menyebut UAS pernah melontarkan komentar yang merendahkan agama lain seperti Kristen. Bahkan, UAS disebut pernah menyebut salib sebagai tempat tinggal roh kafir.Keempat, Singapura juga menolak UAS karena ia pernah melontarkan pernyataan mengkafirkan agama lain dalam ceramahnya.

Lalu apa yang bisa diperjuangkan atas hak UAS tersebut? Keseluruhan alasan ini berdasarkan pantauan jejak digital penceramah UAS yang memang kerap menimbulkan kontroversi. Jejak digital itulah yang dijadikan dasar dan tentu saja kajian verifikasi lebih jauh terhadap sosok UAS dalam kacamata Singapura. Dan tentu sebuah kebijakan yang dalam perspektif negara tersebut sebagai Langkah pencegahan yang tidak mau berkompromi dan memberikan ruang bagi tokoh yang kerap menyebarkan intoleransi, segregasi dan ekstremisme.

Baca Juga:  Penolakan UAS di Singapura Biasa, Selanjutnya Dramatisasi Terdzalimi

Singapura yang memiliki penduduk multi ras dan etnik memandang ceramah yang mengedepankan pada segregasi berdasarkan agama tidak bisa ditolerir. Apalagi dalam pantauan mereka UAS dalam jejak digitalnya pernah menyampaikan ceramah yang mengarah pada ekstremisme kekerasan.

Jejak digital para penceramah menjadi cukup menjadi perhatian oleh beberapa negara. Tentu tidak hanya Singapura. Negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan sebagainya memiliki konsen yang sama terhadap materi ceramah para dai. Ceramah yang dianggap mengarah pada segregasi, ekslusivisme dan ekstremisme di negara multi ras dan etnik tidak akan bisa ditolerir.

Pada akhirnya, penolakan terhadap UAS di negara Singapura dengan alasan yang sudah disampaikan tentu tidak akan menganggu hubungan dan kerjasama Indonesia-Singapura. Sama dalam hal kasusnya ketika UAS ditolak datang di negara lain.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

antrian haji

Antrian Haji dan Tanggungjawab Sosial Mengatasi Kemiskinan

Gairah haji masyarakat dari tahun ke tahun tidak pernah surut. Impian untuk melengkapi rukun Islam …

hajar aswad

Sejarah dan Penelitian Sains tentang Hajar Aswad

Batu Hajar Aswad merupakan batu yang memiliki nilai sejarah bukan hanya bagi agama Islam namun …