ustad medsos
ustad medsos

Ulama Mesir Usulkan UU Kewenangan Bicara Agama di Medsos

Seorang ulama Mesir dan Guru Besar Ilmu Hadis Universitas al-Azhar Prof. Mohamed Ebrahim al-Ashmawey mengusulkan adanya Undang-Undang/UU tentang kewenangan bicara Agama di media sosial kepada Perleman Mesir. Prof. Ebrahim menyarankan UU dimaksud menegaskan  larangan bicara agama di media sosial bagi yang tidak memiliki keahlian ilmu agama atau izin dari institusi keagamaan yang kredibel. Menurutnya, banyak orang awam membicarakan persoalan rumit bahkan sensitif dalam agama di media sosial sehingga menimbulkan kegaduhan.

Banyak masyarakat Mesir dianggap mulai ragu setelah mengikuti pembahasan-pembahasan agama dari orang yang bukan ahlinya di media sosial. Disamping ragu dengan apa yang sudah lama diyakini, mereka tidak lagi percaya pada institusi keagamaan, termasuk al-Azhar yang diakui kredibelitasnya di dunia. Karena terus mengalami keraguan, mereka bingung dan bertanya; “siapa yang benar dan siapa yang salah?”.

Kondisi memprihatinkan ini diperparah dengan fenomena munculnya youtuber dan aktivis medsos yang tidak memiliki kepakaran agama  tetapi memaksakan pendapatnya dan melakukan teror psikologis dengan melontarkan tuduhan-tuduhan negatif seperti syirik, bid’ah, sesat kepada orang lain dengan nada penghinaan dan pelecehan. Dampak dari maraknya kekerasan verbal, hubungan harmonis di tengah masyarakat pun terganggu bahkan retak akibat gerakan atau klaim dakwah medsos yang dilakukan oleh pihak yang tidak memperhatikan adab serta standar keilmuan agama yang harus dimiliki seorang pendakwah. Negara pun dinilai akan kehilangan wibawa jika kecenderungan media sosial di tengah fenomena “matinya” kepakaran tidak dikendalikan oleh Undang-Undang/UU khusus.

Prof. Ebrahim melalui surat terbukanya meminta Parleman Mesir segara mengambil sikap dengan menerbitkan UU baru yang mengatur tindak pidana provokasi dan fitnah dengan membicarakan persoalan agama di media sosial tanpa memiliki bekal keahlian atau izin dari lembaga yang otoritatif.

Namun demikian, kondisi seperti ini bukan berarti munculnya kebingunan atau keraguan dalam agama mutlak sebuah aib bagi negara muslim. Selama ada bimbingan dari guru  yang ahli, atau sedang dalam perjalanan intelektual dan diskusi pemikiran justru merupakan hal yang positif. Prof. Ibahim mengatakan; “Seandainya dalam diskusi-diskusi pemikiran tidak memberikan faedah kecuali hanya menjatuhkan dirimu pada kebingungan maka cukuplah hal itu dianggap manfaat. Sebab kebingungan merupakan awal dari petunjuk (hidayah) dan mendorongmu untuk terus melanjutkan proses pencarian kebenaran”. Dalam hal ini, Imam Ghazali (w. 505 H) menyebut bahwa keraguan adalah peringkat pertama keyakinan. Artinya, untuk sampai kepada keyakinan, keraguan harus dialami terlebih dahulu.

Tidak sedikit masalah-masalah khilafiyah (diperselisihkan oleh para ulama) secara tidak langsung mengungkap tabir seseorang, apakah dia benar-benar seorang ahli (alim) ataukah sebatas orang awam. Wajar jika banyak orang baik memilih diam tidak berkomentar agar selamat. Sebab jika mengomentari hal-hal yang khilafiyah dimaksud maka rahasia atau kemampuan aslinya akan nampak jelas. Seandainya seorang pejabat berbicara agama maka dia masih bisa menutupi diri dengan jabatannya, namun berbeda halnya jika memasuki pembahasan sensitif atau khilafiyah.

Persoalan seperti ini sudah ada di zaman dulu meskipun zaman dulu belum ada sarana atau akses yang membuat sebuah kontroversi segera viral dan mendunia. Konon Ibnul Jauzi (w. 597) sebagai seorang ulama Baghdad dan bermadzhab Hanbali memberikan penilaian kepada tiga orang yang penulis kitab tentang madzhab Hambali tanpa dilandasi keahlian di bidang ushul fikih versi Imam Hambali. Akibatnya, timbul  kegaduhan bahkan tuduhan negatif bahwa Imam Ahmad bin Hambal berpaham antropomorfis (tasybih dan tajsim) yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

Ibnul Jauzi terang-terangan menyebut tiga orang; Ibnul Zaghuni, Abu Abdillah bin Hamid dan sahabatnya; al-Qadhi sebagai kelompok awam lantara menulis kitab yang menciderai madzhab Hambali dengan tuduhan tajsim; memaknai sifat-sifat Allah dengan makna inderawi sehingga menetapkan adanya unsur materi atau anggota badan pada Dzatnya Allah. Ibnu Jauzi tidak diam dan membantah mereka dengan menulis kitab Daf’u Syubahit Tasybih bi Akaffit Tanzih.

Pandangan tiga orang tersebut diikuti oleh kalangan awam meskipun tidak bisa dicerna oleh akal sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Jauzi. Mereka pun mengaku sebagai kelompok Ahlussunnah meskipun jelas-jelas perkataan mereka mengandung tajsim. Di zaman sekarang, pandangan ini diikuti oleh kelompok Wahabi yang mengklaim sebagai pengikut madzhab Hambali. Disebut Wahabi bukan tanpa sebab. Kondisi mereka ketika terjadi khilafiyah secara berurutan mengunggulkan pandangan Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian Ibnu Taimiyah dan setelah itu Imam Ahmad bin Hambal. Oleh karena itu, mereka tidak dikenal dengan Hambali atau Taimi, melainkan dikenal dengan Wahabi lantaran rujukan tertingginya adalah Muhammad bin Abdul Wahab.

Bantahan Ibnul Jauzi terhadap para pengikut tajsim tersebut ditiru oleh seorang ulama bermadzhab Syafi’i; Taqiyyuddin al-Hishni yang mengarang kitab berjudul Dafu Syubahi Man Syabbaha wa Tamarrada wa Nasbu Dzalika ila Assayed Aljalil Alimam Ahmad. Syekh Taqiyyudin menyebut orang yang berkeyakinan tajsim sebagai orang munafik bahkan kafir. Beliau mengakui bahwa latar belakang menulis kitab dimaksud adalah kebingugan yang penulis alami banyak bermunculan orang-orang mujassimah yang kesibukannya mencaci dan mengaku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hambal.

Walhasil, fenomena berbicara, bahkan menulis kitab tanpa didasari keahlian sudah terjadi di masa generasi Salaf. Generasi saat ini sudah seharusnya untuk mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah masa lalu agar bisa menjadi generasi muslim baru yang lebih baik. Wallahu A’lam.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort