rehab kekerasan seksual
rehab kekerasan seksual

Urgensi Pemulihan Mental dan Sosial Korban Kekerasan Seksual dalam Perspektif Islam

Suatu kali, Rasulullah saw. hendak menshalati seorang perempuan yang diduga adalah korban kekerasan seksual. Kala itu, sang perempuan meninggal setelah dihukum rajam atas pengakuannya. Para sahabat mempertanyakan tindakan Nabi tersebut, untuk apa seorang pezina dishalati?.

Rasulullah saw tetap menshalatinya sebagai penghormatan terakhir. KH Imam Nakhai menyampaikan bahwa tindakan yang dilakukan Rasulullah tersebut dapat dimaknai sebagai pemulihan mental dan sosial serta memberi teladan agar tidak melakukan reviktimisasi dan pelabelan terhadap korban kekerasan seksual.

Korban kekerasan seksual menanggung dua kepedihan di luar kuasanya. Pertama adalah kekerasan seksual yang telah menggoreskan trauma tak terperi. Kedua adalah stigma masyarakat yang masih hingga saat ini, memojokkan dan mencederai harga diri korban dalam kedudukan sosial.

Reviktimisasi adalah situasi dimana seorang korban tindakan kekerasan dijadikan korban Kembali akibat perilaku yang diskriminatif. Contoh sederhananya, korban pemerkosaan tidak mendapat keadilan sebab dianggap bahwa peristiwa perkosaan disebabkan oleh si korban memakai baju terbuka sehingga mengundang pelaku untuk memerkosanya.

Kasus lain yang juga sering terjadi, korban kekerasan dalam rumah tangga yang dianggap wajar hanya karena istri tidak menuruti kata suami atau sebaliknya. Ada kesalahan berpikir jika kita sepakat dengan perspepsi ini. Sebab, kejahatan kekerasan seksual dalam berbagai apapun bentuknya, terjadi karena niatan pelaku yang dikuasai oleh nafsu binatang.

Reviktimisasi melanggengkan pola pikir mudah menghakimi. Korban kekerasan seksual dianggap tidak lagi suci dan ternodai. Pola pikir ini selanjutnya berujung pada pengambilan solusi yang salah kaprah. Menikahkan korban dengan pelaku. Dalihnya adalah untuk menghapus dosa. Tentu saja ini adalah solusi yang menyesatkan dan tidak berpihak pada korban.

Perlu diketahui bahwa kekerasan sekual mempunyai dampak negative tidak hanya dalam aspek fisik, namun juga secara psikis bagi korban. Trauma berat yang dialami dapat menimbulkan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kelainan psikis sebagai kondisi yang muncul setelah pengalaman luar biasa yang mencekam, mengerikan dan mengancam jiwa seseorang seperti dalam kekerasan seksual.

Baca Juga:  Islam Mengecam Kekerasan Seksual

Gejala utama Post Traumatic Stress Disorder ditunjukan dengan  adanya rasa waswas apabila berhadapan dengan situasi atau keadaan yang mirip saat kejadian, merasa ingin menghindari dari situasi atau keadaan yang membawa kenangan. Lebih fatal lagi, Cris M. Sullivana and Linda Olsen menuliskan bahwa pengalaman perempuan korban kekerasan seksual menunjukkan bahwa kekerasan seksual dapat menghancurkan seluruh integritas hidup korban yang menyebabkan korban merasa tidak mampu melanjutkan hidupnya lagi.

Jika korban kekerasan seksual menikah dengan pelaku, sangat mungkin gejala PTSD tersebut terus menerus muncul dan pada akhirnya semakin menipiskan semangat hidup korban. Menikahkan korban dengan pelaku tidak hanya salah kaprah, namun juga secara sadar atau tidak sadar, menjebloskan korban ke dalam lingkaran kekerasan yang sama. Menikahkan korban dengan pelaku menjauhkan korban dari hak hak yang semstinya diperoleh, yakni hak untuk kebenaran, keadilan dan pemulihan mental serta sosial. Pelaku semestinya mendapatkan hukuman setimpal dan korban mendapatkan martabat dan harga dirinya kembali diterima di masyarakat serta kesempatan untuk bangkit dan melanjutkan hidup dengan tentram dan aman.

Dalam perspektif fiqh, KH Husein Muhammad dalam bukunya Fiqh Perempuan menuliskan bahwa jumhurul ulama sepakat, perempuan korban kekerasan seksual adalah tidak berdosa dan oleh karena itu tidak dapat dihukum dalam bentuk apapun. Semantara, hukuman untuk pelaku disandarkan pada Al-qur’an Surat Al Ma’idah ayat 33.

اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِيۡنَ يُحَارِبُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ وَيَسۡعَوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ يُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ يُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَيۡدِيۡهِمۡ وَاَرۡجُلُهُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ يُنۡفَوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ‌ؕ ذٰ لِكَ لَهُمۡ خِزۡىٌ فِى الدُّنۡيَا‌ وَ لَهُمۡ فِى الۡاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيۡمٌ

Artinya: “Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar”.

Baca Juga:  Madinah Era Nabi sebagai Pilot Project Negara Multikultural

Terhadap korban, pemulihan mental dan sosial menjadi kebutuhan primer yang pemenuhannya merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai satu kesatuan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal. Dr. Nur Rofiah dalam bukunya ‘Memecah Kebisuan – Respon NU: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Seksual’ menuliskan bahwa lembaga dan komunitas agama memerankan fungsi yang signifikan dalam menentukan peluang bagi korban kekerasan seksual untuk memperoleh bantuan dan dan memulihkan Kembali harga diri dan rasa adilnya. Apalagi dalam situasi dimana agama dijadikan sumber pembenaran bagi perilaku yang menghakimi dan menghukum korban.

Peran lembaga dan komunitas agama adalah kunci, baik dalam memberikan bantuan praktis jangka pendek maupun dalam upaya jangka panjang untuk membangung kesadaran baru di tengah masyarakat agar kekerasan dan reviktimasisi korban tidak terulang lagi.

Sebagai masyarakat umum, langkah praktis pertama yang bisa dilakukan terhadap korban kekerasan seksual adalah dengan mendampingi dan melindungi korban di tempat yang aman. Langkah selanjutnya adalah mencari bantuan untuk mempertebal system dukungan pada korban dengan cara bekerjasama dengan lembaga maupun komunitas representative untuk membantu korban mendapatkan pemulihan mental dan memperoleh keadilan. Langkah lain yang tentu saja masih terus harus diperjuangkan adalah dukungan terhadap disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, sebagai paying hukum dan system komunal yang legal untuk menekan kasus kekerasan seksual di Indonesia dan mambantu korban seksual memperoleh hak haknya.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …