Angkatan Laut Islam
Angkatan Laut Islam

Usman bin Affan: Bapak Angkatan Laut Umat Islam

Pasca ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah, Umar bin Khathab jatuh sakit. Merasa ajalnya sudah dekat, ia kemudian mengumpulkan para sahabat. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak sebaik Abu Bakar yang mampu menunjuk seseorang untuk menggantikannya, tapi ia juga tidak dapat sebaik Nabi Muhammad Saw, yang membiarkan sahabatnya memilih pengganti. Oleh karena itu, Ia membentuk dewan formatur yang bertugas memilih khalifah berikutnya.

Dewan formatur yang dibentuk Umar bin Khathab terdiri dari enam orang sahabat. Enam orang tersebut di antaranya Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Abi Waqash. Dewan formatur tersebut diketuai oleh Abdurrahman bin Auf. Mengantisipasi terjadinya suara imbang, ketika nanti terjadi voting, maka dewan tersebut ditambah satu anggota yaitu putra Umar bin Khathab, Abdullah bin Umar. Abdullah memiliki hak memilih, tapi tidak mempunyai hak untuk dipilih sebagai khalifah.

Setelah terbentuk, dewan formatur tersebut bekerja. Dalam sebuah riwayat, Abdurahman bin Auf sebagai ketua pelaksana mendatangi Usman dan Ali secara bergiliran. Peristiwa tersebut terjadi setelah wafatnya Umar bin Khathab. Abdurrahman berkata kepada Usman, “jika saya tidak membayarmu (Usman), maka siapa yang kau usulkan?” Ia berkata, “Ali”. Dalam lain waktu, Abdurrahman mendatangi Ali dan berkata, “Jika saya tidak membaiatmu, siapa yang akan kau usulkan untuk dibaiat? Ali menjawab, “Usman”.

Mendapat jawaban tersebut, Abdurrahman lalu bermusyawarah dengan para sahabat. Mayoritas memilih Usman. Ketika semuanya sudah sepakat, Usman bin Affan lalu dibaiat menjadi khalifah pengganti Abu Bakar pada tahun 644 M.

Resmi menjadi pemimpin umat Islam, Usman segera melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Ia melanjutkan kebijakan perluasan wilayah pada masa Umar. Ia memilih Walid bin Uqbah untuk menjadi panglima perang umat Islam. Dalam rangka merebut supremasi atas wilayah kekuasaan Bizantium di Syam dan Mesir, Usman membangun angkatan laut. Itu adalah angkatan laut pertama dalam sejarah Islam. Maka tak heran jika Usman disebut sebagai bapak angkatan laut umat Islam.

Baca Juga:  Tujuh Fuqaha Madinah: Penyambung Sanad Keilmuan Nabi ke Imam Madzhab

Usman membangun angkatan laut atas usulan dari Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sofyan. Sebagaimana diketahui, Syam dan Mesir merupakan koloni utama Byzantium yang berbatasan langsung dengan Mediterania. Tentu, di dua daerah tersebut terdapat banyak kota pesisir dan pelabuhan yang strategis seperti Akka, Alexandria, Caesarea dan kota-kota lainnya. Dengan adanya angkatan laut tersebut, pasukan Islam tidak hanya mampu berperang di daratan, tetapi juga di lautan.

Selama Usman memimpin, wilayah kekuasaan Islam mencapai perbatasan Sudah, India dan China. Kabul, Ghaznah, Balkan, Turkistan, Khurasan, Naisabur, Thus, Asia Kecil, Cyprus, Tripoli, dan sebagian wilayah Afrika Utara.

Ketika wilayah Islam semakin luas, muncul persoalan baru terkait perbedaan membaca Al-Qur’an. Umat Islam di berbagai tempat, memiliki bacaan Al-Qur’an yang berbeda. Adalah Huzaifah bin Yaman yang menemukan kasus tersebut ketika terjadi peperangan di kawasan Azerbaijan dan Armenia.

Selain terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur’an, beredar juga mushaf-mushaf Al-Qur’an yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal itu karena para sahabat memiliki tulisan Al-Qur’an sendiri yang dimiliki secara pribadi. Beberapa mushaf yang masyhur di antaranya adalah mushaf Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Mus al-Asy’ari dan Miqdad bin Amr.

Berdasarkan kasus tersebut, Huzaifah kemudian mengusulkan kepada Usman agar membuat satu mushaf Al-Qur’an. Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari pertentangan antar umat Islam di kemudian hari.

Usman lalu menindaklanjuti usulan tersebut dengan membentuk tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Usman sejatinya melanjutkan apa yang dulu telah dirintis oleh Abu Bakar. Atas kerja keras tim yang dibentuk Usman, lahirlah mushaf Al-Qur’an seperti yang dikenal umat Islam sekarang ini. Mushaf hasil kerja tim bentukan Usman tersebut kemudian digandakan menjadi tujuh mushaf yang disebarluaskan ke berbagai daerah seperti Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah. Berkat jasa Usman, umat Islam di seluruh dunia memiliki mushaf Al-Qur’an yang sama, hingga hari ini.

Baca Juga:  Pertarungan Binatang dalam Kisah Dibakarnya Nabi Ibrahim

Usman juga berjasa terhadap perluasan Masjid Nabawi, masjid peninggalan Nabi. Syahdan, karena umat Islam semakin banyak, Masjid Nabawi sudah tidak mampu menampung umat Islam ketika shalat berjamaah. Akhirnya, Usman berinisiatif memperluas masjid Nabawi. Perluasan tersebut terjadi di sisi selatan, barat dan utara seluas 1100 persegi. Berkat kebijakannya tersebut, Masjid Nabawi bertambah luas dan daya tampungnya semakin besar.

Sejatinya, masa pemerintahan Usman dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, masa keemasan dan periode kedua, masa kemunduran. Pada masa kemunduran ini, banyak kebijakan Usman yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan umat Islam. Usman dituduh melakukan nepotisme dengan mengangkat banyak kerabatnya menjadi pejabat pemerintahan. Akibatnya, banyak rakyat yang mulai tidak suka terhadap kepemimpinan Usman. Rakyat Kuffah dan Basrah misalnya, menentang Gubernur yang diangkat oleh Usman.

Ketidakpuasan rakyat atas pemerintahan Usman semakin menjadi hingga kemudian terjadi huru-hara di Madinah. Pada huru-hara tersebut, Usman terbunuh karena ditikam oleh gerombolan pemberontak. Ia wafat bersimbah darah saat tengah membaca Al-Qur’an tahun 656 M/35H. Pembunuhnya, bukan orang non-muslim, tapi umat Islam sendiri. Peristiwa pembunuhan Usman tersebut pada akhirnya memiliki dampak yang sangat besar di tubuh umat Islam, yakni perpecahan! Perpecahan tersebut nantinya akan semakin meruncing di masa pemerintahan khalifah selanjutnya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Nur Rokhim

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY