masyarakat dan turis meletakkan bunga lilin dan berdoa untuk memperingati peristiwa 23 tahun tragedi bom bali minggu 12102025 1760273143141 169

23 Tahun Peringatan Bom Bali, Semoga Tidak Pernah Terulang Kembali

Badung – 23 tahun yang lalu pada 12 Oktober 2002 bom mobil meledak dikawasan Kuta Bali, serangan bom yang meluluhlantakkan kawasan Kuta, Bali menjadi catatan kelam dari peristiwa serangan mematikan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak mempunyai tanggungjawab. ratusan korban dari yang luka-luka hingga wafat, keluarga merasakan pedih yang menyayat hati. Kini setelah 23 tahun berlalu, harapan dan doa semoga kejadian serupa tidak pernah terulang kembali.

Dilansir dari laman detik.com Peringatan 23 tahun tragedi Bom Bali digelar pada Minggu (12/10/2025). Peristiwa kelam yang terjadi pada 12 Oktober 2002 itu kembali dikenang oleh keluarga korban, warga, serta wisatawan yang sedang berlibur di Bali.
Kegiatan peringatan berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Badung, keluarga korban, dan masyarakat umum. Salah satu yang hadir adalah Januar (25), warga yang pamannya menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

“Kebetulan paman saya bekerja di kafe lokasi pengeboman,” ujar Januar.

Ia datang seorang diri untuk mewakili keluarganya dan turut meletakkan bunga di tugu peringatan (Ground Zero). Januar berharap tragedi serupa tak pernah terulang kembali.

“Semoga tahun ini Bali lebih baik lagi, tidak kecolongan lah seperti aksi-aksi teror yang sebelumnya. Karna tiap tahun selalu ada yang ditangkap tug terortis. Semoga pihak keamanan lebih bekerja keras lahi mengamankan bali,” katanya.

Turis Asing Ikut Beri Penghormatan
Selain warga lokal, wisatawan asing juga terlihat hadir dalam upacara peringatan tersebut. James dan Nicole, pasangan asal Australia, datang untuk memberikan penghormatan kepada para korban.

“Kami datang untuk memberikan penghormatan kepada semua orang yang meninggal dalam peristiwa Bom Bali. 23 tahun itu momen yang besar,” ujar James.

Meski tidak memiliki keluarga atau teman yang menjadi korban, keduanya merasa terpanggil untuk datang dan menunjukkan rasa simpati. Mereka turut menaruh bunga dan berdoa di depan tugu peringatan.

“Tentu saja ini menyedihkan, bukan hanya untuk Australia, tapi juga untuk Bali dan masyarakat Bali. Ini adalah hal yang menyedihkan,” katanya.

James berharap seluruh pihak yang terdampak bisa terus pulih, serta hubungan antara Indonesia dan Australia semakin erat.

“Saya berharap semua orang yang terdampak bisa pulih, dan peristiwa ini membuat hubungan antara kedua negara kita semakin erat. Kita bisa terus melanjutkan hubungan baik yang telah terjalin,” harapnya.

Meski mengenang tragedi kelam, James tetap menilai Bali sebagai tempat yang indah dengan masyarakat yang ramah.

“Orang-orangnya baik, pemandangannya indah. Bali adalah tempat yang sangat menyenangkan,” ujarnya.

Tak hanya wisatawan asing, wisatawan domestik juga terlihat mengikuti momen peringatan tersebut. Maya, wisatawan asal Ambon yang sedang berlibur di kawasan Legian, mengaku datang karena rasa simpati.

“Kebetulan di sini. Pingin ke sini lihat dan merasa simpati. Karena saya mengikuti peristiwa di media sosial aja,” katanya.

Usai menaruh bunga dan berdoa, Maya turut merasakan duka bagi keluarga korban.

“Ya kasihan, rasa simpati juga. Keluarga korban juga kalau dilihat kasihan kan ditinggalkan keluarga,” ujarnya.

Ia berharap tragedi Bom Bali dapat menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tak terulang.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

malam nisfu sya'ban

Sya’ban: Bulan yang Dilupakan, Padahal Penentu Kualitas Ramadan

anpa banyak disadari, kita kembali berjumpa dengan bulan Sya’ban—bulan kedelapan dalam kalender Hijriah—yang menandai bahwa …

alissa wahid 1768960248350

Alissa Wahid : Petugas Haji Indonesia Salah Satu yang Terbaik

Jakarta – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid menilai petugas haji Indonesia selama ini dikenal …