PERBUDAKAN DAN KRISIS KEMANUSIAAN
PERBUDAKAN DAN KRISIS KEMANUSIAAN

ISIS, Genosida Yazidi, Perbudakan dan Krisis Kemanusiaan

Yazidi, nama sebuah komunitas keagamaan minoritas di Irak yang berbahasa Kurdi. Mereka adalah kelompok etnoreligius yang mempraktikkan sinkretisme. Diperkirakan jumlahnya sekitar 600.000 orang, namun data lain menyebutkan ada sekitar 100.000 orang yang berdomisili di Irak. Sedangkan yang lain berdomisili di Suriah, Turki, Armenia dan Georgia. Rata-rata mereka bekerja sebagai petani dan peternak.

Kisah ini bermula pada kisaran tahun 2014. Dimana saat itu ISIS mulai eksis mengambil alih beberapa wilayah di Timur Tengah, yakni Suriah dan Raqqa yang kemudian ditetapkannya sebagai Ibukota Kekhalifahan. ISIS juga berhasil merebut beberapa wilayah seperti Mosul, kota Fallujah, dan Tikrit di Irak.

Teror pun terjadi kepada kelompok Yazidi. Mereka membantai hingga ribuan warga Yazidi di Gunung Sinjar dan memaksa lebih dari 7 ribu perempuan Yazidi menjadi budak seks tentara ISIS. Jika melawan, para perempuan ini akan disiksa bahkan hingga dibunuh dengan bengis.

ISIS beranggapan bahwa Yazidi adalah kelompok kafir dan sesat yang harus dibunuh dan dimusnahkan. Darahnya adalah halal. Perempuannya halal menjadi budak seks. Sehingga mereka terus-terusan membantai warga Yazidi dengan sangat biadab. Lebih dari ratusan perempuan dibunuh karena enggan dijadikan budak seks.

Awal Tahun 2016 lalu, ISIS mengaku telah mengeksekusi sebanyak 250 perempuan yang tidak mau dipaksa dijadikan budak seks mereka. Sebagian diantaranya dikabarkan berusia anak-anak. Selain itu, lebih dari 500 perempuan irak pada 2014 lalu pernah mengalami pelecehan seksual oleh tentara ISIS.

ISIS tidak mengenal kemanusiaan, HAM, Feminisme hingga emansipasi. Bagi mereka, itu merupakan produk Barat yang kafir dan sesat. Perempuan di mata mereka hanyalah sebagai pemuas hasrat seksual, tidak lebih. Bahkan derajat perempuan disamakan dengan derajat hewan, dimana perempuan bebas diperjual-belikan.

Baca Juga:  Mengapa Mereka Senang Menghina Islam?

Seorang perempuan mantan budak seks ISIS berkisah bahwa dirinya pernah beberapa kali dijual-belikan kepada sesama militan ISIS. Ia dijual, lalu ditebus untuk menjadi budak seks selama beberapa hari, lalu dijual lagi dan dibeli oleh orang berbeda dan begitu seterusnya.

Keji dan bejat. Begitulah kesaksian korban kekejaman ISIS yang hingga kini masih hidup dam berhasil kabur dari neraka mengerikan itu. Mereka bahkan tidak hanya diperkosa, namun juga sisiksa menggunakan kabel listrik, dicambuk dan lain sebagainya.

Perempuan lain berkisah bahwa dirinya pernah tak sengaja memakan daging anak laki-lakinya yang berusia satu tahun. Ia mengaku kala itu disandera di ruang bawah tanah yang gelap gulita. Beberapa hari tanpa makan dan minum. Ia kelaparan. Lalu datanglah seorang militan ISIS menghidangkan makanan dan minuman. Seusai ia makan, lelaki itu berkata bahwa daging yang ia makan adalah daging anak lelakinya.

Dari beberapa kisah kekejaman di atas, kita perlu bersyukur teror di Indonesia tidak semengerikan yang terjadi di Irak dan Suriah. Kita bersyukur sudah sejak dini menyadari ancaman-ancaman krisis kemanusiaan yang dibawa oleh kelompok militan ISIS beserta jaringan, simpatisan dan afiliasinya. Sehingga kita banyak melakukan antisipasi dengan menyebarkan narasi-narasi dan doktrin anti-radikalisme serta anti-terorisme.

Cukuplah Irak dan Suriah yang menjadi contoh kegagalan klaim kebangkitan khilafah ala kaum bughot yang kerap bertindak ahumanis dan amoral, bahkan juga tidak agamis karena tidak merepresentasikan ajaran agama yang diperjuangkannya.

ISIS tak layak jadi kiblat peradaban. Mereka justru merupakan sampah peradaban yang harus dibuang dan dibersihkan karena sangat mengotori masa depan Islam. Perempuan dalam Islam adalah manusia yang memiliki derajat mulia, setara dengan laki-laki dalam kehidupan sosial. Mereka tak layak menjadi budak-budak seksual, diperlakukan ahumanis, bahkan diperjual-belikan seperti barang dagangan. ISIS beserta jaringan, simpatisan dan afiliasinya tak satupun mencerminkan ajaran Islam sejati yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Baca Juga:  WNI Eks ISIS, Buya Syafii: Serba Repot Karena Mereka Sudah Dicuci Otak Oleh ISIS

Islam yang sejati adalah Islam yang kita kenal di Indonesia. Luwes, humanis, berakhlakul karimah, memiliki kualitas intelektual tinggi, memiliki sanad keislaman yang jelas dan tentunya moderat serta tidak mengedepankan kekerasan dalam menegakkan syariat agama.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”