muktamar nu
muktamar nu

Menanti Kebijaksanaan Sang Pemimpin, Mungkinkah NU Kembali ke Khittah?

Saya bersyukur dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-34 yang diselenggarakan di Lampung pada22-24/12/2021 lalu menghasilkan keputusan bahwa K.H. Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) PBNU periode 2021-2026. Tentu, keputusan ini berdasarkan hasil suara mayoritas Muktamirin yang mewakili lebih dari 500 PCNU se-Indonesia bahkan juga cabang NU yang berada di luar negeri.

Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketum PBNU tentu membawa angin segar bagi kalangan muda NU yang menghendaki regenerasi struktural demi menghadapi tantangan NU yang lebih besar menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Sebelumnya, pada dua periode kepemimpinan Abuya K.H Said Aqil Sirodj, tampak jelas bagaimana kiprah NU yang demikian progresif, transformatif, dan responsif, terutama ketegasannya dalam merespons gerakan-gerakan pemecah-belah umat seperti 212, FPI, dan gerakan radikal-ekstrimisme seperti Hizbut Tahrir, juga gerakan dan ideologi radikal-terorisme di Indonesia hingga dunia.

Kritik yang diutarakan Abuya Said kepada kelompok radikal dan kaum takfiri sangat pedas dan tegas, meski bagi kaum Nahdliyyin sendiri kritik tersebut justru kerap dibuat bercandaan. Contohnya adalah soal jenggot, celana cingkrang, jidat hitam, dan beberapa yang lain.

Tampaknya, kritik menohok seperti yang dilontarkan oleh Abuya Said kemungkinan kecil terjadi pada masa kepemimpinan Gus Yahya. Alih-alih melontarkan kritik yang menohok dan super pedas, prediksi saya -entah nantinya benar atau tidak-, Gus Yahya justru melontarkan joke atau candaan-candaan yang sepertinya tak masuk akal jika dicerna secara instant, tapi jika dipahami mendalam justru mencerminkan sikap NU yang seharusnya. Ya, seperti pada masa Gus Dur. Tapi sekali lagi, ini hanya prediksi.

Jujur, saya tak banyak mengenal Gus Yahya kecuali hanya tahu sebatas beliau saudara kandung (kakak) dari Gus Yaqut Cholil Qoumas dan putra dari alm. K.H. Muhammad Cholil Bisri Rembang. Itu saja.

Baca Juga:  Harus Lari dan Naik Turun di Berbagai Medan, Ketum PBNU Minta Pengurus Tanfidziyah Tak Sarungan

Pertama kali dan untuk beberapa kali berjumpa dengan beliau adalah saat kebetulan beliau diundang pada acara semi-formal yang dilaksanakan oleh Jamaah Kopdariyah (Jamkop) Magelang Raya, waktu itu berlokasi di STAIA Syubbanul Wathon Tempuran, Magelang.

Saat itu Gus Yahya diminta untuk menyampaikan pandangannya tentang kebangsaan, kerurukunan, dan kemanusiaan. Betapa penyampaian beliau amat mendalam soal kemanusiaan universal. Sangat tampak bahwa gagasan-gagasan beliau banyak dipengaruhi oleh pemikiran Gus Dur. Hal itu terlihat ketika beliau beberapa kali menyinggung tentang sikap dan kebijaksanaan Gus Dur dalam menghadapi berbagai problematika sosial-politik hingga kultural di Indonesia bahkan dunia (dalam hal ini disinggung pula soal konflik Israel-Palestina).

Tak hanya sekali beliau hadir dalam acara Jamkop, -kalau tidak salah ingat- empat kali beliau hadir pada kegiatan dialog kerukunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Magelang Raya ini. Bahkan, berapa bulan paska beliau kembali dari Israel untuk misi menghidupkan spirit Gus Dur di sana, beliau masih bersedia hadir untuk berbagi gagasan-gagasan cemerlang dalam rutinan Jamkop. Ya, serendah hati itu beliau.

Gus Yahya memang masih ada ikatan saudara yang erat dengan beberapa Kyai di Jamkop, antara lain Gus Yusuf Chudlori, Kyai Said Asrori, dan Kyai Labib Asrori. Kehadiran Gus Yahya, tentu saja, berkat senggolan manis dari beliau-beliau ini.

Mulai sejak awal hingga perjumpaan terakhir di Jamkop, saya jadi sedikit paham bagaimana pola berpikir dan gagasan-gagasan cemerlang Gus Yahya untuk NU secara khusus, dan terlebih untuk Indonesia serta dunia. Tak heran jika pada saat itu beliau datang ke Israel untuk berdialog bersama orang Yahudi di sana dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian serta kemanusiaan yang sangat dalam.

Baca Juga:  Pentingnya Ketahanan Pangan dalam Perspektif Islam

Kepemimpinan Gus Yahya dan Kembalinya Kepada Khittah NU?

Jawabannya, sangat mungkin terjadi. Kita paham bahwa dinamika politik pada Pemilu, khususnya Pilpres dua tahun lalu dan sebelumnya, masih membawa luka dan trauma bagi sebagian besar kalangan Nahdliyyin. Bagaimana NU yang seharusnya netral (netral dalam hal ini harusnya secara resmi tidak berpihak, bukannya apatis) terhadap pilihan politik, justru banyak digunakan sebagai kendaraan politik para politisi, yang berkali-kali justru secara tak langsung mencederai martabat NU sendiri.

Misalnya, kita tahu bagaimana apresiasi PBNU kepada mantan Ketua DPR RI Setya Novanto kala itu, yang di kemudian hari setelahnya ia dibekuk Polisi karena tersandung kasus korupsi triliunan Rupiah. Memang tak ada kaitannya korupsi itu dengan NU, korupsi adalah murni soal bagaimana moralitas para pejabat (dalam konteks ini, Setya Novanto) dalam menggunakan jabatannya dan mengelola kepercayaan publik terhadapnya. Tapi secara tak langsung, tentu hal ini mengundang kekecewaan bagi sebagian besar kaum Nahdliyyin.

Kasus lain terkait Pemilu, mulai dari Pilkada DKI hingga Pilpres 2019, NU selalu diseret-seret terlibat ke dalamnya. Bahkan kita tahu salah satu Ulama NU, yakni K.H Ma’ruf Amin, didaulat menjadi Cawapres Joko Widodo pada Pilpres lalu. Hingga saat ini beliau resmi menjadi Wakil Presiden RI, ujaran kebencian dan provokasi yang mencatut nama NU terkait Pilpres lalu, terus saja bersebaran. Hal ini tentu membuat sebagian warga Nahdliyyin merasa tak nyaman, meskipun sebenarnya NU telah biasa mendapatkan fitnah dari kelompok seberang (kelompok takfiri).

Kita -dan saya sendiri- tentu sangat lelah menghadapi beragam polarisasi khususnya terkait dinamika perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Sejak awal, NU punya peran yang sangat strategis tentang bagaimana seharusnya keberadaan para Ulama dalam menyikapi polarisasi itu. Sayangnya, beberapa Kyai justru turut terjerumus pada polarisasi dan hingga saat ini beberapa masih belum mengentaskan diri darinya.

Baca Juga:  Memahami Hakikat Kafir (1) : Definisi dan Sebab Kekafiran Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah

Saya rasa, gagasan Gus Yahya beberapa waktu lalu yang menyebut bahwa pada kepimpinan beliau, tak akan ada calon Presiden dan Wakil Presiden RI dari PBNU, secara tegas dan jelas akan membawa NU kembali menuju khittoh-nya. Bahwa NU adalah organisasi masyarakat Islam Ahlussunah wal Jamaah yang bergerak di bidang sosial-keagamaan, bukan pada politik praktis.

Pilpres memang masih 3 tahun mendatang, tapi, beragam nama telah digadang-gadang diangkat menjadi sosok Pemimpin masa depan. Dalam hal ini, tentu NU harus pandai dan tegas dalam bersikap. NU secara organisasi harus berada sebagai pihak yang netral, sebagai pihak penengah, bukannya turut terjerumus pada polarisasi yang terjadi di masyarakat. Terlebih para Kyai NU yang sudah seharusnya membina masyarakat, tak elok jika mereka terlibat dalam polarisasi itu hingga berlarut-larut.

Kehadiran Gus Yahya sebagai Ketum PBNU membawa banyak doa dan harapan dari kaum Nahdliyyin. Selain soal ketegasan NU terhadap dunia perpolitikan, tentu kami akan menunggu gagasan-gagasan cemerlang PBNU tentang isu seputar lingkungan hidup, gender, ekonomi, dan yang lainnya.

Lagi-lagi, NU memang ditantang untuk selalu responsif terhadap dinamika terkini, karena NU punya peran yang sangat penting dan sangat strategis dalam hal-hal berkaitan dengan sosial-kebangsaan, terutama karena NU punya umat yang ‘miliaran’.

Selamat bertugas dan tetap mengakar rumput, Gus Yahya!

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”