surat al kafirun
surat al kafirun

Ayat-ayat Toleransi (1) : Surah Al-Kafirun, Prinsip Toleransi dalam Islam

Sikap intoleransi yang mengatasnamakan agama sebagai dalih kebolehan atas praktik tersebut semakin masif terdengar beberapa tahun terakhir. Konflik antar agama yang terjadi menimbulkan rasa curiga, cemas dan tidak saling percaya bagi tiap pemeluk agama. Anjuran saling menghormati, saling menyayangi dan menebarkan perdamaian antar umat beragama merupakan bagian dari ajaran Agama Islam, sedangkan dalam praktiknya dibutuhkan kajian yang komprehensif karena sikap toleran dalam penerapannya akan membuahkan keharmonisan serta ketenteraman bagi tiap pemeluk agama.

Dewasa kini, perbedaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari sunnatullah. Adapun toleransi yang masih menjadi kontroversi serta mendapat kritik dari beberapa kelompok dari aspek prinsip serta penerapannya baik dari kalangan latitudinarian (kebebasan beragama) dan tradisional. Perbedaan prinsip-prinsip toleransi secara eksplisit sudah terjawab oleh Al-Quran secara gamblang. Sehingga, umat Islam berupaya secara dinamis untuk mendalami rancangan toleransi yang diajarkan oleh Islam. Upaya ini bertujuan untuk menepis segala utopia yang ditujukan kepada Islam.

Islam menerangkan praktik dan anjuran bertoleransi antar umat beragama yang tertuang dalam Surah Al-Kafirun. Surah tersebut mengajarkan Umat Islam bagaimana cara bersikap dan tata cara berinteraksi sosial serta bertoleransi antar pemeluk agama. Surah Al-Kafirun melalui terjemahan secara harfiah telah mengandung signifikansi humanisme, keharmonisan, keselarasan kepada penganut agama lainnya. Hal ini membuktikan bahwasanya sikap toleransi dalam praktiknya bagi Islam bukanlah sesuatu yang asing lagi. Kajian mengenai toleransi sebagai sebuah praktik keagamaan merupakan saru kajian yang telah banyak dikaji. Maka dari itu penulis akan menjebarkan bagaimana petunjuk al-Qur’an mengenai toleransi yang benar sebagaimana di terangkan dalam surah al-Kafirun.

Toleransi dalam Islam

Toleransi (tasamukh) secara etimologi memiliki arti sebagai sikap membiarkan lapang dada. Adapun toleransi secara terminologi ialah sikap untuk membiarkan setiap individu untuk melakukan sesuatu hal sesuai kepentingannya. Jika dalam konteks keagamaan ialah memepersilahkan setiap individu yang beragama untuk menjalani setiap peribadatan dalam agama masing-masing dan tidak boleh adanya gangguan-gangguan dari luar.

Baca Juga:  Annisa Pohan Salah Kutip Ayat Alquran, Yuk Simak Maksud Ayat “Fitnah Itu Lebih Sadis dari Pembunuhan” Agar Tidak Gagal Paham!

Said Agil al-Munawwar mengklasifikasikan toleransi kepada dua jenis, yaitu toleransi statis dan toleransi dinamis. Pertama, tolernasi statis adalah toleransi yang mengalami stagnasi dan hanya sebatas teoritis saja. Kedua, toleransi dinamis yang aktif, adanya kerjasama antar umat beragama serta menjunjung tinggi akan kepentingan bersama. Dari dua klasifikasi yang telah dikemukakan bahwasanya toleransi tidak sebatas teoritis saja, melainkan membutuhkan kerja sama setiap individual yang beragama sehingga kebersamaan dan kerjasama merupakan sebuah keniscayaan.

Islam memberikan definisi toleransi melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi terdahulu, yaitu seperti seseorang yang membangun rumah lalu menyempurnakannya dan memperindahnya kecuali sebuah batu di bagian pojok rumah. Kemudian orang-orang yang mengelilingi dan mengagumi rumah tersebut, mereka bertanya, kenapa batu ini tidak diletakkan? Rasulullah SAW menjawab, “saya adalah batunya dan saya adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhori).

Hadis tersebut dapat dijadikan sebuah pondasi dalam membangun toleransi antar umat beragama yang menjadi kata kunci dalam hadis tersebut ialah bagaimana cara rasulullah mengibaratkan ajaran-ajaran agama oleh nabi-nabi terdahulu sebagai rumah yang sudah menjadi bangunan kokoh dan megah. Sedangkan ajaran-ajaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad bukanlah untuk merobohkan ajaran-ajaran terdahulu melainkan menjadi pelengkap dan penyempurna teradap ajaran-ajaran sebelumnya.sehingga intisari dari hadis diatas ialah Islam menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

Pembagian Toleransi dalam Al-Qur’an

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Yasir telah mengklasifikasi toleransi dalam Al-Quran menjadi 3, yaitu:

Pertama, Toleransi dalam keyakinan dan menjalankan ibadah, berdasarkan ayat al-Quran dalam Surat Ali-Imran:19, Al-Kafirun:1-6, An-Najm:23.

Kedua, Toleransi hidup berdampingan dengan agama lain, merujuk pada ayat al-Quran Surat Al-Baqoroh:256 Dan Al-Ghosiyyah:21-22.

Baca Juga:  Pandangan Quraish Shihab Terhadap Surah Maryam ayat 33 tentang Mengucapkan “Selamat Natal”

Ketiga, Toleransi dalam hubungan antar bermasyarakat, belandaskan ayat al-Quran Surat Al-Maidah:2 Dan Al-Mumtahanah:8-9.

Berdasarkan penelitian di atas dapat ditemukan sebuah fakta jika Islam telah mengajarkan toleransi kepada tiap pemeluknya, bahkan telah dipraktikkan secara langsung oleh Nabi saw., melalui wahyu al-Quran sebagai penegasan dalam penerapannya di kehidupan bermasyarakat.

Tafsir Surat Al-Kafirun : Prinsip Toleransi dalam Islam

Dalam beberap kitab tafsir, surat al-Kafirun merupakan sebuah penegasan mengenai akidah ajaran Islam. Ahmad Hasan menegaskan bahwasanya surat Al-Kafirun berisikan penjelasan tentang prinsip tidak adanya toleransi dalam hal keimanan dan ibadah kepada Allah. Berkenaan mengenai dimana surat ini diturunkan adanya perdebatan, di dalam Tafsir Fathul Qadir surat ini diturunkan di Mekah menurut Ibnu Mas’ud, Al Hasan, Ikrimah, dan diturunkan di Madinah menurut Qatadah dan Adh-Dhahhak. Sedangkan menurut Buya Hamka di dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya surat ini tergolong surat makiyyah karena tujuan dalam ayat ini ialah kaum musrikin, yang kafir, yang artinya tidak menerima seruan dari Nabi kepada mereka.

Berkenaan dengan asbab nuzul surat ini sebagaimana yang dicantumkan oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya, bahawaasnya ada beberapa kaum musyrikin dari Mekkah seperti al-Walid Ibn al-Mughirah, Aswad Ibn Abdul Muthalib, Umayah Ibn Khalaf, mendatangi nabi untuk berengosiasi perihal kepercayaan. Mereka mengusulkan agar Nabi Muhammad beserta pengikutnya menyembah apa yang mereka sembah begitu pula sebaliknya. Dialog ini ditolak oleh Rasul, karena bagi Rasul ini merupakan sesuatu yang tidak logis untuk menyatukan agama-agama, karena setiap agama memiliki ajaran pokok yang berbeda-beda.

Sedangkan di dalam tafsir Thabari bahwasanya surat ini turun ketika perwakilan dari Quraisy Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-Ash bin Wa’il, Al-Aswad bin Al-Muththalib dan Umalyah bin Khalaf berjumpa dengan Nabi saw., lalu mereka berkata, “Hai Muhammad, mari, kami akan menyembah apa yang engkau sembah, dan engkau juga menyembah apa yang kami sembah, kami akan menyertakamu dalam semua urusan kami. Jika apa yang engkau bawa itu lebih baik daripada apa yang ada pada kami, maka kami telah turut serta di dalamnya dan mengarnbil bagian kami darinya. Begitu juga bila apa yang pada kami lebih baik dari pada yang ada padamu, berarti engkau telah turut serta dalam perkara kami dan mengambil bagianmu darinya.” Lalu Allah menurunkan surat ini.

Baca Juga:  4 Prinsip Toleransi dalam Islam

Hasbi as-Siddieqi memberikan komentarnya terhadap surat al-Kafirun bahwasanya ma’bud (tuhan yang disembah) oleh Muhammad dan kaum Muslimin tidaklah serupa atau tidak sama sebagaimana ma’bud atau sesembahan orang musyrik. Begitupula ritual peribadatan yang dilakukan oleh Muhammad saw., dan umatnya yang berlandaskan kepada keikhlasan dan ketulusan hati, serta tidak berniat sedikitpun untuk mempersekutukan Allah karena hal ini yang menjadi pembeda dari ibadah-ibadah orangorang musyrik.

Interpretasi Terhadap Toleransi

Pemaknaan mengenai toleransi haruslah dipahami secara benar, agar tidak terjadi kekeliruan yang berimplikasi terhadap keimanan atau akidah setiap pemeluk agama, maka dalam hal ini butuh kajian kritis terhadap hal tersebut. Dalam Islam tidak ada pelarangan kepada umatnya untuk menjaling relasi ataupun hubungan kepada nonmuslim, namun hanya sebatas urusan duniawi saja. Memperjuangkan akan pemahaman yang benar yang berkenaan tentang kerukunan hidup antar umat atau pemeluk agama lain di dalam masyarakat harus dilakukan tanpa mengorbankan akidah masing-masing pemeluk agama.

Standarisasi mengenai toleransi dalam Islam ialah ketika menghadapi segala tuduhan yang besifat merendahkan bahkan menghina, tidaklah perlu untuk menaggapinya, karena memaafkan menjadi prioritas yang utama, namun jika tetap ingin memberikan tanggapan, maka tanggapan tersebut tidaklah boleh melakukan tindakan yang berlebihan.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

taaruf

Ayat-Ayat Toleransi (3): Surah Al-Hujurat Ayat 13, Taaruf Memutus Intoleransi

Sikap toleran dalam kehidupan beragama akan terwujud dengan adanya kebebasan dalam masyarakat untuk memeluk agama …

ayat-ayat toleransi

Ayat-ayat toleransi (2): Surat Al-Baqarah Ayat 256, Pendidikan Toleransi dalam Islam

Para antropolog mengatakan bahwa masalah intoleransi di Indonesia bisa diredam dengan beberapa pendekatan. Pertama, dengan …