taaruf
tafsir ahkam

Ayat-Ayat Toleransi (3): Surah Al-Hujurat Ayat 13, Taaruf Memutus Intoleransi

Sikap toleran dalam kehidupan beragama akan terwujud dengan adanya kebebasan dalam masyarakat untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing.  Inklusifitas dalam beragama juga turut andil dalam persatuan manusia yang majemuk.  Khususnya di Indonesia, sebagaimana kita ketahui bahwa kebhinekaan dalam memandang agama Islam itu sendiri masih beragam.  Terbukti dengan adanya sejumlah organisasi-organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Islam.  Dari beragam pandangan tersebut terkadang dari sebagian  golongan  masih ada yang saling menjatuhkanbahkan saling mengkafirkan.

Hal tersebut membuktikan   adanya     krisis    toleransi antara penganut organisasi  masyarakat tersebut. Padahal sebagaimana kita ketahui dalam pasal 21 UU RI Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat menyatakan bahwa setiap organisasi masyarakat  mempunyai  kewajiban  untuk menjaga perdamaian dan menjaga keutuhan NKRI.

Menurut hemat penulis, bahwa adanya   krisis   toleransi   tersebut   terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai-nilai toleransi dalam beragama. Hal tersebut dikarenakan sejak dibangku sekolah, masyarakat Indonesia telah didoktrin dengan Pendidikan Islam yang normatif. Dimana secara umum, pendidikan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh pendidikan di masyarakat yang eksklusif.

Tafsir Qs.  Al-Hujurat/49: 13

Dalam Al-Qur’an sebenarnya gagasan tentang pendidikan Inklusif termaktub dalam beberapa  ayat.  Diantara salah satunya  adalah  Qs.  Al-Hujurat/49: 13.  Di mana dalam surah tersebut memaparkan   tentang   etika   atau   akhlak dalam berhubungan antar sesama manusia.     Berikut akan disampaiakan tentang surah al-Hujurat/49 ayat 13 beserta tafsirnya.

Dalam Al-Qur’an Surah al-Hujurat  ayat 13 juga  mengaskan  kepada semua  manusia  bahwa  mereka  diciptakan Allah   swt   secara   pluralistik,   berbangsa, bersuku  yang  bermacam-macam  dengan keberagaman   dan   kemajemukan   bukan untuk  saling berpecah  belah  atau  saling merasa   benar,   melainkan   untuk   saling mengenal, bersilaturohim, berkomunikasi, serta saling memberi dan menerima. Allah berfirman dalam surah al-Hujurat 13:

Baca Juga:  Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (5) : Hukum Membagi Tauhid Menjadi Tiga

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pada ayat di atas memaparkan bahwa al-Qur’an  sangat menghormati prinsip-prinsip kemajemukan yang merupakan realitas yang dikehendaki oleh Allah swt. Perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan  sehingga  harus  ditakuti, melainkan harus menjadi titik tolak untuk berkompetisi  dalam  kebaikan.  Allah swt menciptakan manusia secara pluralistik, berbangsa dan bersuku yang bermacam-macam dengan keaneragaman dan kemajemukan     manusia bukan untuk berpecah belah atau saling merasa benar, melainkan untuk saling mengenal, bersilaturohim, berkomunikasi, serta saling memberi dan menerima. Kata لِتَعَارَفُوا terambil  dari kata عَرَف yang artinya mengenal. Patron kata yang digunakan ayat   ini mengandung makna timbal balik, dengan demikian ia berarti saling mengenal.

Semakin kuat pengenalan  satu  pihak  kepada  selainnya, makan   semakin   terbuka   peluang   untuk saling  memberi  manfaat. Karena itu, ayat diatas menekankan perlunya saling mengenal.    Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain guna meningkatkan ketaqwaan   kepada   Allah swt yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.

Berdasarkan tafsir diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mencapai suatu kedamaian dan kesejahteraan dalam bermasyarakat perlu adanya sikap saling terbuka dimulai dengan  adanya   kesediaan   untuk   saling menganal antara satu sama lain dan saling menghargai perbedaan dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap golongan    tertentu.    Hal    tersebut    akan terlaksana dengan mengenalkan pendidikan Inklusif yang terbuka di mulai dari bangku sekolah.

Baca Juga:  Ayat-ayat Toleransi (5): Surat At-Taubah Ayat 71, Pendidikan Sosial Sebagai Jembatan Toleransi

Taaruf Sebagai Upaya Penanggulangan Intoleran  

Allah SWT, telah menciptakan manusia berbangsabangsa dan bersuku-suku, padahal pada awalnya manusia berasal dari sumber yang sama yaitu Adam dan Hawa. Dengan kekuasaan dan kehendaknya terlahir manusia yang berbeda ras dan warna kulit, dan sudah menjadi sunah-Nya bahwa segala yang diciptakannya tidak sia-sia. Perbedaan semua itu adalah agar semua manusia satu sama lain melakukan ta’aruf (saling mengenal). Ajaran ini merupakan ajaran universal.

Dengan demikian, ajaran ta’aruf akan menembus batas-batas ras, golongan, suku, jenis kelamin, bahkan termasuk agama. Di sisi lain konsep ta’aruf pada prinsipnya untuk menegakkan sikap saling menghargai dan menghormati di antara sesama. Sehingga dengan demikian, masing-masing anggota masyarakat akan senantiasa merasa aman dan nyaman, tanpa merasa takut diganggu pihak lain, walaupun ia berbeda identitas atau merupakan kelompok minoritas. Karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa bermasyarakat dan bantuan orang lain.

Dengan ta’aruf pula rasa saling menyayangi akan timbul di antara sesama. Untuk menciptakan masyarakat yang harmonis tidak cukup hanya dengan ta’aruf (saling mengenal), akan tetapi harus dibina dan dipupuk dengan subur melalui upaya yang dapat membuat hubungan di antara manusia dapat bertahan lama. Upaya ini dikenal dengan istilah silaturrahim. Silaturrahim artinya menyambungkan tali persaudaraan. Silaturrahim merupakan ajaran yang harus senantiasa dipupuk agar bisa tumbuh dengan subur. Selain itu, silaturrahim memiliki nilai yang luas dan mendalam, yang tidak hanya sekedar menyambungkan tali persaudaraan, lebih daripada itu, silaturrahim juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk mempermudah datangnya sebuah rezeki.

Rasulullah tidak menyukai pemutusan hubungan kekeluargaan atau pengabaian terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Doa orang yang memutus hubungan dengan keluarga tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis yang disampaikan oleh Jubair ibn Muth’im bahwa Rasulullah SAW, bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahim. (HR.Muslim).

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Hujurat 11-12; Akhlak untuk Tidak Mengolok-olok dan Mencela

Salah satu bentuk paling sempurna dari menjaga ikatan kekeluargaan adalah memperlakukan kerabat dekat dengan baik. Kerabat dekat tersebut jangan dilupakan sama sekali meskipun mereka benar-benar memutus tali persaudaraan. Seseorang wajib membantu kerabatnya selagi mereka tidak berbuat dosa-dosa besar. Meski demikian, ia tetap harus berupaya untuk memperbaiki dan menjaga mereka agar tidak mengalami degradasi moral. Pendidikan ta’aruf hendaknya diajarkan kepada anak didik sejak kecil, sehingga ketika sudah dewasa anak tersebut nakan menjadi pribadi yang peduli kepada sesama melalui upaya ta’aruf.

Namun kalau dicermati bahwa pada zaman sekarang ini tradisi ta’aruf sekaligus silaturrahim kurang mendapat perhatian terlebih lagi di kota-kota besar, kehidupan lebih bersifat individualistik. Setiap orang sudah disibukkan dengan urusannya masing-masing, sehingga ta’aruf dan jalinan silaturrahim semakin terabaikan. Oleh karena itu, seorang pendidik harus menanamkan kembali tentang pentingnya ta’aruf dan silaturrahim, sehingga diharapkan nantinya ketika sudah dewasa anak tersebut gemar melakukan ta’aruf dan bersilaturrahim sebagai wujud kepedulian sesama.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

ayat-ayat toleransi

Ayat-ayat toleransi (2): Surat Al-Baqarah Ayat 256, Pendidikan Toleransi dalam Islam

Para antropolog mengatakan bahwa masalah intoleransi di Indonesia bisa diredam dengan beberapa pendekatan. Pertama, dengan …

surat al kafirun

Ayat-ayat Toleransi (1) : Surah Al-Kafirun, Prinsip Toleransi dalam Islam

Sikap intoleransi yang mengatasnamakan agama sebagai dalih kebolehan atas praktik tersebut semakin masif terdengar beberapa …